REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-Apakah Benjamin Netanyahu masih memiliki harapan untuk membentuk kembali Timur Tengah Baru, ataukah impian itu mulai runtuh, terutama setelah perang Israel-Amerika melawan Iran?
Sejak 7 Oktober 2023, Netanyahu berulang kali mengumumkan ambisinya untuk membentuk Timur Tengah baru. Hampir dalam setiap kesempatan penting, ia selalu mengulang tujuan tersebut.
Baca Juga
Terungkap 3 Opsi Terkait Iran yang Dibicarakan Trump dan Netanyahu Secara Tertutup
Mengapa Menara Masjid Membuat Eropa Gelisah? Ini Analisis Jurnalis Senior Mesir
3 Analisis Ungkap Bagaimana Perang dengan Iran Ubah Perhitungan Kekuatan Amerika Serikat?
Dua hari setelah dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa, Netanyahu menyatakan keinginannya mengubah wajah Timur Tengah.
Narasi itu terus diulang setelah terbunuhnya Sekretaris Jenderal Hizbullah Hassan Nasrallah, jatuhnya rezim Bashar al-Assad, perang melawan Iran pada Juni 2025, peringatan dua tahun Thufan Al-Aqsa, hingga perang keduanya terhadap Iran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Sebenarnya, pola pikir ekspansionis Zionis dan impian membentuk ulang kawasan bukanlah hal baru.
Namun di tangan Netanyahu, gagasan itu tampil dalam bentuk yang lebih mengandalkan kekuatan militer (hard power) dan pendekatan koersif, melampaui strategi Zionis tradisional yang lebih bertahap melalui pendekatan "menggigit lalu menelan" (incremental expansion).
Karena itu, Netanyahu tidak terlalu mengagumi visi mantan Perdana Menteri Israel, Shimon Peres, tentang Timur Tengah baru.
Meski sama-sama berorientasi pada dominasi dan pengaruh, visi Peres masih memberi ruang bagi kekuatan lunak (soft power), diplomasi, dan normalisasi hubungan.
Peres membayangkan tiga lingkaran pengaruh:
1. Wilayah geografis-politik yang berada di bawah kendali langsung Israel dengan mayoritas Yahudi sejauh mungkin
2. Lingkup keamanan yang membentang hingga Teluk Arab, Laut Arab, dan Bab al-Mandab sebagai ruang vital pengaruh Israel
3. Lingkup ekonomi yang jauh lebih luas daripada kedua wilayah sebelumnya.
Komentar (0)