Eks Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Ungkap Pembungkaman Intelijen Sebelum Perang Iran Meletus

mediaindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita

MANTAN Direktur Pusat Kontraterorisme Nasional Amerika Serikat, Joe Kent, melontarkan pernyataan mengejutkan terkait proses pengambilan keputusan Presiden Donald Trump sebelum meluncurkan perang melawan Iran. Kent menyebut banyak pengambil keputusan penting sengaja dihalangi untuk memberikan pendapat mereka kepada Presiden.

Dalam wawancara bersama Tucker Carlson, Kent membandingkan proses saat ini dengan serangan AS ke situs nuklir Iran tahun lalu yang menurutnya masih diwarnai "debat yang kuat". Namun, dalam eskalasi terbaru ini, mekanisme kontrol dan keseimbangan dari komunitas intelijen justru ditiadakan.

"Menjelang iterasi terakhir ini, sejumlah besar pengambil keputusan utama tidak diizinkan datang dan menyampaikan pendapat mereka kepada presiden," ujar Kent. Ia menambahkan bahwa kemampuan komunitas intelijen untuk memberikan penilaian objektif atau sanity check saat memberikan pengarahan kepada presiden "sebagian besar dibungkam."

Baca juga : Pejabat Intelijen AS Kompak Klaim Trump Soal Ancaman Nuklir Iran Tak Terbukti

Perbedaan Sikap Petinggi Intelijen

Kesaksian Kent ini seolah terkonfirmasi dalam sidang ancaman global di Senat. Sidang tersebut memperlihatkan kontras yang tajam antara Direktur Intelijen Nasional (DNI) Tulsi Gabbard dan Direktur CIA John Ratcliffe.

Gabbard, yang posisi jabatannya dikabarkan sedang terancam, tampak sangat berhati-hati agar tidak berseberangan dengan Gedung Putih. Ia bahkan kedapatan menghilangkan bagian penting dari penilaian intelijen yang menyatakan bahwa program nuklir Iran sebenarnya telah "hancur total" akibat pemboman AS dan Israel tahun lalu.

Penghilangan fakta tersebut disoroti oleh Senator Mark Warner dari Partai Demokrat. Gabbard terlihat berusaha keras untuk tidak membantah klaim Presiden Trump bahwa perang saat ini dipicu oleh "ancaman mendesak" dari program nuklir Iran. Hal ini ironis mengingat Gabbard pernah mencalonkan diri sebagai presiden pada 2020 dengan platform anti-perang, khususnya menentang perang dengan Iran.

Baca juga : Mundurnya Direktur Kontraterorisme AS Joe Kent Buat Retak di Internal Trump

Kontradiksi Soal Keterlibatan Rusia

Di sisi lain, Direktur CIA John Ratcliffe menunjukkan sikap yang lebih independen. Ia secara terbuka tidak sejalan dengan narasi Gedung Putih terkait keterlibatan Rusia dalam konflik ini.

Sebelumnya, negosiator utama Trump untuk Iran, Steve Witkoff, menyatakan Vladimir Putin telah membantah memberikan bantuan militer kepada Iran. Witkoff menyebut pihak AS memercayai kata-kata Putin tersebut. Namun, saat ditanya dalam sidang hari Rabu, Ratcliffe dengan tegas menyatakan hal yang berbeda.

"Saya tidak memercayai kata-kata Putin," ujar Ratcliffe. Ia bahkan menawarkan untuk memberikan rincian lebih lanjut mengenai dukungan Rusia terhadap Iran, termasuk pasokan drone dan bantuan satelit untuk menargetkan militer AS, dalam sidang tertutup berikutnya.

Pengunduran diri publik Joe Kent, yang merupakan ajudan terdekat Gabbard, semakin menyudutkan posisi DNI. Kent secara terbuka mengkritik keputusan Trump untuk berperang dan menegaskan Iran tidak memberikan ancaman mendesak bagi Amerika Serikat. (BBC/CNN/Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ini Daftar Layanan Pertamina yang Dibutuhkan saat Mudik Lebaran 2026 di Sumbar
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Kirim Paket ke Luar Negeri Jelang Lebaran, Simak 5 Tips Berikut Ini
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jemaah Tatarekat Syattariyah Nagan Raya Aceh Rayakan Idul Fitri Hari Ini
• 8 jam laluviva.co.id
thumb
Mendagri: Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Atasi Backlog Perumahan
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
YLBHI Duga Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Operasi Besar Sistematis dan Terorganisasi
• 19 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.