FAJAR, SEMARANG — Ada fase dalam sebuah musim ketika pertandingan bukan lagi sekadar soal angka di papan skor, melainkan tentang membangun ulang keyakinan. Bagi PSIS Semarang, momen itu tampaknya tengah datang sekarang.
Di tengah tekanan zona merah dan performa yang belum stabil, wacana uji coba melawan PSM Makassar bukan sekadar agenda pelengkap. Ia bisa menjadi titik balik—ruang untuk menguji mental, mengukur kemampuan, sekaligus menantang batas diri sebelum benar-benar bertarung habis-habisan di kompetisi.
PSM, sebagai tim dari kasta tertinggi atau Super League, menghadirkan standar yang berbeda. Menghadapi tim dengan level permainan lebih tinggi bukan hanya soal mencari kemenangan, tetapi tentang membiasakan diri berada dalam tekanan yang lebih besar. Jika mampu mengimbangi—atau bahkan mengalahkan—PSM, PSIS akan mendapatkan suntikan kepercayaan diri yang sulit dibeli oleh sesi latihan biasa.
Di sinilah nilai strategis dari laga uji coba itu. Ia menjadi simulasi paling mendekati “pertandingan sesungguhnya” sebelum PSIS kembali berjuang di Championship League 2025/2026.
Dalam waktu dekat, Mahesa Jenar akan menjamu Persipal Palu di Stadion Jatidiri pada 29 Maret. Laga tersebut bukan sekadar rutinitas kompetisi, melainkan pertaruhan untuk keluar dari jeratan papan bawah.
Pelatih PSIS, Andri Ramawi, memahami betul bahwa persoalan timnya belum selesai. Salah satu yang paling kentara adalah penyelesaian akhir—masalah klasik yang terus berulang.
“Kami masih berbicara soal finishing. Uji coba melawan tim EPA U-20 sebenarnya belum bisa dijadikan tolok ukur karena kami bisa mencetak empat gol,” ujar Andri.
Kemenangan besar atas tim muda memang memberi ruang optimisme, tetapi tidak cukup untuk mengukur kesiapan menghadapi tekanan kompetisi. Perbedaan kualitas lawan membuat PSIS relatif nyaman, sesuatu yang justru jarang mereka rasakan dalam pertandingan resmi.
“Hal itu juga karena secara kualitas lawan berada di bawah. Tapi setidaknya bisa menjaga atmosfer kompetisi,” katanya.
Karena itulah, menghadapi tim seperti PSM menjadi relevan. Ini bukan lagi soal mencetak banyak gol, melainkan bagaimana PSIS bertahan, mengatur ritme, dan mengambil keputusan dalam tekanan tinggi—hal-hal yang selama ini menjadi titik rapuh.
Namun, rencana itu tidak datang tanpa kendala. Waktu persiapan yang sempit membuat opsi uji coba menjadi terbatas. Tim baru kembali berkumpul pada 23 Maret, menyisakan waktu kurang dari sepekan sebelum menghadapi Persipal.
Dalam situasi tersebut, risiko cedera menjadi pertimbangan serius. Satu kesalahan dalam pengelolaan fisik pemain bisa berujung pada kehilangan sosok kunci di laga penting.
“Sepertinya agak sulit karena ada risiko cedera dan lain-lain. Tapi dalam beberapa hari ini kami tetap mencoba mencari kemungkinan. Kalau pun tidak bisa, kami akan memaksimalkan internal game,” kata Andri.
Meski begitu, komunikasi dengan PSM tetap dijajaki. Harapannya sederhana: menemukan lawan yang bisa benar-benar “memaksa” PSIS keluar dari zona nyaman.
Di sisi lain, uji coba melawan PSIS Semarang U-20 di Lapangan POJ City tetap memberikan gambaran awal. Setidaknya, tim pelatih bisa melihat bagaimana materi latihan mulai diterjemahkan dalam permainan.
“Tujuan dari uji coba ini untuk melihat apa yang sudah disiapkan sebelumnya. Persiapan latihan yang sudah dilakukan beberapa waktu terakhir kami coba aplikasikan dalam pertandingan,” tutur Andri.
Dari sana, sejumlah pola mulai terbentuk. Taktik, sistem, hingga alur permainan perlahan menemukan bentuknya. Namun, pekerjaan rumah tetap ada—terutama di sektor pertahanan yang masih kerap kehilangan koordinasi.
Situasi ini menegaskan satu hal: PSIS belum sepenuhnya siap, tetapi juga tidak punya banyak waktu untuk menunggu kesiapan itu datang dengan sendirinya.
Di tengah tekanan tersebut, laga uji coba melawan PSM—jika benar terealisasi—akan menjadi lebih dari sekadar pertandingan persahabatan. Ia bisa menjadi ujian mental, ruang pembuktian, sekaligus momentum untuk membangun kembali identitas tim.
Sebab pada akhirnya, bertahan di Liga 2 bukan hanya soal taktik dan teknik. Ia adalah soal keberanian menghadapi tekanan—dan keberanian itu sering kali lahir dari pertandingan-pertandingan seperti ini.





