BP Bakal Lepas Aset Migas di Laut Utara Inggris Usai 60 Tahun Beroperasi

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Perusahaan migas asal Inggris, British Petroleum (BP), berencana menjual aset minyak dan gas (migas) usai beroperasi selama 60 tahun di Laut Utara Inggris. Penjualan aset ini bagian dari perombakan besar portofolio bisnis yang dipimpin oleh Chief Executive Officer (CEO) baru, Meg O'Neill dan bertujuan untuk meningkatkan profitabilitas perusahaan.

Dikutip dari Reuters, Jumat (31/7), keputusan tersebut diumumkan sehari setelah Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, menyatakan pemerintah akan mengambil pendekatan yang "pragmatis" terhadap pengembangan dan pemanfaatan sumber daya minyak dan gas di Laut Utara.

Pernyataan itu muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut kawasan tersebut akan kembali dibuka untuk pengembangan sektor migas.

Dalam keterangannya, O'Neill menegaskan Laut Utara masih menjadi bagian penting dari sistem energi Inggris. Namun, seiring BP mengarahkan investasi ke proyek-proyek yang lebih menguntungkan.

"Kami (BP) percaya bisnis Laut Utara akan berada pada posisi yang lebih baik sebagai bagian dari perusahaan lain, seiring kami memfokuskan portofolio dan mengalokasikan modal ke peluang dengan nilai tertinggi," ujar O'Neill dikutip dari Reuters, Jumat (31/7).

Selama beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan energi besar seperti ExxonMobil, Chevron, ConocoPhillips, Shell, TotalEnergies, dan Eni juga telah mengurangi, menjual, atau menggabungkan aset mereka di Laut Utara. Langkah tersebut disebabkan oleh menurunnya produksi di kawasan Laut Utara serta munculnya peluang investasi yang lebih menguntungkan di wilayah lain.

BP sendiri telah beroperasi di Laut Utara selama lebih dari 60 tahun dan mengelola lima pusat produksi utama, termasuk ladang minyak Clair yang merupakan ladang terbesar di landas kontinen Inggris.

BP, yang saat ini tengah memperluas bisnisnya di sejumlah wilayah seperti Amerika Serikat dan Brasil, menghasilkan sekitar 5 persen dari total produksi minyak dan gasnya dari aset di Laut Utara Inggris pada 2025. Produksi tersebut mencapai sekitar 117.000 barel per hari, dari total produksi global BP yang mencapai 2,3 juta barel setara minyak (barrels of oil equivalent/boe) per hari.

Sejak itu, BP telah menyepakati penjualan kepemilikannya di ladang gas Culzean. Langkah tersebut akan memangkas produksi perusahaan di Inggris sekitar 25.000 barel setara minyak per hari (boed).

Meski melepas bisnis hulu di Laut Utara, BP memastikan tetap mempertahankan bisnis distribusi bahan bakar penerbangan di Inggris, jaringan SPBU, aktivitas perdagangan energi, serta kantor pusatnya di London.

Saham BP tercatat naik sekitar 0,4 persen pada perdagangan Kamis pagi waktu setempat, sedikit di bawah kenaikan indeks saham perusahaan energi Eropa yang menguat sekitar 0,7 persen.

Ketidakpastian Kebijakan Jadi Sorotan

Pelaku industri menilai keputusan BP menjual aset utamanya itu dipengaruhi oleh kebijakan sektor minyak dan gas Inggris yang tidak konsisten dalam beberapa tahun terakhir.

Berbeda dengan Norwegia yang memiliki kebijakan fiskal lebih stabil, Inggris beberapa kali mengubah rezim perpajakan sektor energi. Perusahaan migas menilai tingginya pajak dan ketidakpastian kebijakan membuat investasi di Laut Utara menjadi kurang menarik.

Kepala Aberdeen & Grampian Chamber of Commerce, Russell Borthwick, mengatakan keputusan BP menjadi bukti bahwa kepercayaan investor terhadap sektor minyak dan gas Inggris terus menurun akibat kebijakan pemerintah yang dinilai tidak konsisten.

“Keputusan ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap industri minyak dan gas di Laut Utara telah terguncang akibat ketidakpastian kebijakan dan beban pajak yang tinggi," ujar Russell Borthwick.

Sementara itu, Partai Buruh telah melonggarkan janji kampanyenya untuk menghentikan pemberian izin eksplorasi minyak dan gas baru. Menteri Energi Inggris, Miatta Fahnbulleh juga menyatakan pemerintah terus berkomunikasi dengan BP terkait rencana penjualan aset tersebut.

BP menyatakan bisnisnya di Laut Utara mempekerjakan sekitar 1.100 karyawan, dari total sekitar 14.000 pekerja yang dimiliki perusahaan di Inggris.

Produksi Migas Inggris Terus Menurun

Produksi minyak dan gas di Laut Utara terus mengalami penurunan tajam. Secara keseluruhan, kawasan tersebut hanya memproduksi sekitar 1 juta barel minyak per hari, jauh di bawah level sekitar 4,5 juta boed pada awal tahun 2000-an.

Di bawah kepemimpinan Meg O'Neill yang mulai menjabat pada April 2026, BP juga mempercepat upaya menekan utang dan kembali memfokuskan bisnis pada minyak dan gas setelah mengurangi investasi di sektor energi terbarukan.

Perusahaan tersebut juga telah merombak struktur organisasinya dari tiga menjadi dua segmen bisnis, yakni upstream (hulu) dan downstream (hilir). Selain itu, berdasarkan memo internal yang diperoleh Reuters, BP juga berencana mengurangi sekitar 700 tenaga kerjanya sebagai bagian dari upaya efisiensi perusahaan.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BGN Laporkan 414 Dapur MBG ke Kejaksaan, Selidiki Unsur Dugaan Korupsi
• 6 jam lalu
0
thumb
Menteri ATR/BPN: Legalitas Tanah Jadi Kunci Percepatan Program 3 Juta Rumah
• 15 jam lalu
0
thumb
Industri Asuransi Masih Tunggu Aturan Pajak dan New RBC usai PSAK 117
• 6 jam lalu
0
thumb
Mendagri Lapor Prabowo soal Marak Kepala Daerah Terjaring OTT KPK
• 20 jam lalu
0
thumb
3 Kalimat Orang Tua yang Bisa Menyinggung Perasaan Anak Usia Dewasa
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.