Liputan6.com, Jakarta - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan Pemerintah Jepang tengah berupaya mencari pemasok bahan mentah dan sumber energi alternatif di tengah krisis energi di Selat Hormuz akibat konflik yang terjadi di Iran.
Takaichi juga menyatakan kesiapan untuk menerapkan langkah tambahan secara fleksibel guna mendukung masyarakat dan ekonomi nasional jika kenaikan harga berlangsung berkepanjangan.
Advertisement
"Kami bekerja sama dengan para menteri untuk mengamankan sumber pasokan alternatif bagi barang yang berpotensi tidak tersedia," ujar Takaichi dalam Rapat Komite Anggaran Majelis Tinggi Parlemen Jepang, melansir Antara, Rabu 18 Maret 2026.
Ia mengatakan, pemerintah sedang mempertimbangkan berbagai skenario mengingat situasi di Timur Tengah masih belum pasti. Langkah tersebut diambil demi menjaga kesejahteraan masyarakat.
"Jika krisis berlanjut, kami akan mengambil langkah fleksibel untuk memastikan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga," ucap Takaichi.
Pemerintah Jepang telah memutuskan menggunakan sisa dana cadangan untuk menjaga harga bahan bakar, sementara subsidi akan mulai berlaku pada 19 Maret. Selain itu, pemerintah juga sudah mulai melepas cadangan minyak.
Langkah ini diharapkan mampu meredam dampak lonjakan harga energi global terhadap sektor industri dan rumah tangga di Jepang.
Pemerintah terus memantau perkembangan situasi geopolitik dan dinamika pasar energi internasional secara berkala untuk memastikan semuanya berjalan dengan aman.
Koordinasi dengan negara mitra dan organisasi internasional, kata Takaichi, turut diperkuat untuk menjaga stabilitas pasokan dan meminimalkan risiko gangguan energi.

/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F03%2F19%2Fac3b5dc6f720cb2066abb79bf29ea211-WhatsApp_Image_2026_03_19_at_17.07.34.jpeg)


