KOMPAS.com – Bagi sebagian besar orang, kehilangan penglihatan mungkin dianggap sebagai kegelapan tanpa batas. Namun, tidak dengan Inayatul Kamilah (47).
Baginya, kondisi disabilitas netra yang dibawa sejak lahir justru dipandang dari sudut berbeda, yakni bentuk kasih sayang dan anugerah khusus dari Sang Pencipta.
"Saya semangat terus untuk belajar. Saya tidak merasakan ini sebagai keterbatasan sama sekali, ini adalah anugerah dari Allah SWT," ungkapnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (36/7/2026).
Inayatul merupakan salah satu dari sekitar 3,7 hingga 4 juta penyandang disabilitas netra di Indonesia.
Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia (ITMI) mencatat, lebih dari 2 juta di antaranya merupakan muslim yang merindukan lantunan ayat suci Al Quran.
Baca juga: Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi
Meski memiliki kerinduan mendalam untuk melantunkan dan mendalami ayat-ayat suci, rintangan teknis dan ekonomi kerap membayangi langkah mereka.
Pasalnya, satu set Al Quran Braille umumnya terdiri dari 30 jilid buku tebal berkertas khusus bertitik timbul (embossed) dengan harga berkisar antara Rp 1,5–2,5 juta.
Oleh karenanya, hal itu menjadi tantangan tersendiri bagi mayoritas penyandang disabilitas netra untuk memilikinya secara mandiri.
"Tantangan utama bagi teman-teman netra adalah harga Al-Quran Braille yang mahal. Selain itu, proses belajarnya juga membutuhkan ketelatenan tinggi. Selama ini banyak yang mengaksesnya melalui lembaga seperti ITMI," tutur Inayatul.
Masa kecil Inayatul diwarnai dukungan penuh dari kedua orangtuanya. Saat menimba ilmu di pesantren, ia mempelajari Al Quran sepenuhnya melalui metode hafalan (sima'i).
Baca juga: Siapkan Relawan Hadapi Bencana, DMC Dompet Dhuafa Gelar Pelatihan di Kalteng
Pascamenikah pada 2008, perempuan asal Garut itu memutuskan merantau dan menetap di Cipinang, Jakarta Timur. Di sinilah ia mulai mengenal Al Quran Braille.
Tuntutan untuk mahir membaca huruf timbul semakin menguat sejak 2019. Saat itu, Inayatul tergerak untuk mengajarkan Al Quran kepada sesama rekan tunanetra.
Luar biasanya, karena sudah memiliki dasar hafalan Al Quran awas, Inayatul hanya membutuhkan waktu satu hari untuk menguasai sistem bacaan Braille.
Bantuan dari Dompet DhuafaMenjawab tantangan tersebut, Dompet Dhuafa bersinergi dengan Kerohanian Islam (Rois) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyalurkan bantuan Al Quran Braille, Al Quran Isyarat, serta santunan apresiasi dan paket sembako bagi penerima manfaat.
Penyerahan bantuan secara simbolis itu berlangsung dalam gelaran kajian rutin "Senin Healing Kajian" atau disimgkat Selingan di Masjid At-Ta’awun, Gedung ROIS OJK, pada Senin (27/07/2026).






Komentar (0)