Menjadi Gila di Pementasan "Rumah Sakit Jiwa" Teater Koma

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bukan, ini bukan lagi ngomongin tempat kerja atau sekolah kalian yang senioritasnya kuat itu. Ini adalah penggalan dialog Profesor Sidarita di pementasan "Rumah Sakit Jiwa" karya Teater Koma di Taman Ismail Marzuki.

Jujur aja, nonton pagelaran ini tuh rasanya nano-nano dan bikin gatel—gatel pengen ngeshare ke grup julid circle karena se-relate itu. Banyak banget scene yang bukan cuma relevan, tapi—yang saya yakin banget—bikin mayoritas orang mikir "lho ini sih kehidupan kita sehari-hari enggak sih?"

Naskah ini bercerita tentang seorang dokter muda, Rogusta, yang baru pindah ke sebuah rumah sakit jiwa. Di sana, dia merasa ada yang salah dengan sistem dan cara pengobatan pasien-pasiennya. Dia ingin merombaknya karena merasa harusnya ada lho metode yang lebih "manusiawi".

Niat mulia yang disertai dengan kapabilitas yang mumpuni—Rogusta digambarkan sebagai dokter cerdas, lulus kuliah dengan predikat summa cum laude, kapten sepak bola, anak orang have, pokoknya one in a million lah cowok macem ini—pun ternyata tidak akan berhasil. Karena apa? Yak, karena kalah dengan sistem feodal dan senioritas yang kelewatan.

Aduh, pokoknya kasihan deh.

Lebih kasihan lagi karena saya yakin banyak adegan yang rasanya kayak deja vu, rasanya kok pernah ya ngalamin di dunia nyata? Saya sempat mendengar penonton sebelah saya menceletuk ke temannya begitu. Kenalan saya pun—yang saya baru kenal di lokasi—juga punya kesan yang serupa.

Sebenarnya, "Rumah Sakit Jiwa" ini bukan naskah baru. Ini adalah naskah karya almarhum Nano Riantiarno yang dulu pernah ditampilkan di tahun 1991. Kali ini, 35 tahun kemudian, naskah itu dibawakan kembali oleh anak beliau, Rangga, karena dianggap ceritanya masih relevan.

Bayangin, udah 35 tahun berlalu tapi isunya masih relevan banget. Di beberapa bagian, sukses membuat penonton tertawa getir. Mereka bukan cuma lagi menertawakan aksi panggung para pemain, deep inside mereka juga lagi ngetawain diri sendiri. Lagi-lagi, ceritanya relate.

Kalau saya pribadi, yang paling relate mungkin saat orang tua Rogusta muncul, mengeluhkan pilihan hidup anaknya. Mereka merasa, menjadi dokter jiwa "tidak ada masa depannya" padahal harus berkutat mengurus banyak orang. Tapi sebagai orang tua, mereka cuma bisa berusaha menerima keputusan anaknya.

Coba siapa nih yang ngalamin juga?

Memang ada beberapa bagian yang pasti di-adjust dari naskah yang lama. Misalnya saja easter eggs yang muncul di sana-sini. Kalau kamu orang yang compulsive scrolling, kamu pasti ngeh sama jokes-jokes-nya.

Pada dasarnya, pagelaran ini adalah bentuk kritik sosial yang dikemas dengan halus dan menarik. Sindirannya mungkin tidak dilontarkan verbal dengan jelas, tapi setelah kita melihat gambaran besar dari cerita, akting pemain, musik, dan visualnya, sindiran itu baru terlihat.

Yang menarik lagi, menonton "Rumah Sakit Jiwa" membuat kita merasa seperti, "ini jangan-jangan aku juga gila?" Waktu main drape baru dinaikkan, penonton langsung disuguhkan visual surealis dengan ornamen tangga yang terdistorsi di sudut-sudut atas, garis-garis ruangan asimetris yang janggal, dan suara musik serta pencahayaan yang menguatkan kesan-kesan itu.

Apalagi saat satu per satu penghuni rumah sakit jiwa bermonolog, waduh waduh. Paling tidak ada satu atau dua kisah hidup orang gila ini yang entah mirip dengan kehidupan kita sendiri, atau kita pasti pernah melihat yang semacam ini di dunia nyata.

Makanya, pulang dari sini, saya jadi mikir, apa jangan-jangan sayadan kita semua—sebenarnya juga gila? Bedanya cuma kita enggak keliling aja.

Hal lain yang menarik perhatian saya adalah desain kostumnya. Menarik sekali melihat bagaimana seragam dokter dan pasien rumah sakit jiwa diintepretasikan dengan begitu artsy. Lupakan soal piyama bergaris atau snelli putih dengan stetoskop, di sini kita justru menemukan gambaran pasien dan dokter dengan cara berbeda.

Seragam pasien misalnya, dibuat dengan bentuk mengembang seperti balon dengan memanfaatkan tali elastis di bagian bawah. Warna gradasi marygold-orange menuju ke jingga yang lebih gelap, ditambah dengan semburat hitam di bagian bawah—dibuat dengan teknik tie dye—membuat kesan "gila" jadi lebih terasa. Mereka bukan cuma pasien, mereka adalah orang-orang gila yang tidak terawat dan terabaikan.

Yang menarik lagi adalah kostum yang dipakai Rogusta. Sebagai dokter muda yang idealis dan punya misi mulia, kostumnya dibuat berwarna putih bersih—yang kemudian kesannya bisa berubah tergantung penataan cahaya. Menariknya, jika dilihat dari dekat, ternyata kostum ini punya motif white on white.

Musik pengiringnya easy listening dan nempel banget di otak. Ada beberapa bagian yang memang bikin kita bertanya-tanya, "eh ini tuh alat musik apa? Lho ini kayaknya bunyi instrumen ini, tapi kok begini bunyinya?" Tapi ya sesuai dengan temanya: gila.

Overall, pagelaran "Rumah Sakit Jiwa" menyuguhkan kritik sosial yang dibalut dengan komedi satir. Durasinya memang 2,5 jam, tapi jujur enggak berasa sama sekali. Pace-nya cepat, setiap babaknya padat tapi enggak bikin overwhelming, porsinya pas.

Pementasan ini masih akan berlangsung hingga 2 Agustus 2026 nanti di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, setiap pukul 19.30 WIB. Tiket pertunjukan dapat dibeli melalui situs resmi Teater Koma dan platform Loket dengan harga mulai Rp100 ribu sampai Rp850 ribu.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Bioenergy Lestari Diakui Dunia, Pertamina Raih Penghargaan Outstanding SDG Innovator 2026
• 5 jam lalu
0
thumb
Subaru Pilih Indonesia Jadi Negara Pertama di ASEAN untuk Peluncuran All-New Outback
• 22 jam lalu
0
thumb
BPDP Kantongi Rp22,7 Triliun dari Pungutan Ekspor Sawit, Dipakai untuk Apa Saja?
• 9 jam lalu
0
thumb
Koalisi Serukan Petisi Setop Remiliterisasi
• 16 jam lalu
0
thumb
Kematian Sutrimo Dinilai Janggal, Eks Kabareskrim: Wajar Publik Curiga
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.