Stok Minyak Sawit Malaysia Tembus 3,51 Juta Ton, Tangki Mulai Penuh

kumparan.com
15 jam lalu
Cover Berita

Persediaan minyak sawit Malaysia yang terus meningkat mulai membebani kapasitas penyimpanan, terutama di Sarawak, salah satu wilayah penghasil utama. Pemerintah berpacu mencari cara mengatasi kelebihan pasokan akibat panen melimpah.

Mengutip Bloomberg, sejumlah eksekutif industri dan pelaku perkebunan menyebut tangki penyimpanan di Sarawak, Pulau Kalimantan, hampir penuh. Penyebabnya panen yang lebih besar dari perkiraan dan lonjakan biaya angkutan yang memperlambat pengiriman.

Stok Rekor, Harga Tertekan

Persediaan minyak sawit Malaysia mencapai rekor 3,51 juta ton pada September. Produksi pada bulan yang sama juga mencetak rekor, bahkan sebelum puncak produksi musiman yang biasanya terjadi pada Oktober.

Kelebihan pasokan itu menekan harga. Kontrak berjangka minyak sawit acuan di Kuala Lumpur sempat turun hingga 2,2 persen pada Selasa (27/10), penurunan terdalam dalam lebih dari sebulan. Harganya juga bertahan di dekat level terendah 4 bulan yang tercatat pada awal Oktober.

Harga yang lebih murah memperlebar diskon minyak sawit terhadap minyak nabati pesaingnya dan membantu mendorong ekspor bulan ini. Meski begitu, stok yang melimpah masih membatasi peluang pemulihan harga secara berkelanjutan.

Sarawak menyumbang lebih dari seperlima produksi minyak sawit Malaysia dan mengalami lonjakan produksi terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Sebagian besar hasilnya dikirim lewat Pelabuhan Bintulu, yang menangani lebih dari 90 persen ekspor Sarawak, sehingga penumpukan pasokan terkonsentrasi di satu jalur dagang utama.

Pelaku perkebunan di negara bagian itu menyebut tingginya harga solar dan biaya angkutan menambah tekanan logistik. Menurut seorang pelaku perkebunan senior, sejumlah perusahaan telah mengoperasikan pabrik tambahan, sementara otoritas menjajaki penggunaan pelabuhan lain di Sarawak untuk mengurangi hambatan pengiriman.

Pertimbangkan Langkah Darurat

Tekanan penumpukan stok mendorong pemerintah mempertimbangkan penghapusan sementara pajak ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) untuk mendorong penjualan ke luar negeri.

Pejabat pemerintah dan pelaku industri bertemu pekan lalu untuk membahas langkah tersebut di tengah kekhawatiran tangki kehabisan ruang, kata Presiden sekaligus CEO Grup SD Guthrie Mohd Haris Mohd Arshad.

Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia Noraini Ahmad menyatakan, pemerintah sedang meninjau berbagai usulan industri.

“Pada tahap ini, usulan tersebut masih dalam pertimbangan dan memerlukan pembahasan lebih lanjut,” ujarnya.

Kekurangan ruang penyimpanan yang berkepanjangan dapat memaksa pabrik memperlambat pengolahan dan mengganggu aliran tandan buah segar dari perkebunan serta petani kecil, tepat saat panen mencapai puncak.

“Kami tidak ingin membahayakan rantai pasok. Hal terakhir yang kami inginkan adalah petani tidak dapat menjual hasil panen mereka,” kata Haris dalam wawancara pada Jumat (23/10).

Ia menambahkan, pemerintah perlu segera bertindak agar industri punya waktu merencanakan dan mempersiapkan langkah yang diperlukan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
KSPN Imbau Aksi Harus Tetap Kedepankan Ketertiban dan Kedamaian
• 19 jam lalu
0
thumb
Prabowo Dijadwalkan Bertemu Menlu Singapura Sore Hari Ini
• 13 jam lalu
0
thumb
Situasi Terkini Demo Jakarta: Sebagian Massa Tertahan di Jalan Sudirman
• 6 jam lalu
0
thumb
Respons Airlangga soal Rupiah Melemah di Rp 18.184 per Dolar AS
• 4 jam lalu
0
thumb
Hadir di Wisuda Iteb Bina Adinata Bulukumba, Yuliani Paris: Tidak Sia-sia Beasiswanya, Penerima Jadi Lulusan Terbaik
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.