Air Keras dari Orang Dalam

republika.co.id
10 jam lalu
Cover Berita

Oleh Ahmadie Thaha, Kolumnis

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ramadhan, bulan yang biasanya penuh kelembutan, tiba-tiba disiram dengan cairan paling tidak manusiawi: air keras. Dan seperti drama klasik negeri ini, pelaku awalnya hadir sebagai bayangan. Ia misterius, tapi dibumbui foto-foto jelas hasil kecerdasan buatan.

Baca Juga
  • Dam Pulang Kampung
  • Perangkap Pemimpin Jahat
  • Untung dari Perang

Alkisah, Kamis malam, 12 Maret 2026. Jalanan Jakarta Pusat yang biasa sibuk dengan urusan duniawi mendadak menjadi panggung tragedi. Andrie Yunus, aktivis KontraS, pulang dari sebuah podcast di kantor YLBHI. Podcast, yang biasanya hanya melahirkan opini panas, kali ini seperti mengundang air panas dalam bentuk yang jauh lebih brutal. Dua motor, empat orang, dan satu keputusan keji, maka sejarah pun tercatat dengan cara yang menyesakkan.

Bayangkan tubuh disiram air keras. Nama air keras saja sudah seperti puisi yang salah alamat. Air itu lembut, mengalir, menenangkan; tapi ketika diberi embel-embel “keras”, ia berubah menjadi paradoks yang kejam. Secara kasat mata, cairan ini sering tampak bening, tak berwarna, nyaris seperti air minum yang polos dan tidak berdosa.

/* Make the youtube video responsive */ .iframe-container{position:relative;width:100%;padding-bottom:56.25%;height:0 ;margin : 14px 0px 15px 0px}.iframe-container iframe{position:absolute;top:0;left:0;width:100%;height:100%}
.rec-desc {padding: 7px !important;}

Namun di balik transparansinya, ia senyawa kimia korosif, seperti asam sulfat atau asam klorida, yang bekerja dengan reaksi kimia. Ia melarutkan jaringan, membakar kulit, merusak sel hingga ke lapisan terdalam. Ia tidak sekadar melukai, tapi menghapus. Itulah sebabnya tubuh Andrie Yunus terbakar hingga 24 persen, bersama kornea matanya harus dioperasi, karena air yang tampak jinak itu sesungguhnya api yang memilih wujud cair.

Dan negara ini, seperti biasa, punya cara unik dalam mengungkap misteri, bukan lewat satu kamera, tapi 86 titik CCTV. Seolah-olah Jakarta mendadak menjadi kota paling diawasi di dunia, dengan 2.610 potongan gambar yang dirajut menjadi narasi kejahatan. Berasal dari rekaman tilang elektronik hingga kamera warga yang mungkin sehari-hari merekam kucing, semuanya berbicara sebagai fakta.

Wajah-wajah itu akhirnya muncul begitu jelas. Tidak lagi berupa sketsa AI yang terlalu rapi untuk ukuran penjahat, tapi wajah nyata yang tegang, tergesa, dan ironisnya sangat tidak manusiawi. Di situlah paradoksnya. Kejahatan paling tidak manusiawi justru dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya. Bahkan bukan sembarang manusia, tapi berpangkat.

Nama-nama itu kemudian diumumkan dalam sebuah konferensi pers yang disiarkan langsung kepada publik. Meluncurlah nama-nama yang masih disembunyikan dengan inisial, mulai dari Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW, hingga Serda ES. Empat orang. Yang tiga berpangkat perwira. Sebuah realitas pahit. Mereka bukan preman jalanan, bukan kriminal improvisasi, melainkan bagian dari sistem yang seharusnya menjaga keamanan.

Di titik ini, publik seperti tersengat kesadaran yang lebih tajam dari air keras itu sendiri. Pelaku bejat itu bukan “orang luar”, melainkan orang dalam. Di sinilah ironi itu mencapai puncaknya yang hampir absurd. Para pelaku bukan sekadar anggota TNI biasa, melainkan berasal dari Denma BAIS — Detasemen Markas Badan Intelijen Strategis TNI.

BAIS sendiri adalah otak intelijen militer negara. Lembaga ini bertugas membaca tanda-tanda zaman sebelum orang lain sempat bertanya “ada apa ini?”. Mereka bertugas melakukan analisis strategis, deteksi dini ancaman, operasi intelijen pertahanan, hingga pengamanan informasi rahasia negara, khususnya di masa perang.

Singkatnya, jika negara ini punya “indra keenam” untuk mencium bahaya, maka BAIS adalah hidungnya. Lembaga ini berada langsung di bawah Panglima TNI, dipimpin jenderal bintang tiga, dan menjadi rujukan dalam membaca ancaman dari level taktis sampai geopolitik global. Maka ketika sebagian kecil dari elemen di dalamnya justru terlibat dalam tindakan brutal terhadap warga sipil, publik bukan hanya kaget, tapi geram.

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.
Advertisement

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Wafat di Singapura, Michael Bambang Hartono Akan Dikebumikan di Sini
• 1 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Profil dan Harta Kekayaan Gus Alex, Stafsus Eks Menag Yaqut Cholil Qoumas yang Ditahan KPK Imbas Korupsi Kuota Haji
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Aparat Gabungan TNI-Polri Tembak Mati Anggota KKB di Nabire yang Masuk DPO Sejak 2025
• 20 jam lalupantau.com
thumb
Warga Agusen optimistis pemulihan lahan pertanian segera terealisasi
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Main di Dune, Zendaya Akui Tumbuh Bersama Karakter Chani
• 19 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.