REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno menegaskan pentingnya menjaga tradisi “Andilan Kebo” sebagai wujud nyata semangat gotong royong masyarakat Betawi di tengah dinamika kehidupan kota metropolitan.
Hal tersebut disampaikan Rano saat menghadiri kegiatan Andilan Kebo yang digelar Forum Betawi Rempug (FBR) di Taman Kerempugan Korwil FBR, Jakarta Timur, Kamis.
- Lebih dari 100 Ribu Pemudik Ikuti Program Mudik Gratis BUMN 2026
- Lebaran dan Permintaan Fleet Dorong Penjualan Suzuki Naik 64 Persen pada Februari 2026
- Bulog Salurkan Bantuan Pangan ke 1,26 Juta Warga Lampung Jelang Lebaran 2026
“Dengan semangat kebersamaan melalui Andilan Kebo ini, saya jujur agak terkejut. Ternyata di Jakarta masih ada kegiatan seperti ini. Saya jadi ingat masa kecil saya di Kemayoran, ketika masyarakat saling berbagi sesuai kemampuan,” ujarnya.
Rano menjelaskan, Andilan Kebo merupakan tradisi patungan warga untuk membeli hewan ternak, biasanya kerbau, yang kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada masyarakat. Besaran kontribusi tidak ditentukan, melainkan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing warga.
Menurut dia, pola tersebut mencerminkan nilai keadilan sosial sekaligus kebersamaan. Warga yang berkontribusi lebih besar akan menerima bagian lebih banyak, sementara yang memberi lebih sedikit tetap mendapatkan bagian sesuai kemampuan.
“Yang patungannya besar mendapat lebih banyak, yang kecil mendapat lebih sedikit. Namun, esensinya adalah kebersamaan sebagai tetangga. Semua berpartisipasi sesuai kemampuan,” kata dia.
Rano menilai tradisi ini tetap relevan di tengah kehidupan modern Jakarta. Selain mempererat hubungan sosial, Andilan Kebo juga menjadi sarana berbagi bagi masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam momentum hari besar keagamaan seperti Idul Fitri.
Ia juga menyoroti masih adanya warga yang mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pangan, termasuk konsumsi daging. Karena itu, tradisi ini dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat.
“Ini menjadi komitmen kami agar tradisi ini terus berlangsung setiap tahun,” ujarnya.
Secara historis, Andilan Kebo berakar dari kehidupan masyarakat Betawi tempo dulu yang sangat menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan gotong royong. Pada masa itu, warga kampung kerap menghadapi keterbatasan ekonomi, sehingga kebutuhan besar, seperti penyediaan hewan kurban atau konsumsi bersama, dilakukan secara kolektif.
Kata “andilan” sendiri dalam bahasa Betawi berarti iuran atau patungan. Tradisi ini muncul sebagai solusi praktis sekaligus kultural untuk memenuhi kebutuhan bersama tanpa memberatkan satu pihak. Dengan cara ini, semua warga tetap dapat merasakan manfaat, meski dengan kemampuan ekonomi yang berbeda.
Dalam perkembangannya, kerbau dipilih sebagai hewan utama karena dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi serta mampu memenuhi kebutuhan banyak orang dalam satu waktu. Selain itu, kerbau juga memiliki kedekatan historis dengan kehidupan agraris masyarakat Betawi di masa lalu.




