REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Presiden AS Donald Trump mengeklaim kelompok Hamas di Gaza telah setuju untuk dilucuti persenjataannya. Pasukan Indonesia diisukan bakal terlibat dalam pelucutan tersebut.
Trump mengatakan, kesepakatan yang dicapai oleh Dewan Perdamaian Gaza (Gaza Board of Peace) mengenai pelucutan senjata total Hamas sebagai langkah yang "bersejarah". Melalui unggahan di Truth Social, Trump menyatakan bahwa Israel akan meninggalkan Gaza setelah Hamas melucuti senjatanya.
"Begitu pelucutan senjata rampung, pasukan Israel akan mundur, dan Pasukan Stabilisasi Internasional akan bekerja sama dengan kepolisian Palestina yang baru untuk menjamin keamanan Gaza bagi penduduknya maupun negara-negara tetangganya," ujar Trump.
"Israel akan mendapatkan keamanan yang layak mereka terima, di mana Gaza tidak lagi dijadikan basis bagi serangan teror," tulisnya.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ia mengatakan bahwa kesepakatan tersebut "merupakan langkah krusial agar Gaza pada akhirnya dapat dikelola oleh pemerintahan Palestina yang baru, yang akan bekerja sama erat dengan Dewan Perdamaian demi membantu rakyat Palestina.”
Koresponden Aljazirah di Washington melaporkan, pengaturan ini akan dilakukan secara bertahap berdasarkan sektor. Seiring dengan pembersihan sektor-sektor di Gaza dan pelucutan senjata Hamas di wilayah tersebut, semakin banyak petugas polisi Palestina yang akan ditempatkan dan mulai bertugas.
Mereka akan bekerja sama dengan pasukan koordinasi internasional yang susunannya belum dipastikan. Namun, merujuk laporan Aljazirah, beredar kabar bahwa pasukan ini mungkin melibatkan pihak Indonesia dan bahkan Turki, sesuatu yang mungkin tidak disukai oleh pihak Israel.
Tujuannya adalah agar Gaza beralih menuju pemerintahan teknokratis sebagaimana dijanjikan dalam rencana perdamaian 15 poin.
Banyak negosiasi yang berlangsung dengan pihak Mesir, Turki, dan Qatar, yang menjalin komunikasi dengan Hamas. Terdapat sejumlah hambatan dalam meyakinkan mereka agar bersedia menyetujui rencana ini, namun ditegaskan bahwa situasi keuangan akan menjadi jauh lebih sulit bagi Hamas dan struktur pendanaan mereka bisa saja dihapuskan.
Tekanan internasional juga dilaporkan meningkat terhadap Hamas untuk menerima hal ini. Semua ini dibahas saat Trump bertemu dengan Netanyahu di Ruang Oval beberapa hari yang lalu, namun pihak Israel menyampaikan kekhawatiran mereka. Mereka meragukan bagaimana mekanisme pelaksanaannya nanti dan tidak yakin bahwa Hamas akan mematuhi kesepakatan tersebut.
Komentar (0)