Cuaca Surabaya cukup terik karena kemarau, tetapi hal tersebut tidak dirasakan saat memasuki kawasan Kebun Binatang Surabaya (KBS). Pohon-pohon besar nan rimbun membuat kanopi sehingga menghalangi sebagian besar sinar matahari. Cuaca yang sejuk ditambah dengan iringan suara kicau burung menjadikan KBS menjadi tempat yang cukup direkomendasikan untuk berteduh dan meninggalkan sejenak rutinitas keseharian di Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (29/7/2026).
Saat musim liburan, KBS menjadi salah satu tujuan wisata andalan. Mulai liburan Natal dan Tahun Baru, Lebaran, hingga libur-libur nasional lainnya. Pada musim libur Lebaran lalu, pengelola KBS menargetkan jumlah kunjungan mencapai 140.000 pengunjung. Pengunjung yang datang tidak hanya dari Surabaya, banyak juga yang datang dari luar Kota Surabaya.
Saat ini pembenahan terus dilakukan agar pengunjung bisa lebih nyaman dan memaksimalkan fungsi edukasi dari keberadaan KBS. Kandang-kandang kini banyak yang sudah direnovasi dengan penambahan papan informasi satwa yang lengkap.
Kebun Binatang Surabaya (KBS) merupakan salah satu kebun binatang tertua di Indonesia. KBS didirikan pada 31 Agustus 1916 atas prakarsa Herman Frederik Karel (HFK) Kommer, seorang wartawan sekaligus pencinta satwa yang bekerja di surat kabar Pewarta Soerabaia. Pada awal berdirinya, kebun binatang ini bernama Soerabaiasche Planten en Dierentuin (Kebun Botani dan Binatang Surabaya).
Kasuari. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Lemur ekor cincin. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Banded Mongoose. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Koleksi satwa pertama berasal dari hewan-hewan peliharaan milik Kommer yang dipelihara di halaman rumahnya di kawasan Kaliondo, Surabaya. Pendirian kebun binatang tersebut disahkan melalui keputusan Pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh sebuah perkumpulan yang dibentuk khusus untuk mengembangkan koleksi satwa dan kebun botani.
Seiring bertambahnya jumlah satwa, lokasi di Kaliondo tidak lagi memadai. Pada 28 September 1917, kebun binatang dipindahkan ke kawasan Grudo (Pandegiling) dengan memanfaatkan bekas kompleks pabrik gula.
Pada awalnya, masyarakat dapat mengunjungi kebun binatang secara gratis. Namun, karena biaya pemeliharaan satwa terus meningkat, sejak April 1918 pengelola mulai memberlakukan tiket masuk sebagai sumber pendanaan operasional.
Koleksi satwa dan jumlah pengunjung yang terus bertambah kembali membuat lahan di Grudo terasa sempit. Pada 1920, perusahaan kereta api Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS) menghibahkan lahan sekitar 30.400 m² di kawasan Darmo, Wonokromo, yang kemudian menjadi lokasi tetap Kebun Binatang Surabaya hingga sekarang.
Pada 21 Juli 1922, Kebun Binatang Surabaya mengalami krisis keuangan yang cukup berat sehingga sempat direncanakan untuk dibubarkan. Namun, Pemerintah Kota Surabaya turun tangan dan menyelenggarakan rapat anggota pada 11 Mei 1923 untuk menyelamatkan keberlangsungan kebun binatang.
Pengurus baru kemudian dibentuk pada tahun 1925 dan sejak saat itu manajemen mulai dibenahi sehingga perkembangan KBS kembali berjalan dengan baik.
Kandang binturong. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Kandang kera ekor panjang. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Kandang bekantan. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Kandang gajah. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Pada 1927, Pemerintah Kota Surabaya menambah luas lahan menjadi sekitar 32.000 m² dan pengembangan terus dilakukan hingga pada 1939 luas kawasan mencapai sekitar 15 hektar.
Untuk memperbaiki tata kelola, Pemerintah Kota Surabaya membentuk Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya (PDTS KBS) melalui Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2012. Langkah ini bertujuan menjadikan KBS sebagai lembaga konservasi yang dikelola secara profesional, sekaligus memperkuat fungsinya sebagai pusat konservasi, pendidikan, penelitian, dan rekreasi.
Keberadaan KBS bukan tanpa hambatan, hingga awal 2010-an, KBS menghadapi berbagai persoalan, antara lain konflik kepengurusan, masalah keuangan, kepadatan populasi satwa, kualitas kandang yang menurun, tingginya angka kematian satwa dan baru-baru ini muncul dugaan korupsi dana operasional Kebun Binatang Surabaya (KBS) periode 2016-2024 yang menjerat mantan Direktur Utama (Dirut) Choirul Anwar.
Meskipun demikian, Kepala Seksi Humas KBS Lintang Ratri Sunarwidhi memastikan bahwa saat ini operasionalisasi pakan hewan di KBS tidak berdampak atas adanya kasus dugaan korupsi di KBS periode 2016-2024. ”Jadi untuk satwa kita itu (saat ini) tidak terpengaruh dengan pakan ya, karena semua sudah sesuai porsinya. Dari dulu kita sudah punya prinsip tersendiri dan KBS itu banyak yang mengawasi,” kata Lintang.
Di tengah dinamika yang terjadi, KBS dengan semua koleksinya telah berperan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang keberagaman fauna. Saat ini tugas kita semua memantau dan menjadikan KBS sebagai milik bersama yang harus dijaga keberlangsungannya.






Komentar (0)