REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lonjakan investasi China pada sektor mineral kritis global telah mendorong pertumbuhan industri nikel Indonesia dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat produksi nikel dan rantai pasok baterai kendaraan listrik. Namun, selain menghasilkan manfaat ekonomi, masifnya pertumbuhan industri nikel di Tanah Air juga menimbulkan dampak lingkungan serius.
Laporan terbaru Climate Energy Finance (CEF) yang berjudul "China locks-in global dominance of critical minerals and metals with US$120 billions outbound investment surge" mencatat, investasi besar-besaran China di sektor pertambangan, peleburan, dan pemurnian nikel di Indonesia mencapai lebih dari 65 miliar dolar AS sejak kebijakan hilirisasi diimplementasikan.
- Eco Bhinneka Muhammadiyah Ajak Disabilitas Lintas Iman Jaga Lingkungan
- Krisis Lingkungan Ancam Jakarta, Pengesahan Raperda RPPLH Dinilai Mendesak
- Apa Itu Eco Enzyme? Cairan Serbaguna dari Sampah Organik yang Ramah Lingkungan
Angka ini lebih dari separuh dari total investasi global China untuk mengamankan pasokan mineral kritis bagi transisi energi yang mencapai 120 miliar dolar AS sejak 2023 hingga saat ini. Negara-negara di belahan Bumi bagian selatan (Global South), termasuk Indonesia, menjadi fokus investasi terbaru China.
"Di banyak negara Global South, perusahaan China tidak hanya berfokus pada ekstraksi, namun juga mendorong pembangunan industri pengolahan domestik dan peningkatan nilai tambah. Mereka menginvestasikan modal pada infrastruktur pendukung, menciptakan lapangan kerja terampil, serta memfasilitasi transfer teknologi sebagai timbal balik atas akses jangka panjang terhadap rantai pasok komoditas strategis," kata Analis Transformasi Net Zero CEF Matt Pollar dalam pernyataannya, Selasa (19/3/2026).
Masifnya investasi China di industri pengolahan nikel tak lepas dari adanya kebijakan pelarangan ekspor bijih nikel mentah yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2014. Kombinasi kebijakan tersebut dan gencarnya investasi China mendorong Indonesia menjadi produsen nikel terbesar di dunia, dengan kepemilikan 22 persen cadangan nikel dunia.
Beberapa perusahaan China seperti Tsingshan Holding Group Co, Contemporary Amperex Co Ltd (CATL), dan Zhejiang Huayou Cobalt menjadi aktor utama dalam ekspansi industri nikel di Indonesia. CEF mengungkapkan Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah dan Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera merupakan wujud investasi China tersebut.
Kawasan yang mengintegrasikan seluruh rantai industri nikel tersebut memberikan manfaat ekonomi yang cukup besar, seperti nilai ekspor tinggi dari produk turunan nikel, penciptaan lapangan kerja, serta peluang menjadi pusat manufaktur kendaraan listrik di Asia Tenggara.




