Potensi Kerugian Devisa dari Industri Pariwisata RI karena Konflik TImur Tengah Capai Rp184,8 Miliar per Hari

viva.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Pemerintah menegaskan Indonesia akan segera melakukan reformasi sektor pariwisata guna memitigasi dampak krisis global, khususnya akibat konflik di Timur Tengah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, sektor pariwisata saat ini tengah menghadapi tekanan akibat terganggunya konektivitas global imbas konflik tersebut.

Baca Juga :
Eskalasi Konflik Masih Tinggi, Nurul Arifin Dukung RI Tunda Kirim Pasukan Perdamaian ke Gaza
Ekonom Ingatkan RI Bersikap Tegas soal Agresi AS-Israel ke Iran, Ini Alasannya

“Indonesia perlu segera melakukan reformasi untuk memitigasi kerugian akibat krisis global, serta membangun fondasi pariwisata dan destinasi yang kompetitif, tangguh, dan berdaya saing tinggi di kancah internasional,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2026.

Kementerian Pariwisata memproyeksikan potensi kehilangan sekitar 5.500 wisatawan mancanegara (wisman) serta potensi kerugian devisa mencapai Rp184,8 miliar per hari jika tidak segera dimitigasi dampak dari gejolak ini.

Sementara, laporan InJourney Airports untuk periode akhir Februari hingga 10 Maret 2026 mencatat gangguan pada sembilan rute internasional di Bandara Soekarno-Hatta dan Bandara Ngurah Rai. Gangguan ini berdampak pada mobilisasi 47.012 penumpang. Tantangan tersebut juga diperparah oleh kenaikan harga avtur.

Airlangga menegaskan sektor pariwisata tetap penting untuk difokuskan, mengingat kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian nasional. Pada 2025, sektor ini menyumbang Rp945,7 triliun atau setara 3,97 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Selain itu, jumlah kunjungan wisman tercatat mencapai 15,39 juta orang atau tumbuh 10,7 persen secara tahunan (yoy). Dari sisi devisa, sektor ini menghasilkan 18,91 miliar dolar AS serta menopang 25,91 juta tenaga kerja. Dalam kesempatan tersebut, Menko juga memaparkan sejumlah langkah strategis yang dapat dilakukan pemerintah agar pariwisata Indonesia tetap kompetitif.

Salah satunya adalah perluasan kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK). Berdasarkan kajian World Travel and Tourism Council, kebijakan BVK terhadap 169 negara sejak 2015 mampu mendorong pertumbuhan wisatawan hingga 15 persen per tahun serta menciptakan sekitar 400.000 lapangan kerja baru di sektor pariwisata. Saat ini, Kementerian Pariwisata telah mengidentifikasi 20 negara potensial sebagai target perluasan.

Selain itu, pemerintah juga perlu memperkuat pasar domestik dengan memanfaatkan momentum libur Lebaran sebagai penopang utama. Strategi ini dapat dilakukan melalui konsep micro-tourism, yakni pengembangan destinasi dalam radius perjalanan darat dengan pengalaman wisata yang lebih mendalam.

Baca Juga :
Bos BI Akui Perang di Timur Tengah Bikin Prospek Ekonomi Global Makin Buruk
Airlangga Tegaskan Program MBG dan KDMP Tak Terdampak Efisiensi Anggaran
Rupiah Menguat Dibayangi Isu Defisit APBN & Naiknya Tensi Geopolitik Timur Tengah

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemotongan Tunjangan Anggota DPR dan Menteri Lebih Efektif di Tengah Krisis Global
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Gerakan HAM Dorong Polri Ungkap Tuntas Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis
• 7 jam lalutvrinews.com
thumb
Kasus Mayat di Tumpukan Sampah di Sumut: 2 Pelaku Ditangkap, Salah Satunya Mantu
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Puncak Arus Mudik Lebaran 2026 di Terminal Lebak Bulus Diprediksi Terjadi 17–18 Maret
• 13 jam lalupantau.com
thumb
KAI Ungkap 430 Ribu Tiket KA Masih Tersedia!
• 6 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.