Jakarta, CNBC Indonesia - PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) mencatatkan kerugian yang kian membengkak pada semester I-2026. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian perseroan, rugi periode berjalan tercatat sebesar Rp 1,45 triliun, melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 785,84 miliar.
Dengan demikian, kerugian maskapai berbiaya rendah ini membengkak hampir dua kali lipat atau naik sekitar 84,4% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan laporan keuangan yang tidak diaudit per 30 Juni 2026, pendapatan usaha CMPP tercatat sebesar Rp 3,91 triliun, sedikit menyusut dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 3,98 triliun.
Di sisi lain, total beban usaha perseroan justru naik menjadi Rp 4,83 triliun dari sebelumnya Rp 4,51 triliun. Akibatnya, perseroan mencatatkan rugi usaha sebesar Rp 922,27 miliar, melebar dari rugi usaha periode sebelumnya yang sebesar Rp 529,47 miliar.
Beberapa pos beban usaha yang menjadi penyumbang utama pembengkakan biaya antara lain beban bahan bakar naik menjadi Rp 1,99 triliun dari Rp 1,58 triliun, rugi selisih kurs dari kegiatan operasional melonjak menjadi Rp 447,95 miliar dari sebelumnya hanya Rp 28,89 miliar dan beban sewa pesawat naik menjadi Rp 98,03 miliar dari Rp 43,16 miliar
Sementara itu, sejumlah pos beban lain justru tercatat turun, seperti beban perbaikan dan pemeliharaan yang turun menjadi Rp 851,86 miliar dari Rp 1,2 triliun, serta beban pemasaran yang turun menjadi Rp 185,71 miliar dari Rp 261,7 miliar.
Selain dari sisi operasional, tekanan turut datang dari aktivitas pendanaan. Perseroan mencatatkan rugi selisih kurs dari aktivitas pendanaan sebesar Rp 322,84 miliar, melonjak tajam dari Rp 28,43 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Beban keuangan perseroan pada periode ini tercatat sebesar Rp 204,32 miliar.
Akumulasi tekanan dari sisi operasional, kurs, dan pendanaan inilah yang membuat rugi sebelum pajak penghasilan melebar signifikan menjadi Rp 1,45 triliun.
Defisiensi Modal Kian DalamKerugian yang terus berlanjut membuat posisi keuangan CMPP kian tertekan. Per 30 Juni 2026, akumulasi rugi perseroan tercatat mencapai Rp 18,58 triliun, dibandingkan Rp 17,14 triliun pada akhir Desember 2025.
Kondisi ini membuat perseroan berada dalam defisiensi modal (ekuitas negatif) sebesar Rp 12,18 triliun, melebar dari defisiensi modal Rp 10,73 triliun pada akhir 2025.
Sementara itu, total liabilitas perseroan naik menjadi Rp 16,91 triliun dari Rp 15,79 triliun, sedangkan total aset justru turun menjadi Rp 4,73 triliun dari Rp 5,05 triliun pada akhir tahun lalu.
(fsd/fsd)





Komentar (0)