REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Mantan pilot Rafale Angkatan Laut Prancis, telah ditempatkan di bawah penyelidikan resmi di Paris atas dugaan aktivitas intelijen yang menguntungkan China. Pierre-Henri Chuet adalah sang pensiunan pilot yang juga menjadi Youtuber.
Chuet pernah menerbangkan pesawat tempur Super Etendard dan Rafale M dari Kapal Induk Charles de Gaulle, dihadirkan ke hadapan hakim investigasi pada 20 Juli 2026, setelah diinterogasi di kantor dinas intelijen domestik Prancis, DGSI. Rumahnya juga digeledah. Perkembangan ini pertama kali dilaporkan pada 27 Juli 2026 oleh media khusus Intelligence Online.
Baca Juga
Kemenhan Tertarik Datangkan Helikopter AW149 untuk TNI AL
Kemenhan Teken Kontrak 12 Pesawat M-346 F Block 20 untuk TNI AU
Kenaikan Tukin di Kemenhan, Eselon I Terima Rp 37,3 Juta per Bulan
Chuet menghadapi empat dakwaan: pengungkapan rahasia pertahanan nasional oleh seseorang yang dipercayakan untuk merahasiakannya, intelijen dengan kekuatan asing, pengumpulan informasi yang berkaitan dengan kepentingan fundamental negara, dan penyampaian informasi kepada kekuatan asing. Ia telah ditempatkan di bawah pengawasan yudisial.
Menurut prosedur Prancis, "mise en examen" bukanlah vonis atau keputusan untuk mengirim kasus ke pengadilan. Hal itu menunjukkan bahwa seorang hakim investigasi menganggap ada bukti serius atau bukti yang menguatkan yang membenarkan penyelidikan formal.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dilaporkan Eurasian Times, Chuet yang dilatih oleh Angkatan Laut AS, mampu enyelesaikan lebih dari 200 pendaratan di kapal induk. Dia menghabiskan delapan tahun di skuadron tempur sebelum bergabung dengan Air Canada sebagai pilot komersial. Pengalaman penerbangan kapal induknya sebagai pilot pesawat tempur Rafale M sangat berharga bagi China.
Namun, setelah pensiun, ia fokus mengembangkan channel Youtube. Bagi pemerintah Prancis, beberapa video YouTube-nya menimbulkan kontroversi besar, khususnya pada tahun lalu, ketika ia menyatakan bahwa India kehilangan jet tempur Rafale selama bentrokan dengan Pakistan pada Mei 2025.
Dalam video berjudul "UN RAFALE INDIEN PERDU FACE AU PAKISTAN ? ANALYSE D’UN PILOTE DE CHASSE (ATE CHUET)," yang diunggah pada 10 Mei 2025, ia menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa India kehilangan setidaknya satu jet Rafale satu tempat duduk selama bentrokan tersebut. Namun, konfirmasi itu dibantah pemerintah India.
Di video lain, Chuet juga memuji keunggulan sejumlah jet tempur produksi China, di antaranya Chengdu J-10C, JF-17 Thunder, dan rudal udara-ke-udara PL-15. Dia terang-terangan sangat memuji jet dan rudal produksi China tersebut.
Komentar (0)