Sumpah Pemuda: Persatuan yang Kian Diuji oleh Zaman

kumparan.com
11 jam lalu
Cover Berita

Persaudaraan yang dibangun bertahun-tahun bisa retak hanya karena perbedaan pilihan politik. Warga yang dahulu bergotong royong, saling membantu saat hajatan, dan duduk bersama di warung kopi bisa berubah menjadi dua kubu saat pemilihan kepala desa berlangsung. Grup WhatsApp yang semula menjadi tempat berbagi kabar berubah menjadi arena sindiran dan saling serang. Ada yang menyebarkan kabar buruk tentang pihak lain tanpa memeriksa kebenarannya, ada pula yang mulai menjaga jarak dengan tetangga karena perbedaan dukungan. Padahal, setelah pemilihan selesai, mereka tetap tinggal berdampingan, menggunakan fasilitas umum yang sama, dan membutuhkan kerja sama untuk membangun desa. Kontestasi politik mungkin berakhir dalam hitungan hari, tetapi kecurigaan dan luka sosial bisa bertahan jauh lebih lama.

Ironisnya, bangsa ini memiliki sejarah panjang tentang perjuangan menyatukan perbedaan. Setiap 28 Oktober, kita memperingati Sumpah Pemuda, sebuah ikrar yang lahir dari kesadaran bahwa cita-cita bersama tidak mungkin dicapai jika setiap kelompok hanya mementingkan dirinya sendiri. Pada 1928, para pemuda dari berbagai daerah dan latar belakang berkumpul dalam Kongres Pemuda Kedua di Batavia, kini Jakarta. Mereka menyatakan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, yaitu Indonesia, saat kemerdekaan masih menjadi cita-cita.

Hampir satu abad kemudian, Indonesia telah merdeka. Kita menikmati kebebasan berpendapat, kemajuan teknologi, dan kemudahan berkomunikasi yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi 1928. Namun, kemajuan tersebut tidak otomatis membuat kita semakin mampu menghargai perbedaan. Kita semakin mudah terhubung melalui media sosial, tetapi pada saat yang sama semakin mudah terjebak dalam pertengkaran. Informasi menyebar dalam hitungan detik, sementara pemeriksaan kebenarannya sering tertinggal. Kritik terhadap kebijakan dapat berubah menjadi serangan pribadi, sedangkan perbedaan pilihan politik terkadang dijadikan alasan untuk memutus hubungan sosial.

Persoalannya bukan sekadar teknologi, melainkan cara kita menggunakannya. Sebuah kabar yang belum terverifikasi dapat memancing kemarahan. Potongan video tanpa konteks bisa membentuk penilaian yang keliru. Unggahan yang menyerang kelompok tertentu dapat dibagikan berkali-kali karena dianggap membenarkan keyakinan sendiri. Dalam situasi seperti ini, orang sering lebih sibuk membela kelompoknya daripada mencari kebenaran. Akibatnya, ruang komunikasi yang seharusnya mempertemukan gagasan justru berisiko memperlebar jurang perbedaan.

Sumpah Pemuda mengingatkan kita bahwa persatuan bukanlah keadaan ketika semua orang memiliki pikiran dan pilihan yang sama. Para pemuda pada 1928 datang dari latar belakang yang beragam, tetapi mampu membangun kesadaran kebangsaan. Mereka tidak perlu menghapus identitas masing-masing untuk menemukan tujuan bersama. Semangat itulah yang seharusnya menjadi pegangan dalam menghadapi perbedaan pada masa kini. Kita boleh berbeda pendapat, mendukung calon pemimpin yang berlainan, atau tidak menyetujui kebijakan pemerintah. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan rasa hormat terhadap sesama warga negara.

Dalam kehidupan demokrasi, kritik justru diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan tanpa pengawasan. Masyarakat berhak mempertanyakan penggunaan anggaran, menuntut pelayanan publik yang lebih baik, dan meminta pertanggungjawaban pejabat. Menjaga persatuan bukan berarti membungkam suara yang berbeda. Sebaliknya, persatuan yang sehat memberi ruang bagi kritik sekaligus memastikan bahwa kritik disampaikan secara bertanggung jawab. Pendapat perlu didukung alasan yang jelas, sedangkan tuduhan harus disertai bukti. Fitnah dan informasi palsu tidak menjadi benar hanya karena disebarkan atas nama perjuangan atau kepentingan rakyat.

Nasionalisme juga tidak cukup diukur dari kemeriahan upacara, pengibaran bendera, atau penggunaan simbol kebangsaan. Semua itu memiliki makna, tetapi kecintaan terhadap tanah air harus terlihat dalam tindakan nyata. Apa arti persatuan jika korupsi merugikan kepentingan publik? Apa makna kebanggaan terhadap Indonesia jika masih ada anak yang kesulitan memperoleh pendidikan layak? Bagaimana kita berbicara tentang kemajuan bangsa jika sebagian masyarakat merasa suaranya tidak didengar ketika menghadapi persoalan?

Pertanyaan tersebut bukan bentuk pesimisme, melainkan ajakan untuk memaknai nasionalisme secara lebih mendalam. Mencintai Indonesia bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan. Justru karena mencintai negeri ini, kita perlu berani mengakui persoalan, menolak ketidakadilan, dan mendorong perbaikan. Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk melindungi kesalahan atau menghindari pertanggungjawaban. Kepentingan bersama harus menjadi dasar untuk memperbaiki keadaan, bukan dalih agar masyarakat berhenti bertanya.

Di tengah tantangan tersebut, generasi muda memiliki peran penting. Mereka hidup dalam lingkungan yang dipenuhi perubahan teknologi, persaingan ekonomi, tuntutan keterampilan, dan arus informasi yang semakin deras. Mereka bukan hanya pewaris sejarah, melainkan bagian dari generasi yang menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, ajakan untuk mencintai bangsa tidak cukup disampaikan melalui pidato patriotisme. Generasi muda juga membutuhkan akses pendidikan berkualitas, kesempatan kerja yang layak, ruang untuk mengembangkan gagasan, dan kesempatan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan publik.

Semangat Sumpah Pemuda dapat dimulai melalui tindakan yang sederhana, tetapi konsisten. Sebelum membagikan informasi, kita perlu memeriksa sumber dan kebenarannya. Saat berbeda pendapat, kita harus belajar menyampaikan argumen tanpa merendahkan orang lain. Di sekolah dan kampus, diskusi lintas kelompok perlu dibiasakan agar perbedaan tidak dianggap sebagai ancaman. Di lingkungan desa, pemuda dapat menggerakkan kegiatan sosial, membantu usaha lokal, dan menjaga hubungan antarwarga agar tidak rusak akibat persaingan politik. Pemerintah dan lembaga pendidikan juga perlu menyediakan ruang dialog, memperkuat literasi digital, serta membangun mekanisme penyelesaian konflik yang adil dan terbuka.

Bahasa Indonesia, salah satu unsur penting dalam ikrar Sumpah Pemuda, juga perlu terus dirawat sebagai jembatan komunikasi kebangsaan. Namun, merawat bahasa persatuan bukan berarti meninggalkan bahasa daerah. Bahasa, tradisi, dan kebudayaan lokal merupakan bagian dari kekayaan Indonesia. Kita tidak perlu menjadi seragam untuk menjadi satu bangsa. Yang perlu dibangun adalah kesadaran bahwa perbedaan identitas tidak mengurangi hak setiap orang untuk dihormati dan diperlakukan secara adil.

Dalam kehidupan demokrasi di tingkat lokal, misalnya, dukungan terhadap calon kepala desa boleh berbeda. Namun, setelah pemilihan berakhir, warga tetap memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga lingkungan, mengawasi pelayanan publik, dan membangun desa. Pemenang tidak seharusnya menganggap pihak yang berbeda pilihan sebagai musuh. Sebaliknya, pihak yang kalah tetap memiliki hak untuk menyampaikan kritik dan mengawasi jalannya pemerintahan. Demokrasi bukan hanya soal siapa yang memperoleh suara terbanyak, melainkan juga bagaimana masyarakat menjaga kehidupan bersama setelah persaingan selesai.

Persatuan memang tidak lahir dengan sendirinya. Ia membutuhkan kemauan untuk mendengarkan, keberanian mengakui kesalahan, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok. Nilai-nilai tersebut tidak cukup disampaikan dalam pidato tahunan. Ia harus tumbuh melalui kebiasaan di rumah, sekolah, tempat kerja, ruang digital, dan lingkungan masyarakat. Tanpa praktik nyata, peringatan Sumpah Pemuda berisiko menjadi rutinitas seremonial yang meriah, tetapi kehilangan daya untuk mengubah perilaku.

Pada 1928, para pemuda menyatukan tekad saat kemerdekaan masih menjadi cita-cita. Kini, tugas kita bukan lagi sekadar memperjuangkan pengakuan sebagai bangsa merdeka, melainkan memastikan bahwa kemerdekaan memberi ruang bagi masyarakat untuk hidup bermartabat, memperoleh kesempatan yang adil, dan menyampaikan pendapat tanpa kehilangan hak untuk dihormati.

Jangan sampai kita begitu fasih mengucapkan Sumpah Pemuda, tetapi gagap mempraktikkan persatuan. Indonesia tidak hanya membutuhkan generasi muda yang hafal sejarah perjuangan bangsanya. Indonesia membutuhkan generasi yang mampu menjaga persaudaraan di tengah perbedaan, berani mengkritik tanpa memfitnah, serta bekerja bersama tanpa harus memiliki pilihan yang sama. Sebab, persatuan bukan sekadar ikrar yang diwariskan dari masa lalu, melainkan tanggung jawab yang harus dibuktikan setiap hari.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Biaya Sewa Properti Mencekik, Ribuan Warga Mengamuk Kepung Parlemen
• 2 jam lalu
0
thumb
KPK panggil ASN Disdik Langkat hingga kades pada kasus Syah Afandin
• 11 jam lalu
0
thumb
Detik-detik Mahasiswa dan Massa Bentrok dengan TNI di Bundaran HI, Teriakan Revolusi Pecah!
• 4 jam lalu
0
thumb
Polda Metro Utamakan Keselamatan Warga, Kawal Aksi Besok Secara Humanis
• 16 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Perkuat Peran Pemda Awasi Program MBG
• 2 jam lalu
0
Berhasil disimpan.