Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria melaporkan sejumlah hasil riset kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (27/10). Laporan itu mencakup tepung singkong untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), riset vaksin malaria, pemanfaatan limbah sawit menjadi energi, dan penanganan sampah desa.
Tepung Singkong Siap Diuji CobaArif menyebut riset tepung berbahan dasar singkong untuk memadamkan karhutla sudah rampung.
“Sudah kita laporkan bahwa ini sudah siap untuk diuji di lapangan,” kata Arif.
Menurut dia, bahan pendukungnya, ammonium polyphosphate (APP), sudah didapat.
“Nah, APP-nya kita sudah dapatkan, yang sudah diuji on-site,” ujarnya.
Prabowo sebelumnya memerintahkan uji coba produksi massal tepung singkong untuk karhutla. Presiden juga meminta diuji kemungkinan penggunaannya lewat helikopter, seperti operasi water bombing. Gagasan tepung sebagai pemadam api berasal dari Listyo Sigit Prabowo, yang menyebut zat berbahan tepung bisa mencegah sekaligus memadamkan api, terutama pada tahap awal.
BRIN juga terlibat dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan tiga inovasi, yakni teknologi Dumikron, teknologi coSAT, dan dry ice. Arif menyebut kolaborasi dengan TNI AU, BNPB, BMKG, dan Kemenhub. Ia mengaku akan bertemu Menteri Perhubungan pada Rabu (28/10) untuk mempercepat proses.
Prediksi dan Deteksi Titik ApiBRIN juga memperkuat riset prediksi karhutla jangka menengah dan panjang. Untuk saat ini, fokusnya memprediksi kebakaran yang terjadi dalam tiga hingga enam bulan ke depan. BRIN juga mengembangkan riset untuk melacak arah sebaran api.
“Saat ini, BRIN bertugas melakukan deteksi titik api setiap hari,” kata Arif.
Hasilnya dibagikan ke sejumlah instansi, termasuk BNPB dan Kementerian Kehutanan. Menurut Arif, BRIN bisa memakai citra satelit untuk mendukung penanganan karhutla karena kemampuan BRIN dalam pemanfaatan satelit dan citra satelit.
Vaksin Malaria DikebutPrabowo meminta BRIN mempercepat riset vaksin malaria. Arif menyampaikan hal itu usai bertemu Presiden. Alasannya, sebagian parasit malaria di Indonesia belum punya vaksin.
BRIN saat ini mengembangkan enam kandidat vaksin malaria. Menurut Arif, parasit di Indonesia punya karakter berbeda. Salah satunya, Plasmodium vivax, belum punya vaksin komersial. Jika vaksin itu bisa dikembangkan dan diproduksi di dalam negeri, Arif menyebutnya sebagai kontribusi bagi dunia, karena malaria menjadi masalah di banyak negara.
Limbah Sawit Berpotensi Jadi Listrik 3,9 GWArif juga melaporkan temuan BRIN soal limbah cair pabrik kelapa sawit (POME). Indonesia disebut menghasilkan sekitar 229,9 juta [satuan menunggu konfirmasi] POME per tahun. Bersama tandan kosong sawit, limbah itu berpotensi menghasilkan listrik sekitar 3,9 gigawatt (GW).
“Potensi yang cukup besar untuk menghasilkan energi alternatif dari limbah," kata Arif.
POME juga bisa melepas metana, gas rumah kaca, sehingga pengolahannya penting. Biogas dari POME sudah dimanfaatkan, tetapi masih perlu inovasi untuk menyimpannya dalam tabung agar mengurangi pemakaian elpiji (LPG). BRIN memperkenalkan material Metal-Organic Framework (MOF) yang bisa menyimpan lebih banyak gas. Arif menyebut konversi biogas menjadi gas tabung bisa membantu memenuhi kebutuhan energi ke depan. Impor LPG Indonesia sekitar Rp 97 triliun per tahun.
Sampah DesaPrabowo meminta BRIN dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bekerja sama menangani sampah di desa. Menurut Arif, Presiden ingin masalah ini cepat diselesaikan. Dengan kolaborasi itu, perguruan tinggi bisa memakai teknologi BRIN.
Arif menyebut BRIN memiliki teknologi penanganan sampah skala rumah tangga, desa, kecamatan, hingga kota. Prabowo mengarahkan agar teknologi skala rumah tangga dan desa segera diterapkan. Arif mengaitkan upaya ini dengan gerakan ASRI yang diluncurkan Presiden.






Komentar (0)