Ruang Bernapas Baru di Jantung Jakarta

katadata.co.id
11 jam lalu
Cover Berita

Setelah menghadirkan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di Blok M, masyarakat Jakarta akan kembali menikmati ruang bernapas baru di jantung Ibu Kota. 

Pedestrian Deck Dukuh Atas merupakan bagian dari pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) yang diusung PT MRT Jakarta (Perseroda).  Infrastruktur ini akan menghubungkan empat kuadran utama di kawasan Dukuh Atas.

Kawasan tersebut meliputi Stasiun KRL BNI City dan Stasiun MRT Dukuh Atas BNI di sisi utara (Q1), kawasan Stasiun Sudirman dan Stasiun LRT Dukuh Atas (Q2), Kompleks Wisma 46 BNI (Q3), hingga kawasan Halte TransJakarta Galunggung dan Kompleks Landmark (Q4).

Selama ini, kawasan Dukuh Atas masih terfragmentasi oleh Jalan Jenderal Sudirman dan Sungai Ciliwung sehingga akses antarmoda belum sepenuhnya mulus. Kehadiran pedestrian deck diharapkan menjadi penghubung empat kuadran kawasan itu, sekaligus meningkatkan keselamatan, kenyamanan, dan aksesibilitas pejalan kaki.

“MRT Jakarta itu tidak hanya bicara tentang rel, tidak bicara tentang kereta saja, tetapi kita bicara tentang bagaimana membangun mobilitas masyarakat kota Jakarta,” ucap Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta, Rendy Primartantyo, di Dukuh Atas, Jakarta, Kamis (30/7).

Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, mengatakan hasil Shortest Path Analysis menunjukkan Pedestrian Deck Dukuh Atas berpotensi menjadi jalur utama perpindahan pengguna transportasi publik antarkuadran di kawasan tersebut. 

Pengguna MRT dan TransJakarta  diperkirakan akan memanfaatkan akses pedestrian deck untuk berpindah antarkuadran. Sementara itu, pengguna LRT diproyeksikan menggunakan jalur tersebut terutama menuju kawasan kompleks BNI, sedangkan pengguna KRL berpotensi melakukan perpindahan dari LRT Jakarta menuju kompleks BNI maupun sebaliknya.

"Kesimpulannya, pedestrian deck akan menjadi penghubung vital yang menyatukan seluruh kawasan transit Dukuh Atas,” ucap Agus. 

Adapun investasi untuk fasilitas itu diperkirakan Rp 361,7 miliar untuk membangun Pedestrian Deck Dukuh Atas. Seluruh pendanaan proyek tersebut dipastikan tidak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta.

Agus mengatakan sekitar 50% pembiayaan Pedestrian Deck Dukuh Atas itu akan menggunakan dana investasi perusahaan, sisanya berasal dari skema pinjaman. Saat ini proyek masih dalam tahap persiapan tender. Sebelum tender digelar, MRT Jakarta telah melakukan market sounding kepada sejumlah kontraktor, pemasok baja, dan pelaku industri konstruksi.

Sementara itu, TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan salah satu tantangan utama dalam pengembangan kawasan berorientasi transit di Jakarta itu kepemilikan lahannya tersebar di berbagai pihak. 

Berbeda dengan Singapura, yang sebagian besar lahannya dikuasai pemerintah sehingga pengembangan kawasan dapat mengikuti rencana tata ruang secara lebih terintegrasi. Berbeda dengan lahan di Jakarta yang dimiliki oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun pihak swasta.

Menurut Sagita, kondisi itu membuat pengembangan kawasan menjadi lebih kompleks karena membutuhkan koordinasi lintas pemangku kepentingan. 

“Sehingga mungkin kalau kita ketemu projek-projek infrastruktur yang ada di lahan pemerintah maupun di lahan swasta, di mana mungkin pemerintah enggak bisa langsung bekerja sama dengan swasta disitu MRT bisa mengambil peran gitu untuk menjembatani hal tersebut gitu,” kata Sagita dalam kesempatan yang sama. 

Jadi Gerbang Wisata Jakarta

Sagita mengatakan pengembangan kawasan berorientasi transit juga ditujukan untuk mendukung sektor pariwisata. Menurutnya, pengembangan kawasan akan difokuskan pada konektivitas yang semakin terintegrasi dengan seluruh moda transportasi publik, termasuk kereta bandara.

Lebih jauh Sagita mengatakan wisatawan dari Bandara Soekarno-Hatta dapat langsung menuju pusat kota melalui Dukuh Atas. Menurut dia kawasan tersebut juga akan didukung pengembangan di sekitar transport hub.

Sejumlah hotel di kawasan itu banyak dikunjungi wisatawan mancanegara, baik dari Asia maupun negara lainnya.

“Mungkin itu salah satunya yang coba kita dorong dengan mendorong adanya seamless connectivity tidak hanya di transportasi publiknya tapi juga memperbaiki infrastruktur di sekitarnya,” ucap Sagita.

Salah satu upayanya yaitu melakukan pedestrianisasi di Jalan Blora. Dengan semakin baiknya konektivitas di kawasan tersebut, kata Sagita, jumlah pejalan kaki diperkirakan akan terus meningkat.

Menurutnya, perlu didukung dengan infrastruktur pejalan kaki yang lebih baik agar lebih nyaman dan aman bagi pengguna transportasi publik. Terkait benchmarking ke negara lain, ia mengaku pembangunan MRT Jakarta sendiri memang menggunakan pendanaan dari Jepang.

Dari sisi teknis, baik desain stasiun maupun sistem perkeretaapian (railway system), acuan utama kami adalah sistem di Jepang. Namun, untuk pengembangan kawasan Transit Oriented Development (TOD), Sagita mengatakan tidak hanya belajar dari Jepang, tetapi juga dari berbagai negara lain. 

Fokusnya tak hanya pada pengembangan kawasan TOD, melainkan juga mempelajari bagaimana operator perkeretaapian di negara-negara tersebut dapat beroperasi secara berkelanjutan (self-sustaining), bahkan jika memungkinkan tanpa bergantung pada subsidi pemerintah.

“Ya sebetulnya secara desain pasti kita cukup banyak melakukan studi banding dengan kota-kota lain seperti Singapura, Jepang, Korea dan lain-lain di mana mungkin masing-masing negara itu punya contoh successful dan unsuccessful project gitu,” ucap Sagita. 

Adapun MRT Jakarta memiliki 9 kawasan TOD yang tersebar dari Lebak Bulus hingga Kotatua–Glodok untuk mendukung transformasi kawasan perkotaan yang terintegrasi.

Sementara itu, Stefanus (28), salah seorang pengguna transportasi publik yang kerap melintas di kawasan Dukuh Atas, mengaku menikmati perubahan wajah sejumlah kawasan yang dikembangkan PT MRT Jakarta.

Ia menilai sejumlah kawasan berorientasi transit menjadikan ruang publik yang menarik secara visual sekaligus menjadi pusat aktivitas baru bagi masyarakat. Menurutnya, pengembangan kawasan tersebut, apalagi Blok M, mendorong lebih banyak orang untuk berjalan kaki dan menikmati ruang kota. 

Tak hanya itu, ia merasakan manfaatnya sebagai pengguna transportasi publik. Kehadiran kawasan-kawasan TOD yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir membuatnya merasa lebih nyaman beraktivitas sekaligus terdorong untuk lebih sering menikmati Jakarta dengan berjalan kaki.

“Berjalan kaki jadi lebih menyenangkan tentunya ya, karena semua jadi lebih dekat dan tertata rapi juga, memang perlu lebih banyak lagi pembangunan TOD yang unik untuk mengurai kepadatan di Jakarta,” kata Stefanus kala ditemui penulis Katadata, Kamis (30/7). 




Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Begini Cara Pilot Malaysia Ketahuan Bawa 26 Kg Ekstasi di Bandara Soetta
• 12 jam lalu
0
thumb
UEFA Ancam Boikot Jika FIFA Ngotot Jual Saham Piala Dunia
• 15 jam lalu
0
thumb
Minyak Dunia Turun, Cek Harga Lengkap BBM Nonsubsidi Pertamina Agustus 2026
• 1 jam lalu
0
thumb
Potret Kemeriahan Malam Puncak Hoegeng Awards 2026
• 3 jam lalu
0
thumb
Istana: Pemerintah Fokus Kerja untuk Masyarakat, Bukan Kejar Hasil Survei
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.