Ingatkan Akademisi soal Publikasi Ilmiah, Waka MPR: Jangan Kejar Tayang dan Asal Masuk

jpnn.com
5 jam lalu
Cover Berita

jpnn.com, KUDUS - Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat mengingatkan para akademisi jangan terjebak dalam budaya 'kejar tayang' pada penulisan publikasi ilmiah yang justru berpotensi merusak integritas riset dan martabat ilmuwan Indonesia.

Dia mengungkapkan publikasi ilmiah saat ini sudah seperti komoditas.

BACA JUGA: Publikasi Ilmiah Jadi Tolok Ukur Produktivitas Kampus, UPH Berkolaborasi dengan IDSCIPUB

"Kita tidak bisa menutup mata, memasukkan hasil penelitian ke jurnal internasional merupakan keharusan administratif. Tetapi kita harus pastikan jurnal yang diterbitkan bukan sekadar mengejar tenggat dan asal masuk. Ini yang harus kita benahi bersama," kata Lestari Moerdijat dalam keterangannya, Jumat (31/7).

Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Publikasi Jurnal Internasional yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (31/7).

BACA JUGA: Publikasi Ilmiah Indonesia Terbanyak di ASEAN, Menristek Bambang Belum Puas

Pada acara yang diikuti 109 ilmuwan dan dosen dari berbagai universitas di Jawa Tengah itu, Anggota Komisi X DPR itu mengungkapkan keprihatinannya terhadap ekosistem publikasi global yang timpang antara negara maju dan berkembang.

"Ketimpangan itu antara lain berupa terbatasnya akses ke jurnal bereputasi, kemampuan biaya dan komunikasi, hingga kurang didengarnya suara Indonesia dalam wacana global. Hal itu merupakan tantangan yang nyata," kata Rerie, sapaan akrab Lestari Moerdijat.

BACA JUGA: Publikasi Ilmiah Internasional, Menristekdikti: Alhamdulillah, Indonesia Peringkat Pertama di ASEAN

Terlebih, lanjut Rerie, dengan kehadiran kecerdasan buatan generatif yang berpotensi disalahgunakan dalam penulisan dan penelaahan karya ilmiah.

"Pertanyaannya, apakah kita sudah siap bersaing secara bermartabat di dalamnya," ujar Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu.

Menurut Rerie, saat ini, bertambahnya jumlah publikasi ilmiah tidak selalu berbanding lurus dengan pertumbuhan mutu ilmu pengetahuan.

"Karena sebagian besar publikasi ilmiah hanya untuk memenuhi persyaratan administratif, bukan menjadi media yang menantang keilmuan itu sendiri," jelasnya.

Rerie mengingatkan mengabaikan integritas dalam menulis publikasi ilmiah dapat menghapus capaian yang dibangun bertahun-tahun.

"Penggunaan etika harus hadir dari awal, bukan setelah masalah terjadi," tegasnya.

Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu mengajak para peserta menjadikan Bimtek sebagai titik memulai kebiasaan baru.

Dia menjelaskan publikasi yang baik lahir dari proses yang dirawat, bukan dikejar mendadak menjelang tenggat kenaikan jabatan.

"Bimbingan teknis BRIN adalah bentuk kehadiran negara untuk mendampingi, bukan mengatur. Mari bergandengan tangan, memperluas kapasitas, bukan menyerahkan publikasi ilmiah kita kepada kepentingan instan," pungkas Rerie. (mrk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pertumbuhan Publikasi Ilmiah Indonesia 15 Kali Rerata Dunia


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pramono Yakin Warga Terima Tarif Rp 15 Ribu TransJ Blok M-Bandara Soetta
• 7 jam lalu
0
thumb
Naura Ayu Akan Gelar Musikal "Cerita Penuh Cahaya Live Showcase"
• 10 jam lalu
0
thumb
Berenang Bareng Teman, ABG Tenggelam di Kali Ciliwung Jaksel
• 2 jam lalu
0
thumb
Wali Kota Pekanbaru Ungkap Pesan SBY-AHY: Kepala Daerah Demokrat Diminta Dukung Pemerintahan Prabowo
• 14 jam lalu
0
thumb
Jadwal SIM Keliling di Bandung Hari Ini 31 Juli 2026, Cek Lokasi dan Persyaratannya
• 17 jam lalu
0
Berhasil disimpan.