Konflik AS–Iran: Bagaimana Nasib Petrodollar?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran bukan sekadar perang militer. Di balik dentuman rudal dan ketegangan geopolitik, terdapat pertarungan yang lebih sunyi, tapi tak kalah menentukan: masa depan sistem petrodollar.

Sejak awal 2026, eskalasi konflik telah mengguncang salah satu jalur energi paling vital dunia, Selat Hormuz. Jalur ini mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak global.

Ketika ancaman gangguan muncul, harga energi melonjak dan pasar global diliputi ketidakpastian. Dalam beberapa pekan terakhir sejak konflik memanas, indeks dolar AS (DXY) tercatat menguat sekitar 3% dalam sebulan terakhir dan mendekati level tertinggi tahunannya.

Hal ini mencerminkan peningkatan permintaan global terhadap dolar sebagai aset aman. Dalam situasi krisis seperti ini, investor beralih ke dolar AS sebagai safe haven, sementara kebutuhan dolar meningkat seiring kenaikan harga minyak. Di sinilah relevansi petrodollar kembali menguat.

Sistem petrodollar—yakni tatanan di mana perdagangan minyak global didominasi oleh dolar AS—telah lama menjadi fondasi kekuatan ekonomi Amerika Serikat. Sistem ini terbentuk setelah runtuhnya sistem Bretton Woods pada 1971 dan dipertegas melalui kesepakatan strategis antara Amerika Serikat dan Arab Saudi pada pertengahan 1970-an, yang kemudian diikuti oleh negara-negara OPEC.

Dalam kerangka ini, minyak global diperdagangkan dalam dolar, sementara surplus pendapatan minyak diinvestasikan kembali ke pasar keuangan Amerika.

Dengan kata lain, jika sebelumnya dolar ditopang oleh emas, dalam praktik modern setelah perjanjian “Petrodollar”, dolar AS ditopang oleh minyak. Ketika harga minyak naik akibat konflik, negara-negara pengimpor energi membutuhkan lebih banyak dolar.

Ketidakpastian global pun mendorong arus modal menuju aset berbasis dolar. Kombinasi ini mempertebal dominasi dolar, setidaknya dalam jangka pendek. Namun, dinamika ini tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan strategi geopolitik yang lebih luas.

Berbagai analis menyebutkan bahwa dinamika politik di Venezuela dapat dipandang sebagai “insurance payment on a war with Tehran”. Venezuela—dengan cadangan minyak terbesar di dunia—menjadi variabel strategis dalam skenario terganggunya pasokan dari Timur Tengah.

Dengan kata lain, konflik di Timur Tengah dan dinamika politik di Amerika Selatan tidak sepenuhnya terpisah. Keduanya terhubung melalui satu benang merah, yakni kontrol atas rantai pasok energi global.

Logika ini sejalan dengan kepentingan mempertahankan petrodollar. Selama perdagangan minyak tetap bergantung pada dolar, stabilitas dan pengendalian suplai minyak menjadi bagian dari kepentingan strategis untuk menjaga hegemoni dolar di pasar global.

Di sisi lain, Iran justru berada di sisi yang menantang sistem ini. Di tengah sanksi Barat, Iran mengembangkan jalur perdagangan minyak non-dolar, terutama dengan pasar Asia seperti Tiongkok. Bahkan dalam kondisi konflik, Iran tetap mampu mengekspor minyak dalam jumlah signifikan melalui mekanisme alternatif. Ini menunjukkan bahwa dominasi petrodollar mulai menghadapi erosi struktural.

Lebih jauh, konflik ini justru mempercepat tren de-dollarization. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara anggota BRICS semakin aktif mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional, termasuk energi. Tiongkok, misalnya, memperluas penggunaan yuan dalam transaksi minyak melalui pasar berjangka Shanghai, sekaligus memperkuat kerja sama energi dengan negara-negara produsen minyak.

Bagi banyak negara, ketergantungan pada dolar kini tidak hanya menjadi isu ekonomi, tetapi juga risiko geopolitik, terutama dalam konteks sanksi dan tekanan finansial global.

Akibatnya, upaya diversifikasi mata uang dalam perdagangan minyak semakin mendapat momentum, ditambah lagi dengan agenda transisi industri energi menuju energi terbarukan. Konflik AS-Iran dapat memperkuat dolar dalam jangka pendek, tetapi sekaligus mempercepat munculnya alternatif dalam jangka panjang.

Dengan demikian, konflik ini bukan hanya soal keamanan regional atau rivalitas politik. Ia adalah bagian dari pertarungan yang lebih luas mengenai siapa yang mengendalikan energi dan pada akhirnya siapa yang mengendalikan sistem keuangan global. Petrodollar tidak hanya diuji oleh dinamika pasar, tetapi juga oleh strategi geopolitik lintas kawasan—dari Selat Hormuz hingga Caracas.

Dan di sanalah, nasibnya benar-benar sedang dipertaruhkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Arus Mudik di Bandara Soetta, Jumlah Penumpang Capai 184.754 Orang
• 21 jam laludetik.com
thumb
PSG Tampil Dominan dan Singkirkan Chelsea, Luis Enrique Sebut Timnya Tunjukkan Kualitas Sesungguhnya
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Penghuni Huntara di Kayu Pasak Kabupaten Agam Terima Santunan Lebaran
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Lengkap! Jadwal 7 Wakil Indonesia di 16 Besar Orleans Masters 2026: Ginting hingga Amri/Nita Siap Tempur
• 5 jam laluviva.co.id
thumb
Foto: Kerja Fleksibel Saat Lebaran, WFA Diterapkan
• 17 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.