HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) memperkuat komunikasi antara manajemen dan pekerja melalui Program SAIL (Speak, Assess, Integrate, Learn) Batch II yang dilaksanakan di Balikpapan, Samarinda, dan Bontang pada 14–16 Oktober 2026. Program ini menjadi upaya perusahaan mengidentifikasi kendala operasional, menyerap aspirasi pekerja, serta mendorong penyelesaian masalah melalui kolaborasi lintas fungsi.
Kegiatan yang berlangsung di Area Kalimantan 1 dan Area Kalimantan 2, Wilayah 4 PJM, tersebut juga merupakan bagian dari internalisasi budaya perusahaan Break The Silo (BTS).
Direktur Keuangan, SDM dan Manajemen Risiko PJM, Aris Subagyo, mengatakan SAIL menjadi sarana bagi manajemen untuk memahami secara langsung kondisi operasional sekaligus mendengarkan masukan dari pekerja di lapangan.
“Melalui SAIL, manajemen dapat berdialog langsung dengan pekerja untuk mengetahui kendala yang mereka hadapi. Masukan tersebut menjadi dasar dalam merumuskan langkah perbaikan yang melibatkan berbagai fungsi di perusahaan,” ujar Aris, Rabu, 28 Oktober 2026.
Program SAIL Batch II melibatkan manajemen kantor pusat, manajemen wilayah, serta pekerja dari berbagai fungsi operasional. Peserta di antaranya perwira pandu, anak buah kapal (ABK), operator radio, planner, hingga pekerja administrasi.
Kegiatan diawali dengan Management Walkthrough (MWT), yakni kunjungan manajemen ke sejumlah fasilitas operasional, seperti pilot station, kapal tunda, serta ruang Planning and Control (PnC).
Peninjauan tersebut dilakukan untuk melihat langsung kondisi kerja, penerapan prosedur keselamatan, kualitas pelayanan, serta potensi kendala dalam aktivitas operasional.
Hasil peninjauan kemudian dibahas melalui sesi diskusi dan penyampaian aspirasi. Forum ini memberikan kesempatan kepada pekerja untuk menyampaikan kendala, kebutuhan operasional, hingga usulan perbaikan secara langsung kepada manajemen.
Sejumlah persoalan yang menjadi perhatian meliputi kebutuhan tambahan tenaga pandu di beberapa unit, peningkatan kompetensi pekerja, pengembangan jenjang karier perwira pandu, serta peremajaan fasilitas pendukung pelayanan pemanduan.
Selain itu, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) turut menjadi fokus pembahasan, khususnya terkait pengaturan pola jaga dan risiko kelelahan (fatigue) pada pekerja operasional.
Penerapan Standard Operating Procedure (SOP), Work Instruction (WI), serta sosialisasi aplikasi RTG (Ready To Go) juga dibahas untuk meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur dan kesadaran keselamatan kerja.
Melalui sesi Insight Session from Board of Directors, manajemen memberikan arahan mengenai pengelolaan sumber daya manusia, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga kerja, pengembangan kompetensi, pola karier, dan dukungan fasilitas kerja.
Dorong Penyelesaian Masalah Lintas Fungsi
Pelaksanaan SAIL dilakukan melalui tiga tahapan utama, yakni Operational Assessment, Speaker (Suara Pekerja), dan Marine Collab Squad.
Tahap Operational Assessment bertujuan mengidentifikasi kondisi dan permasalahan operasional di lapangan. Selanjutnya, melalui Speaker, pekerja dan manajemen berdiskusi untuk menyampaikan masukan sekaligus merumuskan alternatif solusi.
Adapun Marine Collab Squad diarahkan untuk membangun kerja sama lintas fungsi dalam menindaklanjuti temuan dan menyusun langkah perbaikan.
Menurut Aris, tindak lanjut terhadap hasil kegiatan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program tersebut. Setiap persoalan yang ditemukan perlu dikoordinasikan dengan fungsi terkait agar penyelesaiannya tidak terhambat oleh batas kewenangan antarunit.
“SAIL bukan hanya forum untuk menyampaikan aspirasi. Kami ingin setiap masukan dapat ditelaah dan ditindaklanjuti secara terukur, sehingga hasilnya dapat dirasakan oleh pekerja dan berdampak pada peningkatan kualitas layanan operasional,” jelasnya.
Program ini sekaligus mendukung arah transformasi perusahaan yang sejalan dengan penguatan tata kelola, kualitas sumber daya manusia, dan efisiensi operasional yang didorong Danantara Indonesia.
Melalui SAIL Batch II, PJM terus memperkuat budaya kerja One PJM – One Pelindo dengan mendorong kolaborasi antara kantor pusat, wilayah, dan unit operasional.
Upaya tersebut diharapkan dapat mempercepat penyelesaian kendala di lapangan, meningkatkan keselamatan kerja, serta mendukung pelayanan jasa kepelabuhanan yang lebih aman dan andal. (edo)






Komentar (0)