Buku Ajaran Bahasa Mandarin di Inggris Disusupi Propaganda Politik Partai Komunis Tiongkok

erabaru.net
13 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia.com Buku ajaran Chinese for A-Level yang diterbitkan oleh Cypress Books dari Tiongkok digunakan secara luas di Inggris. Namun, baru-baru ini media Inggris mengungkap bahwa buku tersebut banyak menggunakan istilah politik resmi Partai Komunis Tiongkok (PKT), merendahkan posisi Inggris dalam sistem keuangan global setelah Brexit, mendorong pendalaman kerja sama dengan Beijing, serta secara sepihak memuji-muji inisiatif “Belt and Road” dan Institut Konfusius. 

Menanggapi berbagai pertanyaan dan kritik dari publik, Pearson Group telah mengumumkan dimulainya proses peninjauan terhadap buku tersebut.

Buku ajar diduga menyisipkan propaganda politik PKT

Pada 20 Oktober, surat kabar Inggris The Daily Telegraph melaporkan bahwa buku ajar Chinese for A-Level yang diterbitkan oleh Cypress Books, sebuah perusahaan penerbitan asal Tiongkok, diduga menyisipkan materi propaganda yang sejalan dengan pandangan PKT untuk ditanamkan kepada para pelajar Inggris.

Buku ajar tersebut telah mendapat pengakuan dari Pearson Group, perusahaan pendidikan dan penilaian terbesar di Inggris, serta digunakan secara luas di berbagai sekolah menengah yang menyelenggarakan pelajaran bahasa Mandarin. Buku itu terutama membantu siswa Inggris mempersiapkan diri menghadapi ujian bahasa Mandarin tingkat lanjut atau A-Level.

Laporan tersebut memberikan contoh soal yang meminta siswa menerjemahkan sebuah teks sepanjang 124 karakter ke dalam bahasa Mandarin. Teks itu menyatakan bahwa “Brexit telah melemahkan pengaruh Inggris dalam sistem keuangan global, sehingga Inggris harus bekerja sama dengan Beijing untuk mencapai ‘kerja sama yang saling menguntungkan’ (win-win cooperation).”

Istilah “kerja sama yang saling menguntungkan” merupakan jargon politik yang sering digunakan PKT dan diperkenalkan oleh pemimpin partai, Xi Jinping, pada 2013. Istilah-istilah politik serupa juga banyak ditemukan dalam buku ajar tersebut.

Luke de Pulford, salah satu pendiri Inter-Parliamentary Alliance on China (IPAC), mengatakan, “Kutipan-kutipan dalam buku ini merupakan materi propaganda yang disetujui PKT, bahkan kata demi kata. Apa yang disebut Beijing sebagai ‘kerja sama yang saling menguntungkan’ sebenarnya berarti bahwa negara-partai di bawah kepemimpinan Xi Jinping ingin menang dua kali.”

Selain itu, buku ajar tersebut mempromosikan inisiatif “Belt and Road” dengan menyebutnya sebagai peluang bagi Inggris untuk “menempatkan kembali perannya dalam perdagangan global”.

Buku itu juga hanya menyoroti dampak positif kedatangan mahasiswa Tiongkok ke Inggris, tanpa menyinggung berbagai kasus campur tangan PKT terhadap kebebasan akademik di Inggris dalam beberapa tahun terakhir. Buku tersebut juga tidak menyebutkan peringatan dari MI5, badan intelijen keamanan domestik Inggris, mengenai infiltrasi mata-mata PKT di lingkungan kampus.

Buku ajar itu turut menggambarkan Institut Konfusius memainkan “peran penting”, tanpa membahas tuduhan bahwa lembaga tersebut menjadi kedok PKT untuk menyebarkan propaganda, mengawasi mahasiswa, serta menekan kritik terhadap Beijing.

Fakta bahwa buku persiapan ujian yang digunakan secara luas oleh pelajar remaja di Inggris ternyata memuat begitu banyak materi propaganda politik PKT telah menarik perhatian masyarakat dan kalangan politik Inggris.

Pakar: PKT berupaya mempengaruhi generasi muda Inggris

Jiang Pinchao, editor utama The June Fourth Poetry Collection dan penulis yang karyanya tersimpan dalam koleksi nasional Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, menilai bahwa kasus buku ajar bahasa Mandarin di Inggris ini mencerminkan perubahan besar dalam pendekatan PKT.

“Sekarang, PKT tidak lagi membatasi diri pada infiltrasi budaya, melainkan sedang melakukan invasi budaya. Setelah melakukan kolonisasi budaya di Hong Kong, sekarang mereka membawa pendekatan yang sama ke Inggris,” katanya. 

Mereka mengatakan betapa baiknya inisiatif Belt and Road, lalu mengatakan bahwa setelah Brexit, pasar Inggris menjadi lebih kecil dan Inggris perlu bekerja sama dengan pemerintah Tiongkok, dan sebagainya.

Pada dasarnya, semua ini bertujuan untuk menanamkan gagasan-gagasan tersebut ke dalam pikiran generasi muda Inggris di masa depan, mengindoktrinasi mereka, dan mencuci otak mereka. Karena itu, masyarakat internasional harus meningkatkan kewaspadaan.”

Cypress Books, penerbit buku tersebut, didirikan pada 1984 dan merupakan cabang Inggris dari China International Book Trading Corporation (CIBTC).

Informasi resmi menunjukkan bahwa CIBTC berada di bawah China International Communications Group, yang dikenal sebagai China Foreign Languages Publishing Administration atau Biro Penerbitan dan Distribusi Bahasa Asing Tiongkok. Lembaga tersebut berada langsung di bawah Komite Sentral PKT dan dikelola oleh Departemen Propaganda Pusat.

Shen Mingshi, peneliti di Institute for National Defense and Security Research Taiwan, menganalisis bahwa memasukkan konten politik ke dalam bahan ajar untuk mengindoktrinasi siswa sejak usia dini merupakan ciri khas negara komunis.

“Dalam upaya mengindoktrinasi orang asing dan menjalankan strategi front persatuan, mereka tentu harus memasukkan unsur-unsur tersebut ke dalam materi pembelajaran,” ujarnya. 

“Karena itu, mereka akan memanfaatkan latihan membaca, menerjemahkan, maupun mengerjakan soal ujian. Mereka tidak pernah melepaskan kesempatan untuk memasukkan konten politik, sebab melalui ujian, orang dapat mengingat dan menyerap materi tersebut secara lebih mendalam. Bagi Tiongkok, ini memang sudah menjadi tindakan yang secara konsisten mereka lakukan,” jelasnya.

Cypress Books telah beroperasi di Inggris selama puluhan tahun dan merupakan salah satu distributor terbesar buku-buku serta bahan ajar bahasa Mandarin asal Tiongkok di negara tersebut. Perusahaan itu juga secara rutin memberikan sponsor untuk seminar pengajaran bahasa Mandarin dan konferensi tahunan guru yang diselenggarakan oleh kalangan pendidikan arus utama di Inggris.

“Pengajaran bahasa Mandarin oleh Tiongkok tidak boleh begitu saja dipandang sebagai persoalan kebebasan berekspresi. Kita perlu terlebih dahulu mempertimbangkan kemungkinan adanya tujuan yang tidak baik atau kepentingan politik dalam propaganda internasional dan strategi front persatuan Tiongkok, termasuk upaya mengubah nilai-nilai orang asing atau masyarakat Inggris setempat,” Shen Mingshi menambahkan. 

Ini merupakan perang ideologi. Karena itu, berbagai negara perlu menghadapi persoalan ini melalui strategi budaya atau melalui persaingan di bidang ideologi.”

Menanggapi berbagai kritik dan pertanyaan dari publik, Pearson Group telah mengumumkan bahwa pihaknya memulai proses peninjauan terhadap buku ajar tersebut.

Shang Yan/Chang Chun/Gao Yu


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menlu Singapura Temui Presiden Prabowo di Hambalang
• 4 jam lalu
0
thumb
Jumlah Peserta JKN di Jakarta Capai 10,8 Juta per September 2026
• 18 jam lalu
0
thumb
Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat, Gus Ipul: Negara Hadir Memutus Rantai Kemiskinan
• 9 jam lalu
0
thumb
LOréal Indonesia Berdayakan Perempuan Lewat Pendidikan Kecantikan
• 8 jam lalu
0
thumb
Menlu Singapura Minta Bertemu Prabowo, Diterima Sore Ini
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.