BEKASI, KOMPAS.com – Sejumlah warga bergegas mengerumuni mobil tangki air bersih yang baru berhenti di Kampung Pamoyanan, Desa Sirnajati, Kecamatan Cibarusah, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Di tangan mereka tergenggam ember, jeriken, hingga galon bekas berukuran belasan liter. Sebagian warga mengaku sudah menunggu sejak pagi karena khawatir terlambat dan kehabisan air.
Begitu selang berwarna biru diturunkan dari mobil tangki, antrean langsung mengular. Warga bergantian mengisi wadah yang mereka bawa, lalu mengangkutnya satu per satu menuju rumah.
Puluhan jeriken berisi air tampak memenuhi halaman rumah warga yang dijadikan titik distribusi bantuan.
Baca juga: Krisis Air Bersih di Tangerang Meluas ke 12 Kecamatan, 8.135 KK Terdampak
Bagi warga, air yang mengalir dari mobil tangki itu bukan sekadar bantuan. Air tersebut menjadi penyelamat setelah berbulan-bulan mereka harus menyusuri jalan menuju Kali Tegakadu-Leuwi Kacapi demi memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Selama musim kemarau, mereka terbiasa berangkat sejak subuh menuju kali. Perjalanan itu memakan waktu hampir satu jam jika ditempuh dengan berjalan kaki atau sekitar 15 hingga 20 menit menggunakan sepeda motor.
Setibanya di lokasi, mereka masih harus mengantre bersama warga dari wilayah lain untuk mendapatkan air.
"Selama empat bulan kondisinya begini terus. Kalau enggak ada hujan, sumurnya enggak keluar air sama sekali," ujar Iin saat ditemui Kompas.com di lokasi, Kamis.
Baca juga: Daftar Wilayah di Tangerang yang Dilanda Krisis Air Bersih akibat Kemarau
Iin mengatakan, air dari kali digunakan untuk hampir seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, hingga mencuci beras. Sementara untuk air minum, keluarganya membeli air galon isi ulang.
Jarak yang jauh membuat aktivitas mencuci pakaian tidak lagi dilakukan setiap hari.
"Kalau minum mah beli air galon. Ini juga nyuci baju kadang dua hari sekali. Soalnya jauh, dan bajunya dikumpulin dulu biar enggak capek bolak-balik," ujar Iin.
Kekeringan juga berdampak pada aktivitas anak-anaknya. Mereka kerap terlambat berangkat ke sekolah karena harus mandi di kali sebelum berangkat.
Baca juga: Kementerian PU Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan di Situbondo
"Anak jadi sering telat sekolah. Soalnya kan mereka juga ikut mandi di kali, di rumah sama sekali enggak ada air. Biasanya subuh sudah berangkat ke kali. Pulangnya sekitar jam 07.30, itu juga kalau enggak ngantri," kata Iin.
Menurut Iin, warga yang mengambil air di Kali Tegakadu bukan hanya berasal dari Kampung Pamoyanan.
Banyak warga dari wilayah perbatasan Kabupaten Bogor juga datang ke lokasi yang sama sehingga antrean kerap mengular.






Komentar (0)