Dua orang dapat berada dalam percakapan yang sama, tetapi meninggalkannya dengan cerita yang berbeda.
Yang satu merasa telah dipahami, sementara yang lain merasa disalahpahami. Yang satu menganggap semuanya baik-baik saja, sedangkan yang lain justru pulang membawa luka. Padahal, mereka mendengar kata-kata yang sama.
Kesalahpahaman sering dianggap sebagai kegagalan dalam menyampaikan pesan. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran menjadi salah satu penyebab utama mengapa komunikasi tidak selalu menghasilkan pemahaman yang sama. Tidak ada manusia yang menerima sebuah pesan tanpa membawa pengalaman hidup, emosi, dan nilai yang membentuk cara pandangnya.
Karena itu, memahami komunikasi tidak cukup hanya mempelajari bagaimana seseorang berbicara. Kita juga perlu memahami bagaimana setiap orang menafsirkan pesan yang diterimanya. Sebab, makna sebuah pesan tidak hanya ditentukan oleh apa yang diucapkan, tetapi juga oleh cara setiap orang memahaminya.
Pertanyaan inilah yang menjadi dasar pembahasan dalam tulisan ini: mengapa dua orang dapat mendengar pesan yang sama, tetapi memahaminya dengan cara yang berbeda?
Barangkali, bukan kata-kata yang paling sering membuat kita salah paham. Barangkali, cara kita memaknainya.
Setiap orang datang ke dalam sebuah percakapan dengan pengalaman, nilai, emosi, harapan, bahkan luka yang berbeda. Semua itu, sering kali tanpa disadari, membentuk cara seseorang menafsirkan setiap kata yang didengarnya.
Bayangkan seseorang berkata kepadamu, "Kamu berubah." Kalimat itu hanya terdiri dari dua kata, tetapi maknanya bisa sangat berbeda. Bagi sebagian orang, kalimat itu terdengar sebagai pengakuan bahwa dirinya bertumbuh. Bagi yang lain, kalimat yang sama justru terasa sebagai tanda bahwa dirinya tidak lagi diterima. Kata-katanya tetap sama, tetapi setiap orang dapat membangun makna yang berbeda.
Hal yang sama terjadi dalam percakapan sehari-hari. Balasan singkat dapat dimaknai sebagai tanda kemarahan, padahal lawan bicara mungkin hanya sedang kelelahan. Kritik dapat dipahami sebagai bentuk kepedulian oleh sebagian orang, tetapi dianggap sebagai serangan oleh yang lain. Sering kali, bukan pesan itu sendiri yang menentukan bagaimana kita bereaksi, melainkan makna yang kita berikan kepadanya.
Sebelum sebuah pesan dipahami, pesan itu terlebih dahulu melewati cara setiap orang memandang dirinya, orang lain, dan dunia di sekitarnya. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi ketika dua orang memberikan makna berbeda terhadap pesan yang sama?
Psikologi komunikasi menjelaskan bahwa proses tersebut berkaitan dengan persepsi. Persepsi bukan sekadar kemampuan melihat atau mendengar, tetapi proses ketika manusia memilih, menafsirkan, dan memberi makna terhadap informasi yang diterimanya. Karena itu, pesan yang sama dapat dipahami secara berbeda, sebab setiap orang memprosesnya melalui pengalaman, emosi, nilai, dan keyakinan yang telah membentuk cara pandangnya.
Hal tersebut sejalan dengan kajian kognisi sosial yang menjelaskan bahwa manusia tidak menerima informasi secara pasif. Fiske dan Taylor (2013) menjelaskan bahwa seseorang memahami lingkungan sosial melalui pengetahuan, pengalaman, dan keyakinan yang telah dimiliki sebelumnya. Artinya, perbedaan pemahaman tidak selalu muncul karena pesan yang disampaikan berbeda, tetapi karena setiap individu memiliki cara tersendiri dalam mengolah pesan tersebut.
Proses ini juga berkaitan dengan konsep atribusi, yaitu kecenderungan manusia mencari penyebab di balik perilaku atau ucapan orang lain. Kelley (1973) menjelaskan bahwa manusia dapat membangun kesimpulan mengenai penyebab suatu tindakan berdasarkan informasi yang tersedia. Ketika informasi yang diterima belum lengkap, seseorang sering kali mengisi bagian yang kosong menggunakan pengalaman, keyakinan, dan asumsi sebelumnya. Karena itu, balasan pesan yang singkat dapat dianggap sebagai tanda kemarahan, padahal lawan bicara mungkin hanya sedang sibuk atau kelelahan.
Mungkin yang perlu kita ubah bukan selalu cara berbicara, melainkan kesadaran bahwa setiap orang melihat dunia melalui "kacamata" yang berbeda. Memahami hal tersebut memang tidak akan menghilangkan kesalahpahaman sepenuhnya, tetapi dapat membuat kita lebih berhati-hati sebelum memberi makna terhadap ucapan dan tindakan orang lain.
Pada akhirnya, komunikasi yang baik bukan berarti selalu berhasil menghindari kesalahpahaman. Selama setiap manusia tumbuh dengan pengalaman, nilai, dan cara pandang yang berbeda, perbedaan pemahaman akan selalu menjadi bagian dari setiap percakapan.
Yang dapat kita lakukan bukan memaksa orang lain melihat dunia seperti yang kita lihat, melainkan menyadari bahwa cara kita memahami sebuah peristiwa bukanlah satu-satunya cara yang mungkin. Kesadaran tersebut tidak akan membuat semua percakapan berjalan sempurna, tetapi dapat membuat kita lebih berhati-hati dalam memahami ucapan dan tindakan orang lain.
Memahami komunikasi bukan hanya tentang memahami pesan yang disampaikan. Lebih dari itu, komunikasi mengajarkan bahwa di balik setiap kata, selalu ada pengalaman hidup yang ikut membentuk cara seseorang melihat dunia. Barangkali, itulah sebabnya memahami manusia selalu menjadi langkah pertama untuk memahami komunikasi.






Komentar (0)