DBS Indonesia Tetap Optimistis IHSG Tembus 8.000 di Akhir 2026, Ini Alasannya

idxchannel.com
19 jam lalu
Cover Berita

PT Bank DBS Indonesia tetap mematok target IHSG bisa menyentuh level 8.000 meskipun kondisi pasar modal di tengah bayang-bayang ketidakpastian global.

DBS Indonesia tetap mematok target IHSG bisa menyentuh level 8.000 meski kondisi pasar modal di tengah ketidakpastian global. (Foto: iNews Media/Isra Triansyah)

IDXCHannel - PT Bank DBS Indonesia tetap mematok target Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa menyentuh level 8.000 meskipun kondisi pasar modal di tengah bayang-bayang ketidakpastian global.

Head of Research  PT Bank DBS Indonesia William Simadiputra mengatakan optimisme yang lebih tinggi dibanding konsensus pasar tersebut dilatarbelakangi oleh tiga faktor utama, yakni pertumbuhan laba emiten, status indeks global, dan asumsi indikator makroekonomi.

Baca Juga:
IHSG Turun Lebih dari 1 Persen Dekati 6.000, Transisi BI, Rupiah, hingga FOMC Jadi Sorotan

"Target IHSG kami di level 8.000 memang tergolong nonconsensus (di luar konsensus pasar). Kami cenderung lebih bullish dibandingkan pasar maupun konsensus secara umum karena didasari oleh tiga faktor utama," ujar William dalam Media Briefing DBS Institutional Forum 2026, Rabu (29/7/2026).

Faktor pertama ditopang oleh kinerja fundamental emiten yang dinilai masih solid. Pertumbuhan laba bersih emiten domestik secara year-on-year mencatatkan angka 7,5 persen pada kuartal I dan 4,8 persen pada kuartal berikutnya.

Baca Juga:
Ditutup Koreksi, IHSG Kembali ke Level 6.000

Menurut William, kondisi valuasi IHSG saat ini berada di level rasio price to earnings (P/E) sebesar 9 kali atau tergolong oversold. Target 8.000 mencerminkan valuasi 13 kali P/E, yang berada pada minus satu standar deviasi relatif terhadap rata-rata 10 tahun terakhir.

"Hal ini memberikan keyakinan kepada kami bahwa terlepas dari berbagai kekhawatiran di tingkat makro, selama emiten mampu membukukan kinerja laba yang solid, penilaian valuasinya akan kembali menyesuaikan," katanya.

Faktor kedua adalah keputusan MSCI untuk mempertahankan Indonesia dalam klasifikasi Emerging Market. Langkah ini dinilai efektif membendung risiko tekanan aksi jual (sell-off) lebih lanjut dari aliran dana pasif (passive funds).

Faktor ketiga berkaitan dengan asumsi makroekonomi yang melandasi pergerakan pasar, termasuk proyeksi nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.000 per dolar AS dan tidak adanya potensi kenaikan suku bunga acuan The Fed di sisa tahun ini.

Kondisi tersebut diperkirakan akan menjaga trajektori BI Rate hanya akan naik maksimal satu hingga dua kali lagi. DBS menilai, level IHSG saat ini yang berada di 6.200 sangat undervalue dengan transaksi harian yang tipis dibandingkan 12 bulan terakhir.

"Oleh karena itu, ketika kepercayaan pasar mulai pulih seiring rilis kinerja laba kuartal kedua yang saat ini sedang berlangsung, serta potensi rotasi dana asing, mengingat kinerja relatif pasar saham Indonesia dibanding negara-negara Asia lainnya tercatat sedikit underperform, Indonesia memiliki ruang untuk mengejar ketertinggalan kinerjanya terhadap kawasan ASEAN secara keseluruhan," katanya.

(Rahmat Fiansyah)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
PT Vale Diduga Langgar Komitmen HAM, TRK Desak Holding Jatuhkan Sanksi Tegas
• 17 jam lalu
0
thumb
Kementerian Transmigrasi Terjunkan Tim Ekspedisi Patriot 2026 Dorong Ekonomi Daerah
• 16 jam lalu
0
thumb
Hasil Investigasi Kemenkes Terkait Meninggalnya Dokter Internship Siti Zahra
• 9 jam lalu
0
thumb
Banding Teddy Pardiyana Soal Warisan Lina Jubaedah Dikabulkan, Ini Jawaban Sule
• 5 jam lalu
0
thumb
Upaya Kurangi Timbunan Sampah Jakarta Lewat TPS3R Menteng Atas
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.