Bisnis.com, JAKARTA — Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut program revitalisasi irigasi menjadi salah satu kunci utama dalam meningkatkan produktivitas pertanian nasional, terutama untuk mendorong peningkatan luas panen tanpa harus menambah lahan sawah.
“Jadi yang mengerjakan revitalisasi-revitalisasi irigasi adalah Kementerian PU, di sana ada Direktorat Jenderal Sumber Daya Air. Nah, koordinasi dengan Kementerian Pertanian, usernya kan Pertanian, karena di ujungnya kan air ini harus sampai ke tanaman,” ujar Sudaryono di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (18/3/2026).
Dia menjelaskan, koordinasi antara kementerian menjadi kunci pelaksanaan program revitalisasi infrastruktur pertanian termasuk pelaporan dari tingkat bawah hingga sinkronisasi data.
“Nah, Direktur Irigasi berkoordinasi dengan seluruh Gapoktan, seluruh dinas, dan seluruh luas baku sawah kita yang terdampak irigasi kan, irigasi yang rusak, itu kemudian dilaporkan ke Kementan, kemudian disinkronisasi dengan Kementerian PU, kemudian dikerjakan. Nah, kira-kira gitulah,” lanjutnya.
Menurutnya, pelaksanaan Inpres irigasi tidak memiliki kendala besar, selain pada aspek validitas dan kecepatan data dari lapangan. “Mungkin kalau ditanya kendalanya apa, saya kira mungkin kendalanya tinggal bagaimana cepatnya dan validnya data dari bawah. Jadi lebih baik numpuk dobel lapor daripada tidak ada yang lapor,” katanya.
Sudaryono juga menyoroti pentingnya ketersediaan air dalam mendukung produktivitas pertanian. Saat ini, lahan sawah yang memiliki irigasi (irrigated) baru sekitar 24% dari total luas baku sawah nasional. Pemerintah menargetkan angka tersebut dapat meningkat menjadi 50% dalam waktu dekat.
Baca Juga
- Update Harga Emas Antam Hari Ini Kamis (19/3/2026) di Gerai Resmi, Buyback Turun -Rp83.000
- Harga Minyak Global Melonjak Tajam Usai Perang Iran Vs AS-Israel Targetkan Fasilitas Energi
- The Fed Tahan Suku Bunga Acuan dalam FOMC Maret 2026
“Air ini menjadi penting. Kalau pupuk itu bisa diproduksi di pabrik, benih bisa diciptakan karena kebutuhannya kecil, yang tidak bisa orang ciptakan itu adalah air,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa peningkatan produksi tidak selalu bergantung pada perluasan lahan, melainkan pada intensitas tanam.
“Sehingga yang dimaksud tadi lahan baku sawahnya mungkin nggak nambah tapi nanamnya lebih banyak karena ketersediaan airnya itu,” katanya.
Sebagai ilustrasi, Sudaryono menyebut luas baku sawah nasional sekitar 7 juta hektare, namun luas panen bisa mencapai 10 juta hingga 11 juta hektare karena adanya lahan yang ditanami lebih dari satu kali dalam setahun.
“Jadi bisa lihat lahannya 7 juta, panennya itu 10 juta, karena ada lahan-lahan yang panennya lebih dari satu kali,” jelasnya.
Kementerian PU Targetkan Perluasan Irigasi 750.000 Hektare
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum Wida Nurfaida menambahkan bahwa pemerintah telah merealisasikan pembangunan dan revitalisasi irigasi seluas 653.158 hektare pada tahun sebelumnya, dengan anggaran sekitar Rp10,1 triliun hingga Rp10,15 triliun dari total alokasi Rp12 triliun.
Dengan sinergi antar kementerian dan percepatan pembangunan irigasi, pemerintah optimistis produktivitas pertanian nasional akan terus meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dalam jangka panjang.
“Untuk target next-nya di 2026 targetnya memang sesuai yang disampaikan dari Kementerian Pertanian ada 750.000 hektare ya. 752.000 hektare memang saat ini belum ada alokasinya namun teman-teman di Sumber Daya Air sudah menyiapkan kesiapan, koordinasi dengan Kementerian Pertanian,” ujar Wida.





