Jayapura Ditinggal Perantau, Mereka yang Bertahan Jadi Obat Rindu hingga Banjir Pekerjaan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Kota Jayapura mulai lengang ditinggal perantau mudik Lebaran. Sebagian yang bertahan kebanjiran pekerjaan hingga menjadi obat rindu kampung halaman.

Kota Jayapura, Papua, adalah salah satu magnet di timur Indonesia. Banyak orang datang ke sana untuk mengadu nasib. Selain daerah-daerah di tanah Papua, tidak sedikit mereka datang dari Pulau Jawa hingga Pulau Sulawesi.

Mereka bertarung di berbagai sektor vital, mulai dari transportasi, usaha bahan bakar, rumah makan, hingga jasa perawatan diri. Di lain sisi, kehadiran perantau ikut meringankan warga lainnya mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Saat momen Lebaran, hubungan saling menguntungkan itu untuk sementara mengambil jeda. Sejak minggu pertama Maret 2026, 15.000 orang meninggalkan Pelabuhan Jayapura. Sementara itu, 89.000 orang lainnya terbang lewat Bandar Udara Sentani.

Perantau pulang kampung. Mereka yang tinggal menjadi harapan warga lainnya.

Daniel Wanimbo (25), juru pangkas rambut di Barber Gangs, misalnya, kebanjiran pekerjaan. Tempat bekerjanya di Distrik Abepura, diserbu pelanggan.

“Seminggu hingga sehari sebelum Lebaran, pelanggannya meningkat. Bisa tiga kali lipat dibandingkan hari biasa,” kata Daniel, Kamis (19/3/2026).

Daniel berasal dari Tolikara, Papua Pegunungan. Namun, sejak delapan tahun terakhir, ia memilih tinggal di Jayapura.

Hampir setiap Lebaran, ia bersama tiga rekannya di Barber Gangs setia melayani pelanggan. Daniel dan rekan-rekannya menjadi andalan warga yang ingin tampil terbaik saat hari raya.

Potongan rambut yang menarik, kata Daniel, bisa saja mengalihkan pertanyaan-pertanyaan klasik khas Lebaran. Pertanyaan seperti kerja di mana? kapan nikah? sudah punya ini atau itu? bisa saja meluncur dari sanak kerabat. Bila tidak siap, sengatannya rawan menyerang mental siapa saja.

“Oleh karena itu, walaupun banyak yang antre, kami selalu mengupayakan hasil terbaik,” ucap Daniel.

Baca JugaKM Ciremai, Lebaran bersama Lautan hingga Pelayanan dalam Perjalanan yang Panjang
Urusan perut

Selain perkara rambut, urusan perut juga menjadi kebutuhan krusial saat momen Lebaran. Kali ini, kemampuan Imron (60) meracik soto menjadi andalan. Pemilik warung makan soto asal Lamongan, Jawa Timur, ini memilih tidak mudik pada momen Lebaran kali ini.

“Biasanya mudik dua atau tiga tahun sekali. Tahun ini, kami rencana mudik di bulan Agustus. Kebetulan ada acara keluarga. Jadi, sekarang kami memutuskan tetap buka warung,” ujar Imron, yang telah 20 tahun lebih merantau di Jayapura.

Ia sadar, banyak perantau meninggalkan Jayapura. Namun, Imron memilih tetap melayani pelanggan walaupun tidak seramai biasanya.

Keputusan Imron sangat berarti. Perantau atau warga lokal tak perlu cemas. Setidaknya, mereka masih bisa makan enak saat sebagian besar rumah makan menutup pintu dan jendelanya.

Soto yang kadang menjadi sajian saat Lebaran bisa saja mengobati kerinduan para perantau yang belum sempat pulang.

Baca JugaMudik dan Tradisi Lebaran ala Komunitas Islam Wamena di Jayapura

Imron yakin, soto buatannya tidak hanya memadamkan lapar. Khusus bagi perantau asal Pulau Jawa yang tidak bisa pulang kampung, sotonya bisa jadi obat rindu.

“Sebagian (warga lokal), beberapa hari setelah Idul Fitri juga biasanya ada yang mulai bosan dengan masakan Lebaran. Mereka akan datang beli soto,” katanya.

Energi Lebaran

Peran Milka Hanasbey (38), petugas di SPBU di daerah Kotaraja, Abepura, juga sama. Saat masa libur Lebaran, ia bersama petugas lainnya tetap melayani masyarakat.

Tanpa bahan bakar minyak, jangan harap semua aktivitas bisa berjalan lancar. Urusan wisata hingga silaturahmi bisa berantakan bila kendaraan tak terisi bahan bakar.

Baca JugaSelama Masa Mudik, Konsumsi BBM di Maluku-Papua Diprediksi Meningkat

Sejauh ini, Milka masih mengikuti aturan perusahaan melayani masyarakat setiap hari dalam sistem kerja dua kali shift. Ada yang masuk dari jam 06.00-14.00 WIT. Ada juga yang masuk pukul 14.00-21.00 WIT.

“Kami tetap semangat melayani, walaupun kerja di hari libur. Ini sudah tugas kami,” ujar Milka.

Serupa, meski lengang, Kepala Polresta Jayapura Komisaris Besar Fredrickus Maclarimboen menjamin Jayapura bakal tetap aman. Keamanan perayaan Idul Fitri akan menjadi prioritas utama.

Hal ini diimplementasikan dengan pelaksanaan Operasi Ketupat Cartenz 2026. Perkembangan situasi kota terus dipantau melalui tujuh pos pengamanan yang tersebar di lima distrik di Jayapura.

“Mari bersama elemen masyarakat saling bersinergi menjaga dan memelihara keamanan dan ketertiban. Bila terjadi gangguan, silahkan hubungi call center gratis dari kepolisian, lewat 110,” ucapnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Diplomasi Energi di Tokyo, Bahlil Lahadalia Amankan Kerja Sama Strategis Mineral dan Nuklir
• 21 jam lalupantau.com
thumb
Pekerja Meninggal karena Kepala Kejepit Mesin Cetak
• 15 jam lalurealita.co
thumb
Hasil Liga Champions: Barcelona Hujani Newcastle Tujuh Gol di Camp Nou dan Lolos ke Perempat Final
• 16 jam lalumedcom.id
thumb
Baim Wong Ajak Aktor Down Syndrome di Film Terbarunya, Ingin Beri Kesempatan
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
PLBN Jagoi Babang Dirikan Posko Terpadu Idulfitri, Perkuat Layanan dan Keamanan Perbatasan Indonesia-Malaysia saat Lebaran
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.