Harga Minyak Naik 22% Sepanjang Juli Seiring Memanasnya Perang AS dan Iran

katadata.co.id
17 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak acuan dunia mengalami kenaikan 22% seiring memanasnya perang di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lonjakan tersebut merupakan kenaikan bulanan terbesar sejak Maret saat periode awal perang.

Pada 1 Juli lalu, harga minyak Brent masih berada di angka US$73,45 per barel. Harga tersebut naik 22,11% menjadi US$89,69 per barel pada pukul 08.01 waktu Singapura. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), diperdagangkan di sekitar US$84 per barel pagi ini.

Kendati demikian, harga minyak Brent sempat kembali menyentuh angka US$ 100 per barel di bulan ini, namun hanya bertahan beberapa saat saja. Kini harga minyak cenderung memasuki tren penurunan harga.

Bloomberg mencatat terjadinya gejolak di pasar energi dunia bulan ini, dengan harga minyak dan produk turunannya seperti diesel mencatat kenaikan dua digit. 

Di sepanjang Juli, gencatan senjata dalam perang antara Washington dan Teheran runtuh, dibarengi dengan keterlibatan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman. Hal ini juga diperparah dengan pasukan Arab Saudi bergabung dengan AS untuk menyerang kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak. 

Meski AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada Kamis, namun lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz tampaknya mulai meningkat dalam beberapa hari terakhir.  Selat Hormuz merupakan jalur perairan vital yang menghubungkan negara-negara kawasan Timur Tengah dengan pasar global.

Di saat yang sama, Arab Saudi berdiskusi dengan perwakilan dari 43 negara untuk membentuk aliansi guna melindungi jalur pelayaran di Laut Merah dan sekitarnya. Langkah ini diharapkan dapat menangkal blokade yang diberlakukan kelompok militan Houthi yang didukung Iran terhadap kerajaan tersebut pada pekan lalu.

Dalam pidato yang disiarkan televisi pada Kamis, pemimpin Houthi Abdulmalik al-Houthi mengatakan terdapat indikasi bahwa Arab Saudi tengah menuju eskalasi menyeluruh. Menurutnya, hal ini akan dibalas dengan kampanye militer yang lebih keras. Selain menyerang kapal tanker, kelompok tersebut baru-baru ini juga mengklaim telah menyerang fasilitas minyak.

Bloomberg menyebut, setelah memulai perang dengan Israel pada akhir Februari untuk menekan program nuklir Iran, Presiden AS Donald Trump kini kembali menghadapi dilema. Apakah akan meningkatkan eskalasi konflik sebagai balasan atas serangan Iran terhadap aset-aset AS, atau lebih memprioritaskan upaya meredakan gejolak di pasar energi global.

"Situasinya benar-benar masih harus ditunggu. Apakah konflik ini akan meluas, dan apakah AS akan membalas seperti ancaman Trump, atau hanya akan menjadi aksi saling balas dengan skala yang relatif lebih kecil," ujar Associate Dean di Center for Global Affairs, New York University,  Carolyn Kissane dikutip dari Bloomberg, Jumat (31/7).

Di luar Timur Tengah, para pelaku pasar juga mengkhawatirkan gangguan pasokan di kawasan Laut Hitam. Aktivitas pemuatan di terminal yang menjadi jalur penting ekspor minyak Kazakhstan kembali dihentikan pekan ini setelah serangan baru terhadap kapal tanker. 

Sepanjang bulan ini, sebanyak sembilan kapal telah diserang ketika berada di atau menuju fasilitas Caspian Pipeline Consortium, jumlah terbanyak sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, mengatakan lembaganya masih melihat risiko bahwa guncangan pasokan minyak dari Timur Tengah dapat mendorong ekonomi global ke jurang resesi. Namun, dampaknya diperkirakan terbatas apabila Selat Hormuz kembali dibuka dalam waktu dekat.

"Perkiraan kami, selama perang masih berlangsung, harga WTI akan berada di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel. Jika perang berakhir, harganya kemungkinan kembali ke kisaran US$ 50 hingga US$ 60 per barel,” kata Chief Executive Officer Infrastructure Capital Management LLC. Jay Hatfield.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Industri Asuransi Masih Tunggu Aturan Pajak dan New RBC usai PSAK 117
• 5 jam lalu
0
thumb
Bea Cukai dan Polri Gagalkan Ekspor Ilegal 3,4 Ton Merkuri Cair Senilai Rp17,5 Miliar ke Afrika
• 9 jam lalu
0
thumb
Sayembara Tangkap Begal Dapat Hadiah Rp 50 Juta Dikritik Menko Yusril Ihza Mahendra, Dedi Mulyadi Beri Solusi Ini
• 19 jam lalu
0
thumb
Prabowo Ungkap Potensi Negara-negara Timur Tengah Punya Senjata Nuklir
• 7 jam lalu
0
thumb
Staf KPK Bocorkan Informasi Target Kasus Korupsi, Kualitas KPK Menurun?
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.