Penulis: Aan Muzhar
TVRINews, Palembang
Suasana Ramadan di Palembang dimanfaatkan para pelaku seni sebagai ruang silaturahmi sekaligus membahas masa depan kebudayaan. Kegiatan yang digelar di Gedung Kesenian Palembang, pada Senin kemarin, mempertemukan seniman lintas generasi dalam diskusi hangat dan buka puasa bersama.
Agenda yang digagas Dewan Kesenian Palembang ini tidak hanya menjadi tradisi Ramadan, tetapi juga forum strategis membahas berbagai persoalan seni di Kota Pempek, mulai dari regenerasi hingga ruang berekspresi.
Ketua Dewan Kesenian Palembang, M. Nasir, menegaskan pentingnya keberlanjutan forum kebudayaan demi menjamin masa depan seniman.
“Kita ingin memastikan para seniman memiliki masa depan yang jelas. Aktivitas berkesenian perlu payung hukum agar terlindungi dan berkembang optimal,” ujar M. Nasir, Rabu, 18 Maret 2026.
Diskusi bertema “Nasib Seniman dari Masa ke Masa – Gedung Kesenian Palembang” menghadirkan budayawan Vebri Al Lintani dan akademisi seni Hasan MSn. Keduanya mengajak peserta merefleksikan perjalanan seni Palembang, dari akar tradisi hingga perkembangan seni kontemporer.
Sejumlah isu mengemuka dalam forum, seperti regenerasi seniman, keterbatasan ruang ekspresi, serta pentingnya kebijakan yang mendukung perkembangan seni.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Palembang, Ki Agus Sulaiman Amin, menilai kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi lintas unsur.
“Pembangunan kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri. Semua pihak harus terlibat membangun ekosistem yang kuat,” katanya.
Apresiasi juga disampaikan Staf Ahli Wali Kota Bidang Pemerintahan, Sosial, dan Kemasyarakatan, M. Syahrudin Hajar. Ia menekankan pentingnya sinergi dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong inovasi.
“Kolaborasi yang erat akan menjaga warisan budaya sekaligus melahirkan inovasi yang membanggakan bagi Palembang,” ujarnya.
Diskusi berlangsung interaktif dengan panduan Dina Tanjung. Sejumlah pelaku seni turut menyampaikan pandangan, di antaranya Randi Putra Ramadhan dan Cek Eri Tanjak.
Kegiatan ini juga dihadiri berbagai tokoh, termasuk Sultan SMB IV RM Fauwass Diraja, perwakilan dinas, komunitas seni, serta pegiat budaya lintas disiplin. Kehadiran mereka mencerminkan kuatnya jejaring kebudayaan di Palembang.
Menjelang waktu berbuka puasa, diskusi tetap berlangsung dinamis dan melahirkan semangat baru bagi para seniman untuk terus menjaga serta mengembangkan seni budaya daerah.
Para pelaku seni berharap forum serupa dapat berlanjut dengan langkah nyata, seperti penyusunan regulasi, penyediaan ruang ekspresi, hingga pengakuan profesi seniman sebagai bagian penting penjaga identitas budaya.
Editor: Redaktur TVRINews





