Ratusan anak-anak turut menjadi korban imbas serangan Israel dan AS ke Iran. Termasuk salah satunya adalah bayi berumur 3 hari.
Hal itu disampaikan oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi usai bertemu Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), Jusuf Kalla, di Markas Pusat PMI, Jakarta, Rabu (18/3).
“Lebih dari 250 anak-anak di negara kami menjadi korban sampai dengan sekarang atas serangan Amerika Serikat dan zionis Israel,” ujar Boroujerdi.
Ia menegaskan, mayoritas korban dalam konflik tersebut berasal dari kalangan sipil. Rentang usia korban pun sangat luas, mulai dari lansia hingga bayi yang baru lahir.
“Korban paling tua berusia 88 tahun, sementara yang paling muda adalah balita berusia tiga hari,” katanya.
Boroujerdi menyebut, serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga merusak berbagai fasilitas sipil.
Puluhan ribu rumah warga dilaporkan hancur, sementara infrastruktur penting seperti rumah sakit, sekolah, hingga situs warisan budaya turut menjadi sasaran serangan.
“Begitu banyak keluarga dan anak-anak yang tidak berdosa menjadi korban. Rumah sakit, sekolah, dan berbagai infrastruktur sipil dijadikan target dalam langkah yang tidak manusiawi,” ujarnya.
"Walaupun ini merupakan situasi hari-hari bulan suci Ramadan dan sebentar lagi adalah Idul Fitri, tetapi masyarakat di Iran tidak bisa merayakan momen penting ini," sambungnya.
Sementara itu, Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla menegaskan bahwa Indonesia memandang situasi ini sebagai krisis kemanusiaan.
JK menyatakan Indonesia akan terus mendorong bantuan bagi masyarakat sipil terdampak, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Indonesia selalu berpihak pada kemanusiaan, membantu masyarakat sipil yang menjadi korban perang,” kata JK.
JK menambahkan, bantuan yang disiapkan akan difokuskan pada kebutuhan medis dan disalurkan melalui jalur kemanusiaan internasional, termasuk jaringan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.





