TANGERANG, KOMPAS - Lahan tidur seluas 60 hektar di Desa Ciangir, Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang, Banten, diubah menjadi pusat olah organik dan kawasan peternakan sapi terintegrasi. Program ketahanan pangan milik Pemerintah Provinsi Jakarta ini akan memanfaatkan bahan organik dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle atau TPS3R serta memberdayakan warga setempat.
Mulanya luas lahan tidur tersebut mencapai 100 hektar (ha). Sebanyak 20 ha dihibahkan untuk Lapas Terbuka Kelas IIB Ciangir. Lahan tersisa kemudian dimanfaatkan sebagai pusat olah organik seluas 40 ha dan peternakan sapi sebesar 20 ha.
Pusat olah organik dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup Jakarta dan Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Jakarta. Di atas lahan tersebut sudah berdiri kandang maggot atau larva dari lalat Black Soldier Fly, kandang bebek, ayam, bak-bak budidaya ikan, kebun untuk pertanian kota (urban farming) dan kantor sementara.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Dudi Gardesi mengatakan, pusat olah organik akan dikembangkan secara bertahap. Saat ini, fasilitas tersebut memiliki kapasitas pengolahan bahan organik hingga 50 ton per hari.
"Tahap awal karena terkait izin lingkungan, kami mulai olah di bawah 50 ton. Secara bertahap naik ke 200 ton sesuai anggaran dan akhirnya sampai 1.000 ton per hari," ujar Dudi di sela peninjauan lokasi program ketahanan pangan di Ciangir pada Jumat (31/7/2026).
Bahan organik yang akan diolah berasal dari TPS3R di Jakarta. Ini akan menjadi pakan maggot dan kompos untuk pupuk urban farming.
Maggot dewasa lalu dijadikan pakan alternatif bagi ikan dan ayam. Proses ini dirancang sebagai satu ekosistem, ekonomi sirkular.
Di lokasi yang sama, Perumda Dharma Jaya akan membangun peternakan sapi terintegrasi. Lahan seluas 20 ha dialokasikan untuk kandang karantina dan penggemukan hingga 5.000 ekor sapi, gudang pendingin (cold storage), rumah potong hewan, jembatan timbang dan area timbang pendukung, gudang pakan, serta dan dan instalasi pengolahan air limbah.
Gubernur Jakarta Pramono Anung seusai meninjau lokasi tersebut menyampaikan bahwa pembangunan dimulai November 2026. Total nilai investasinya Rp 1 triliun.
"Tempat ini bukan seperti yang dipikirkan orang akan menjadi tempat alternatif TPST Bantargebang. Sama sekali enggak. Tempat ini adalah pengembangan ketahanan pangan karena yang akan dibawa ke sini adalah bahan organik dari TPS3R yang ada di Jakarta," tutur Pramono.
Pramono juga meminta penyerapan tenaga kerja dari warga setempat, baik di pusat olah organik dan peternakan sapi. Namun, hal itu akan disesuaikan dengan kebutuhan.
Gubernur Banten Andra Soni dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa Jakarta dan Banten saling membutuhkan. Banyak warga Banten bekerja di Jakarta. Sebaliknya, banyak warga Jakarta tinggal di Banten.
"Banyak lahan tidur di Banten. Enggak digunakan, tetapi sudah ada pemiliknya. Jakarta punya niat baik mengembangkan lahan untuk ketahanan pangan. Untuk menyuplai kebutuhan warga Jakarta dan warga Banten terhadap protein dan sebagainya," kata Andra.
Di sela-sela peninjauan itu, Mahroni, warga Ciangir, meminta Pramono dan Andra untuk melihat dampak proyek terhadap warga sekitar. Hilir mudik truk bertonase besar menyebabkan debu dan bangunan retak-retak.
"Tolong tinjau lokasi rumah-rumah warga, saya, dan tetangga. Jadi rumah kami kena debu. Kedua, retak-retak. Mohon ditinjau. Nanti retak-retak dibetulin, direnovasi," kata petugas keamanan di salah satu perumahan ini.
Pramono di hadapan Mahroni langsung meminta jajarannya mengecek rumah-rumah warga sekitar. Andra juga demikian. Ia memastikan program ketahanan pangan di Ciangir akan memberikan manfaat bagi warga.






Komentar (0)