Laba Raksasa Otomotif Astra (ASII) Anjlok 19% di Semester I, Ini Penyebabnya

katadata.co.id
1 jam lalu
Cover Berita

Raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 12,53 triliun pada semester pertama 2026. Angka tersebut turun 19% dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (YoY) yang mencapai Rp 15,51 triliun.

Anjloknya laba Astra disebabkan turunnya kontribusi bisnis solusi pertambangan dan alat berat yang dijalankan lewat anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR). Hal itu terjadi seiring dengan turunnya penjualan emas dan perlambatan bisnis batu bara.

“Pada semester pertama 2026, grup mencatat peningkatan kontribusi dari bisnis otomotif dan jasa keuangan. Namun, penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat mengakibatkan penurunan laba bersih grup secara keseluruhan,” tulis Presiden Direktur ASII, Rudy, dikutip dari keterangan resmi pada Kamis (30/7).  

Pendapatan bersih konsolidasian grup pun turun 3% menjadi Rp 157,91 dari Rp 162,86 triliun secara tahunan. Rudy mengaku anjloknya kontribusi dari bisnis solusi pertambangan & alat berat menjadi tekanan bagi Grup Astra, meski sebagian besar anak usahanya yang lain membukukan kenaikan pendapatan dan laba. 

Bisnis Tambang Jadi Pemberat

Bisnis tambang dan alat berat Astra dimotori oleh anak usahanya, UNTR. Segmen ini mencatat laba bersih sebesar Rp 2,7 triliun atau turun 46% dibandingkan semester pertama 2025. Penurunan itu dipicu minimnya penjualan emas dari Tambang Martabe serta dampak penurunan alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional yang menekan permintaan alat berat, jasa penambangan, dan volume produksi batu bara.

Selama paruh pertama 2026, segmen tersebut juga mencatat non-recurring items sebesar Rp 2,1 triliun yang berasal dari bisnis panas bumi dan nikel. Setelah memperhitungkan pos tersebut, laba bersih yang dilaporkan merosot drastis 88% menjadi Rp 607 miliar.

Kinerja operasional UNTR juga turun di hampir seluruh lini usaha. Volume pengupasan tanah (overburden removal) turun 10% menjadi 481 juta bank cubic metres (bcm), sedangkan penjualan alat berat Komatsu merosot 27% menjadi 1.994 unit akibat turunnya permintaan dari sektor pertambangan.

Di sisi lain, penjualan batu bara milik sendiri turun 10% menjadi 6 juta ton. Penjualan emas juga merosot tajam menjadi 23 ribu ons dari 125 ribu ons pada periode yang sama tahun lalu karena penghentian sementara operasional Tambang Martabe pada awal tahun. Operasional tambang tersebut baru kembali berjalan pada kuartal kedua.

Segmen Otomotif dan Keuangan Astra Tumbuh

Kendati tak dapat menopang kinerja keuangan grup karena anjloknya bisnis tambang, dua bisnis inti Astra yang lainnya masih mencatatkan pertumbuhan.

Laba bersih segmen otomotif naik 9% YoY menjadi Rp 5,91 triliun dari Rp 5,40 triliun. Sementara itu, bisnis jasa keuangan membukukan laba Rp 4,65 triliun atau meningkat 6% YoY dibandingkan paruh pertama tahun lalu sebesar Rp 4,37 triliun.

Secara keseluruhan, laba bersih Astra sebelum memperhitungkan non-recurring items turun 7% menjadi Rp 14,89 triliun. 

Laba bersih grup berdasarkan bisnis pada semester pertama 2026, dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu dapat dilihat secara terperinci dalam tabel berikut: 

Laba Bersih Berdasarkan Bisnis2026 (Rp miliar)2025 (Rp miliar)Perubahan (%)Otomotif5.9145.4049Jasa Keuangan4.6464.3746Solusi Pertambangan & Alat Berat2.7045.022(46)Lain-lain1.6281.24131Laba bersih tidak termasuk non-recurring items14.89216.041(7)Non-recurring items(2.359)(526)N/ALaba bersih12.53315.515(19)

(Sumber: laporan keuangan ASII. Non-recurring items, terutama terdiri atas penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas dan penurunan nilai (impairment).

Adapun hingga 30 Juni 2026, nilai aset bersih per saham Astra meningkat 1% menjadi Rp 5.763.

Sementara itu, posisi keuangan mengalami perubahan signifikan. Jika pada akhir 2025 Astra masih mencatat kas bersih Rp 7,2 triliun, kini perseroan membukukan utang bersih Rp 6 triliun di luar bisnis jasa keuangan. Perubahan tersebut dipicu oleh akuisisi perusahaan tambang emas PT Arafura Surya Alam, pelaksanaan program pembelian kembali saham (share buyback) serta kebutuhan modal kerja.

Sementara itu, utang bersih anak usaha di sektor jasa keuangan meningkat menjadi Rp 67 triliun dari Rp 64,9 triliun pada akhir tahun lalu.

ASII Bakal Fokus pada 3 Bisnis Inti

Rudy mengungkapkan, mulai semester pertama 2026, Astra menerapkan struktur pelaporan baru yang berfokus pada tiga bisnis inti. Yaitu otomotif, jasa keuangan, serta solusi pertambangan dan alat berat. Seluruh bisnis di luar tiga segmen tersebut kini dikelompokkan ke dalam segmen lain-lain.

Perubahan tersebut menjadi bagian dari Strategy Roadmap yang diumumkan Astra pada Mei 2026. Strategi baru itu dibangun di atas empat pilar utama, yakni focus, clarity, discipline, dan commitment. Tujuannya untuk meningkatkan imbal hasil pemegang saham secara berkelanjutan.

Sebagai bagian dari strategi tersebut, Astra telah menyelesaikan program share buyback bersama UNTR senilai total Rp 7,4 triliun hingga akhir Juni 2026. Perseroan juga meluncurkan program pembelian kembali saham baru senilai maksimal Rp 8 triliun untuk periode 12 bulan, sedangkan UNTR mengalokasikan hingga Rp 2 triliun untuk program serupa selama tiga bulan.

Selain itu, Astra mulai menjalankan Program Management Stock Option Plan (MSOP) guna menyelaraskan insentif manajemen dengan penciptaan nilai jangka panjang bagi pemegang saham.

Rudy mengatakan, di tengah ketidakpastian ekonomi global, Astra akan tetap berfokus menjalankan strategi korporasi baru dengan mengedepankan disiplin alokasi modal, ketahanan operasional dan penguatan neraca keuangan.

"Kami akan senantiasa mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia, sekaligus memposisikan Grup untuk dapat memberikan peningkatan total imbal hasil bagi para pemegang saham serta mencapai pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan," tuturnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Prabowo targetkan persoalan sampah di Indonesia tuntas dalam setahun
• 7 jam lalu
0
thumb
Masa Transisi Pemisahan Pembiayaan MBG dari Anggaran Dinilai Terlalu Panjang
• 3 jam lalu
0
thumb
Mengapa Aksi Main Hakim Sendiri Terus Berulang?
• 6 jam lalu
0
thumb
KPK Tahan 4 Tersangka Kasus Korupsi Asuransi Jasindo
• 32 menit lalu
0
thumb
Bupati Kerap Terjaring OTT, KPK: Kami Sebetulnya Tidak Menarget
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.