BANDUNG, KOMPAS — Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menggunakan pesawat jet milik pemerintah untuk meninjau kemacetan panjang di Pelabuhan Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (17/3/2026). Hal ini mengundang kritik dari sejumlah pihak karena Dudy dinilai tidak berempati dengan kemacetan berjam-jam yang dialami para pemudik.
Kunjungan Menhub Dudy Purwagandhi itu antara lain dibahas oleh akun @ZakkiAmali di media sosial X pada Selasa. Hingga Rabu (18/3/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, postingan tersebut sudah dilihat lebih dari 147.000 kali. Penggunaan pesawat jet itu kemudian viral di media sosial dan menuai kritik dari warganet.
Sebelumnya, seperti diberitakan Kompas.id, Senin (16/3/2026), antrean kendaraan mencapai sekitar 45 kilometer pada tiga hari lalu. Akibatnya, sejumlah pemudik yang kelelahan dilaporkan pingsan lantaran tidak kuat menunggu lama.
Sejumlah warganet menilai, Menhub tidak peka dengan kondisi para pemudik yang mengalami kemacetan lebih dari enam jam. Bahkan, ada pemudik yang harus menahan buang air kecil hingga berjam-jam karena terjebak di tengah kemacetan.
”Yang warga butuhkan adalah ide dan kebijakan. Bukan meninjau, apalagi menggunakan jet. Pejabat Indonesia cara berpikirnya begini terus,” kata salah seorang warganet bernama Fahruddin.
Sementara itu, pengamat kebijakan publik dari lembaga Perkumpulan Inisiatif, Nandang Suherman, menilai, penggunaan pesawat jet oleh Menhub ke Pelabuhan Gilimanuk menunjukkan sikap pejabat publik yang tidak memiliki rasa empati terhadap kondisi yang dialami pemudik.
”Sikap ini menunjukkan matinya rasa kepekaan terhadap situasi kemacetan yang dialami para pemudik. Seharusnya dia fokus untuk secepatnya mengurai kemacetan di pelabuhan,” kata Nandang.
Nandang pun berpendapat, penggunaan jet tidak sesuai kebijakan efisiensi yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto di tengah kondisi ekonomi saat ini akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
”Seharusnya pejabat publik menghemat anggaran negara saat ini. Para pemudik yang terjebak kemacetan menuju Pelabuhan Gilimanuk membutuhkan solusi agar bisa berlebaran di kampung halamannya,” ujarnya.
Sikap ini menunjukkan matinya rasa kepekaan terhadap situasi kemacetan yang dialami para pemudik. Seharusnya dia fokus untuk secepatnya mengurai kemacetan di pelabuhan.
Dalam keterangan tertulis dari Kemenhub, Dudy mengatakan, kemacetan ini menjadi pembelajaran agar tidak terulang di kemudian hari. Dia menyebut, Kemenhub bersama pemangku kebijakan terkait terus berupaya mengurai kemacetan dan kepadatan antrean kendaraan di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk.
”Saya sangat menghargai apa yang sudah dilakukan sehingga dalam beberapa hari kemacetan yang sampai 20 kilometer bisa mulai teratasi. Sekarang antrean kendaraan sepanjang 8 kilometer,” kata Dudy.
Dudy menambahkan, Kemenhub telah melakukan sejumlah langkah penanganan kemacetan di Gilimanuk melalui kolaborasi dengan Korlantas Polri dan PT ASDP Indonesia Ferry (ASDP).
Adapun langkah-langkah yang sudah dilakukan antara lain mengoperasikan kapal-kapal besar, penambahan kapal menjadi 35 kapal oleh ASDP, mengoptimalkan buffer zone, serta menerapkan sistem tiba-bongkar-berangkat (TBB) sebanyak 25 kapal guna mempercepat operasionalisasi kapal.
”Dengan dilakukannya langkah-langkah tersebut, harapannya terjadi pengurangan kepadatan serta arus lalu lintas bisa berjalan normal kembali dan kepadatan bisa terselesaikan sebelum hari raya Nyepi,” ujarnya.





