WASHINGTON, KOMPAS.TV - Pejabat intelijen Amerika Serikat (AS) mengatakan rezim Iran masih utuh, namun menurutnya sebagian besar telah melemah.
Hal itu diungkapkan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard dan pejabat tinggi pemerintahan Trump lainnya saat memberikan kesaksian di sidang kongres selama lebih dari dua jam tentang ancaman global terhadap AS.
Ini adalah pengalaman publik pertama tentang intelijen sejak perang dimulai pada akhir Februari.
Baca Juga: Iran Ancam Serang Fasilitas Energi di Timur Tengah sebagai Pembalasan, Dianggap Target Sah
Gabbard, yang mengkoordinasikan operasi intelijen negara, juga mengatakan AS telah mengantisipasi masalah di Selat Hormuz.
“IC (komunitas intelijen) menilai rezim di Iran tampaknya masih utuh, tetapi sebagian besar telah melemah karena serangan terhadap kepemimpinannya dan kemampuan militernya,” tuturnya, Rabu (19/3/2026) dikutip dari BBC.
Gabbard juga bicara mengenai serangan AS-Israel di Timur Tengah. Menurutnya komunitas intelijen telah melakukan penilaian, bahwa Iran mencoba memulihkan diri dari kerusakan parah pada infrastruktur nuklirnya yang dialami selama perang 12 hari, dan menolak mematuhi kewajiban nuklirnya.
Pada kesempatan itu, Gabbard juga menolak menjawab saat berulang kali ditanya Senator Jon Ossoff, apakah ia memandang Iran sebagai ancaman nyata.
“Satu-satunya orang yang dapat menentukan apa yang merupakan ancaman nyata dan apa yang bukan adalah presiden,” ucapnya.
Sebelumnya, pada Selasa (17/3/2026), Direktur Pusat Kontra-Terorisme Nasional, Joe Kent mengundurkan diri dari jabatannya.
Penulis : Haryo Jati Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : BBC
- iran
- intelijen as
- pejabat intelijen as
- rezim iran
- tulsi gabbard





