Harga Batu Bara Melesat Lagi: Dibantu Perang, India Hingga China

cnbcindonesia.com
9 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara melesat lagi di tengah lonjakan harga minyak.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Rabu (29/7/2026) ditutup di US$ 135,5 per ton, Harganya melesat 3,6%.

Harga ini adalah yang tertinggi dalam lima hari terakhir. Kenaikan juga menghapus tren negatifnya yang turun 3,3% dalam dua hari sebelumnya.

Kenaikan harga batu bara disebabkan banyak sentimen, terutama harga minyak.

Minyak dan batu bara adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.

Pada Rabu kemarin, harga minyak kembali melonjak pada perdagangan Rabu kemarin (29/7/2026). Harga minyak brent terbang 7,9% ke US$ 90,74 per barel sedangkan WTI melonjak 6,56% ke US$ 84,46 per barel.

Kenaikan harga batu bara juga ditopang banyak kabar baik.

Pasokan batu bara di mulut tambang (mine-mouth) di China mulai mengetat akibat inspeksi keselamatan, penutupan sementara sejumlah tambang, dan gangguan produksi di beberapa wilayah utama. Faktor ini memberikan dukungan terhadap harga.

Namun, permintaan tetap lesu karena pembangkit listrik dan konsumen hilir masih memiliki stok batubara yang tinggi sehingga tidak terburu-buru melakukan restocking.

Kombinasi pasokan yang lebih ketat dan permintaan yang lemah membuat harga batubara termal di mulut tambang cenderung bergerak stabil.

Baca: Tok! The Fed Tahan Suku Bunga: Suara Terpecah, Peluang Naik Menguat

Di sisi lain, impor batubara China diperkirakan meningkat pada Juli karena produksi domestik sempat terganggu setelah kecelakaan tambang dan inspeksi keselamatan, meski permintaan domestik belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, produsen listrik terbesar di India, NTPC, berencana menggelontorkan investasi sekitar INR17 triliun (US$177,62 miliar) hingga tahun fiskal 2037.

Investasi tersebut ditujukan untuk hampir menggandakan kapasitas pembangkit listrik pada 2032 dan hampir melipatgandakannya menjadi tiga kali lipat pada 2037, kata para eksekutif perusahaan.

Baca: Harga Emas Melonjak Meski Fed Hawkish, Bandar Bingung Cari Petunjuk

Perusahaan milik negara itu menargetkan portofolio kapasitas pembangkit mencapai 150 gigawatt (GW) pada tahun fiskal 2032, naik dari sekitar 91 GW saat ini, dan meningkat menjadi 250 GW pada tahun fiskal 2037, berdasarkan rekaman presentasi dalam pertemuan tahunan analis dan investor.

NTPC akan meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbahan bakar batu bara menjadi sekitar 91 GW, dari 67 GW saat ini.

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Vale (INCO) Kantongi Laba Rp 1,89 T di Semester 1 2026
• 2 jam lalu
0
thumb
7 Zodiak Paling Hoki soal Cinta Besok 30 Juli 2026: Libra Makin Romantis, Sagitarius Berpeluang Bertemu Sosok Istimewa
• 23 jam lalu
0
thumb
GOTO Raup Laba Rp 607,49 Miliar hingga Semester I 2026
• 21 jam lalu
0
thumb
Pemprov Jateng Salurkan BLT Rp51 Miliar bagi Pekerja Tembakau
• 11 jam lalu
0
thumb
Penanganan Radikalisme Digital Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
• 16 jam lalu
0
Berhasil disimpan.