Cerita kecil dalam perjalanan besar JKN

antaranews.com
15 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Juli 2026. Hampir setiap beberapa pekan, Aisyah Qurrota Ain kembali melangkahkan kaki ke Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok. Di pelukannya ada Isa Arbei Kencana Jenggala, putra bungsunya yang kini berusia satu tahun dua bulan.

Isa lahir dengan ventrikulomegali, pembesaran rongga otak yang sudah terdeteksi sejak masih dalam kandungan. Syukurnya, tidak ditemukan penumpukan cairan yang menekan jaringan otak sehingga tidak memerlukan tindakan darurat. Namun, tumbuh kembangnya harus dipantau secara berkala. Juni lalu, Isa bahkan sempat menjalani rawat inap. Belakangan, kunjungan mereka ke rumah sakit semakin sering.

"Dokter bilang mau dirujuk ke RSCM," ujar Aisyah lirih.

Kalimat itu membangkitkan ingatan yang belum benar-benar selesai. Rumah sakit bukan lagi tempat asing baginya. Di sana tersimpan kenangan tentang putri keduanya, Maryam Galimah Syam Saba.

Oktober 2023, di Citayam, Depok, Aisyah mengenakan gamis dan kerudung hitam. Matanya sembab, tetapi senyum tipis masih sesekali muncul ketika menyambut teman, kerabat, dan sahabat yang datang silih berganti. Jumlah mereka hampir sebanyak tamu yang pernah menghadiri pesta pernikahannya di tempat yang sama pada awal 2022.

Bedanya, kali ini mereka datang untuk berduka. Melayat Maryam yang berpulang pada usia delapan bulan setelah menjalani hidup yang seluruhnya diwarnai perjuangan melawan penyakit.

Aisyah bercerita, Maryam tidak menangis saat dilahirkan pada usia kandungan 35 minggu. Bayi mungil itu langsung diketahui mengalami kelainan jantung bawaan.

"Jantung bocor. Maryam di NICU tiga bulan di tiga rumah sakit setelah lahir."

Bukan hanya itu. Maryam merupakan bayi berisiko tinggi dengan sejumlah penyakit bawaan. Di bulan-bulan terakhir hidupnya, pneumonia kembali menyerang hingga ia harus dirawat selama tiga bulan di RSUI.

Di tengah masa-masa paling berat itu, ada satu hal yang tidak lagi mengganggu pikiran Aisyah: biaya pengobatan.

"Iya laaah. Kalau nggak pakai BPJS mah, aduh," katanya singkat di penghujung cerita tentang perjuangan merawat Maryam.

Sebagai peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), ia hanya memusatkan perhatian untuk mendampingi putrinya hingga detik terakhir. Selama berbulan-bulan menjalani perawatan di berbagai rumah sakit, Aisyah mengaku tidak mengalami kesulitan berarti dalam proses administrasi maupun pembiayaan pelayanan kesehatan.

Padahal, sebelas tahun sebelumnya, kisah yang sangat berbeda pernah ia alami.

Januari 2012 menjadi bulan paling membahagiakan bagi Aisyah ketika putra pertamanya, Juan Bhumi Mahameru, lahir. Nama itu dipilih dengan harapan sang anak tumbuh setegar Gunung Semeru.

Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung beberapa bulan.

Pada Mei 2012, Bhumi terserang pneumonia dan harus dirawat di Pediatric Intensive Care Unit (PICU). Saat itu Aisyah belum memiliki perlindungan asuransi kesehatan, termasuk untuk bayinya. Seluruh biaya pengobatan ditutup dari donasi teman-teman dan kerabat.

Hingga suatu ketika, donasi itu berhenti. Bhumi pun berpulang pada usia tiga setengah bulan.

Cerita serupa, meski dalam situasi berbeda, pernah dialami Hermawan Ramadhan.

Pertengahan 2009, ia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir Universitas Negeri Jakarta. Adik pertamanya baru masuk perguruan tinggi swasta, sedangkan adik bungsunya masih duduk di bangku SMP. Ibunya, seorang guru sekolah dasar negeri, menjadi tulang punggung keluarga.

Hermawan masih mengingat jelas campuran rasa lega, gelisah, dan kalut ketika sang ibu akhirnya diizinkan pulang setelah hampir empat minggu dirawat akibat stroke di Rumah Sakit Tugu Ibu, Depok.

Kelegaan itu segera berganti kebingungan. Keluarganya harus mencari cara melunasi sisa tagihan rumah sakit.

Saat itu ibunya memang telah menjadi peserta asuransi kesehatan pemerintah yang dikelola PT Askes, cikal bakal BPJS Kesehatan. Namun, sistem ketika itu masih membatasi manfaat. Layanan lebih diprioritaskan di rumah sakit pemerintah, sedangkan perawatan di rumah sakit swasta tetap memerlukan biaya tambahan apabila plafon jaminan terlampaui.

Hampir sebulan dirawat membuat batas manfaat habis. Obat-obatan yang harganya melampaui Daftar Plafon Harga Obat (DPHO) juga harus dibayar sendiri.

Tabungan keluarga terkuras. Hermawan akhirnya meminjam uang kepada dua orang pamannya untuk melunasi sisa tagihan rumah sakit.

Lima tahun kemudian, ibunya kembali terserang stroke dan dirawat di rumah sakit yang sama.

Namun, Indonesia sudah berbeda. Sejak 1 Januari 2014, Program Jaminan Kesehatan Nasional mulai berjalan dengan cakupan yang jauh lebih luas, tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu, melainkan ditujukan bagi seluruh penduduk Indonesia.

Saat ibunya kembali dirawat pada 2014, Hermawan yang saat itu telah menjadi guru di sekolah swasta tidak lagi menghadapi skema iur biaya. Daftar obat yang dijamin juga semakin luas melalui Formularium Nasional (Fornas), sehingga keluarga tidak lagi harus membeli obat menggunakan uang pribadi, dan yang paling penting, mereka tidak perlu lagi berutang.

Perjuangan itu masih panjang. Sang ibu berkali-kali keluar masuk rumah sakit pada 2015, 2016, dan 2017 sebelum akhirnya berpulang pada 2018 dalam usia 56 tahun. Namun, setidaknya beban finansial yang pernah menghimpit keluarga lima tahun sebelumnya tidak lagi menjadi bagian dari perjuangan tersebut.

Baca juga: JKN bantu Jamih rasakan manfaat pemulihan radikulopati lumbal

Baca juga: Kemenekraf: Perlindungan JKN jaga produktivitas 27,4 juta pelaku ekraf

Dua potret

Kisah Hermawan dan Aisyah berangkat dari pengalaman yang berbeda, tetapi memperlihatkan dua potret sistem kesehatan Indonesia dalam dua masa.

Kisah pilu yang dialami Hermawan pada 2009 dan Aisyah saat kehilangan Bhumi pada 2012 menggambarkan rapuhnya sebuah keluarga ketika sakit datang tanpa perlindungan jaminan kesehatan.

Sebaliknya, pengalaman Hermawan setelah 2014, juga perjuangan Aisyah mendampingi Maryam dan kini Isa, menunjukkan bagaimana sebuah sistem perlindungan kesehatan mengubah cara keluarga menghadapi penyakit. Fokus mereka bukan lagi mencari biaya pengobatan, melainkan merawat orang yang dicintai.

Sebagai pekerja lepas di bidang tata rias dengan penghasilan yang tidak selalu tetap, Aisyah membayar iuran sekitar Rp300.000 setiap bulan untuk kepesertaan JKN dirinya dan anaknya. Dari iuran itu, ia memperoleh perlindungan atas layanan kesehatan yang nilainya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah ketika harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit.

Di balik perlindungan tersebut, bekerja prinsip gotong royong. Iuran peserta yang sehat membantu membiayai peserta lain yang sedang sakit.

Perjalanan JKN sendiri juga terus berkembang. Saat diluncurkan pada 2014, program ini mencakup sekitar 133 juta peserta. Hingga Juni 2026, jumlah kepesertaan telah mencapai 284 juta jiwa, termasuk 117,6 juta peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang iurannya dibayarkan pemerintah.

Jaringan layanan pun meluas. Dari semula bekerja sama dengan 18.437 fasilitas kesehatan tingkat pertama dan 1.681 rumah sakit, kini peserta JKN dapat mengakses pelayanan di 23.718 fasilitas kesehatan tingkat pertama, 3.229 rumah sakit, serta memperoleh obat melalui 6.506 apotek yang bekerja sama.

Isa tentu belum memahami semua angka itu. Mungkin Aisyah pun juga tidak paham. Yang membuat langkah Aisyah kuat adalah tidak ada biaya layanan rumah sakti yang perlu dikhawatirkan untuk memperjuangkan kesehatan Isa.

Isa mungkin hanya kenal aroma khas rumah sakit yang semakin akrab, dan pelukan ibunya yang kini terasa semakin erat, seperti janji yang pernah diucapkan Aisyah kepada putranya.

"Janji, Mama gak akan nyerah di tengah jalan lagi. Insyaa Allah."

Baca juga: Dua belas tahun JKN, setara puluhan tahun negara lain


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bank Neo Commerce Bukukan Laba Rp294,85 Miliar pada Semester I 2026
• 4 jam lalu
0
thumb
Wuling Aira ev Edisi Toy Story, Dijual Terbatas!
• 8 jam lalu
0
thumb
Bunga Jelitha Dukung Potensi Generasi Muda Lewat Nusantara Spotlight
• 1 jam lalu
0
thumb
Timnas Indonesia Gulung Timor Leste, 3 Gol dalam 8 Menit
• 5 jam lalu
0
thumb
Gelombang Pesilat yang Datangi Markas DC di Surabaya Sudah Bubar
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.