Saat puluhan bandar udara panen penumpang, Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati tetap sepi saat Lebaran. Bandara terbesar kedua di Indonesia ini tidak memiliki rute domestik.
Data PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports) menyebutkan, 37 bandara sibuk melayani 1,53 juta pemudik dalam tiga hari arus mudik Lebaran, 13-15 Maret 2026. Angka penumpangnya diperkirakan terus meningkat hingga Rabu (18/3/2026).
Salah satunya Bandara Soekarno-Hatta. Bandara tersibuk di Nusantara ini diproyeksi bakal melayani lebih dari 3 juta penumpang selama arus mudik Lebaran tahun ini.
Bahkan, di Bandara Husein Sastranagara Bandung, dilaporkan terjadi lonjakan penumpang hingga 121 persen pada Minggu (15/3/2026).
Akan tetapi, kesibukan itu tidak terlihat di Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Bandara internasional yang diresmikan Presiden ke-7 Joko Widodo itu tercatat tidak membuka layanan penerbangan domestik.
Kondisi bandara yang menghabiskan anggaran pembangunan dan pembebasan lahan sekitar Rp 5 triliun ini sepi penumpang. Tak ada suasana ramai para pemudik di terminal keberangkatan.
Padahal, BIJB Kertajati memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu melayani pesawat berbadan lebar. Apron BIJB juga bisa menampung 22 pesawat.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BIJB Kertajati, Ronald Sinaga saat diwawancarai Kompas pada Rabu (18/3/2026) mengakui minimnya jumlah kunjungan ke bandara dengan luas lahan mencapai sekitar 1.800 hektar. Salah satu pemicunya, layanan penerbangan domestik telah terhenti sejak Juli tahun 2025 hingga kini.
Saat ini, BIBJ hanya melayani penerbangan internasional. Terdapat penerbangan rute Singapura-BIJB dua kali dalam seminggu. Rute ini dilayani Maskapai Scoot.
”Kemungkinan maskapai Scoot akan menambah jumlah penerbangan tiga hingga empat kali dalam seminggu selama liburan Lebaran," tuturnya.
Ia mengaku telah berupaya menjalin komunikasi dengan sejumlah maskapai penerbangan di Indonesia. Sayangnya, para maskapai ini menolak beroperasi dengan alasan tidak ada potensi penumpang.
"Kami berharap bandara yang menghabiskan biaya triliunan rupiah ini bisa kembali melayani penerbangan domestik. Diperlukan upaya para pihak terkait ada maskapai yang beroperasi di BIJB," tambahnya.
Kondisi minimnya penumpang domestik sudah terlihat sejak awal tahun ini. Pada Januari 2026, hanya 179 kunjungan wisatawan mancanegara yang tercatat melalui bandara terbesar di Jabar tersebut.
"Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara pada bulan Januari juga turun 24,15 persen jika dibandingkan data Januari 2025,” ujar Kepala Badan Pusat Stastistik Provinsi Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati.
Sebelumnya, Ronald mengungkapkan, terdapat empat faktor pemicu sepinya penumpang di BIJB. Pertama, penurunan drastis jumlah pesawat setelah pandemi Covid-19. Dari awalnya 750 unit menjadi 330-350 unit pada tahun lalu.
Kedua, kondisi ekonomi masyarakat dan efisiensi anggaran untuk perjalanan. Kini, masyarakat lebih selektif menentukan skala prioritas untuk berlibur dengan pesawat di tengah situasi ekonomi saat ini.
Ketiga, destinasi wisata di daerah sekitar kawasan BIJB belum sepenuhnya terbentuk. Empat kabupaten yang dekat dari BIJB adalah Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan Kuningan.
Keempat, faktor kehadiran kereta cepat Whoosh yang mempercepat perjalanan Jakarta-Bandung dalam waktu 30 menit. Whoosh berdekatan langsung dengan Bandara Halim Perdanakusuma di Jakarta Timur.
”Perjalanan aparatur sipil negara sekarang berkurang setelah adanya efisiensi anggaran. Masyarakat juga sama, yakni mengurangi perjalanan dengan pesawat,” kata Ronald.





