PT Pertamina (Persero) mendukung penguatan kolaborasi untuk mengoptimalkan aset hulu minyak dan gas bumi (migas), terutama meningkatkan potensi eksplorasi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), potensi sumber daya hulu migas Indonesia mencapai 2,6 miliar barel setara minyak (BBOE) dari kegiatan eksplorasi pada 2026.
Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas, Rikky Rahmat Firdaus, mencatat sebanyak 12 sumur berpotensi tinggi atau high impact diproyeksikan mencakup sekitar 80 persen dari target sumber daya sebelum pengeboran (pre-drill resource target).
Potensi sumber daya sumur-sumur tersebut mencapai sekitar 2,2 BBOE. Rikky mencatat, lima dari 12 sumur high impact tersebut dikelola oleh Pertamina melalui sejumlah entitasnya.
“Indonesia menawarkan portofolio peluang yang beragam bagi investor dengan strategi dan tingkat toleransi risiko yang berbeda-beda,” ujar Rikky dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (28/10).
Kelima sumur tersebut meliputi Besar-1 yang dikelola Pertamina East Natuna (PEN), Banyu Geni-01 dan Wijaya Kusuma-1 yang dikelola Pertamina EP (PEP), Padang Pancuran-002 yang dikelola PEP, serta Tingkilan-1 yang dikelola Pertamina Hulu Energi Lepas Pantai Bunyu (PHE LPB).
Kegiatan eksplorasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengidentifikasi potensi sumber daya migas yang dapat mendukung keberlanjutan industri hulu dan ketahanan energi nasional. Namun, potensi sumber daya yang ditargetkan masih perlu dibuktikan melalui pengeboran dan evaluasi teknis lebih lanjut.
Ascope Secretary in Charge (ASIC) Henricus Herwin mengatakan, negara-negara ASEAN menghadapi tantangan yang serupa dalam mengelola aset hulu migas, salah satunya mempertahankan keekonomian lapangan yang telah berproduksi selama puluhan tahun.
“Kita berkumpul dalam forum ini untuk membantu kawasan kita [ASEAN] memaksimalkan potensi setiap aset hulu minyak dan gas bumi sepanjang siklus hidupnya,” ujar Henricus dalam pembukaan ASCOPE 51st Council Meeting di Sanur, Bali.
Menurut Henricus, optimalisasi aset hulu migas membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup pemeliharaan produktivitas lapangan eksisting, pengembangan peluang eksplorasi, serta penutupan fasilitas secara aman, bertanggung jawab, dan efisien dari sisi biaya.
Dia menilai, tantangan tersebut tidak harus dihadapi setiap negara secara terpisah. Melalui ASEAN Council on Petroleum (ASCOPE), para anggota dapat memperkuat kerja sama melalui pertukaran data, bukti, dan pengalaman untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih baik dalam pengelolaan aset masing-masing.
Salah satu rangkaian kegiatan ASCOPE adalah Exploration and Production Task Force (EPTF), yang mempertemukan pemangku kepentingan dari 11 negara ASEAN dalam pembahasan pelaksanaan, pengaturan, dan perencanaan kegiatan operasi hulu migas.
Di luar pengelolaan aset dan pengembangan sumber daya, penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan industri energi.
Kepala LEMIGAS Ikhsan Kiat menekankan ketahanan energi tidak cukup hanya ditopang oleh ketersediaan sumber daya alam dan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki kompetensi untuk mengelola dan mengembangkan potensi tersebut.
“Sumber daya terbesar suatu bangsa bukanlah yang berada di bawah tanah atau di dasar laut, melainkan yang ada di dalam diri manusianya. Inilah yang kita sebut sebagai human energy atau energi manusia,” ujar Ikhsan.






Komentar (0)