Perjuangan Ega, Buruh Panggul Surabaya yang Berhasil Masuk Biologi UI

kompas.com
5 jam lalu
Cover Berita

KOMPAS.com – Malam belum sepenuhnya usai di Pasar Keputran, Surabaya. Di saat remaja seusianya masih tertidur pulas, Muhammad Ega Arya Rizky (19) sudah membelah dinginnya angin subuh. 

Sebagai anak kedua yang menjadi tulang punggung keluarga, Ega telah terbiasa memikul beban sejak usia muda.

Setiap dini hari, ia membantu ibunya berbelanja bahan dagangan, mengantar pesanan bandeng presto, hingga bekerja sebagai buruh panggul di jasa ekspedisi demi membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Sejak sang ayah meninggal dunia pada 2019 dan ibunya, Nur Hidayah (47), mengalami keterbatasan fisik pascaoperasi, Ega mengambil alih peran sebagai penopang keluarga.

Tak jarang, ia terlambat tiba di sekolah karena harus menyelesaikan pekerjaan subuhnya demi membantu membayar token listrik, tagihan PDAM, hingga biaya pemakaman sang ayah.

Akibatnya, siswa yang bercita-cita menjadi peneliti di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu beberapa kali mendapat teguran karena terlambat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Baca juga: Dorong Akselerasi Hijau, Dompet Dhuafa Luncurkan Kebun Pangan Madaya di PTGL Sukabumi

Meski demikian, Ega tidak menyerah. Ia terus membuktikan kemampuannya melalui berbagai prestasi, salah satunya di Olimpiade Generasi Emas Indonesia cabang Biologi. Selain itu, ia juga aktif mengembangkan bakat di bidang musik.

Nur Hidayah mengatakan, Ega telah menjadi sosok yang menggantikan peran ayah sebagai tulang punggung keluarga.

"Sebelum berangkat sekolah, subuh-subuh dia mengantar pesanan dagangan dulu," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Jumat (31/7/2026).

Ega mengaku, kondisi ibunya yang sudah tidak sekuat dulu menjadi alasan utama dirinya terus berjuang.

“Kalau melihat ibu bangun pagi-pagi untuk menggoreng ikan dan jualan, hati rasanya trenyuh. Dari situ muncul motivasi: aku harus bisa, aku harus sukses untuk menaikkan derajat orang tua," ungkapnya.

Baca juga: Sinergi Dompet Dhuafa dan CSG Foundation Wujudkan Warung Jaud Bebas BABS

Beasiswa yang mengubah cara pandang

Perjalanan Ega semakin kuat setelah bergabung dalam program beasiswa Youth Ekselensia Scholarship (YES) dari Dompet Dhuafa.

Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan pendidikan, tetapi juga pembinaan karakter melalui Quranic Mentorship, Leadership Booster, dan Campus Prepared.

Selama 12 bulan, penerima manfaat YES memperoleh uang saku per bulan, pendampingan belajar, buku persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK), buku self development, kegiatan focus group discussion (FGD), book sharing, sesi bersama tokoh dan alumni YES, pembinaan hafalan Juz 30, hafalan 24 hadis pilihan, serta kegiatan kerelawanan.

Setelah dinyatakan lolos ke perguruan tinggi negeri (PTN), Dompet Dhuafa juga mendampingi penerima manfaat agar dapat memperoleh beasiswa selama menempuh pendidikan tinggi.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Baca juga: Bukan Sekadar Ngopi, Coffee Shop Madaya Surabaya Hadir Membawa Misi Sosial Dompet Dhuafa 


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Franco Baresi Legenda AC Milan Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun
• 12 jam lalu
0
thumb
Volume Kargo Turun, Hasnur (HAIS) Catat Laba Rp18,8 Miliar di  Semester I
• 8 jam lalu
0
thumb
Uni Emirat Arab Tinjau Progres Pembangunan Pengolahan Sampah 3R di Banyuwangi
• 12 jam lalu
0
thumb
Usai Putusan MK soal MBG, Ini Respons Perhimpunan Pendidik dan Guru: Kami Ada Kecewanya Juga
• 14 jam lalu
0
thumb
3 Shio yang Kisah Cintanya Berubah pada 1 Agustus 2026, Siapa Saja?
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.