Ekonom Ramai Perkirakan Gejolak Perang Bisa Picu Defisit APBN Tembus 3%

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Para lembaga kajian ekonomi Indonesia memperkirakan defisit APBN bisa melebar hingga melampaui batas 3% terhadap PDB. Ini berpeluang terjadi melalui dampak perang berkepanjangan terhadap harga minyak dunia maupun nilai tukar rupiah. 

Untuk diketahui, defisit APBN 2026 ditargetkan mencapai Rp689,1 triliun atau 2,68% terhadap PDB. Target itu ditetapkan berdasarkan di antaranya asumsi nilai tukar rupiah pada level Rp16.500 per dolar Amerika Serikat (AS), dan harga minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP) US$70 per barel. 

Dalam kajian terbaru Center of Reform on Economics (Core) Indonesia bertajuk Awas Efek Domino Konflik Timur Tengah, lembaga tersebut melakukan simulasi dampak perang terhadap defisit APBN. Ada tiga asumsi nilai tukar yang digunakan yakni Rp16.800, Rp17.000 dan Rp18.500 per dolar AS. 

Sementara itu, terdampat empat skenario kenaikan harga minyak sejalan dengan eskalasi perang yakni US$72 per barel, US$87 per barel, US$105 per barel apabila penutupan Selat Hormuz berlanjut, dan terburuk US$130 per barel. 

Dari hasil simulasi, Core mendapati beban subsidi energi berpotensi membengkak hingga hampir tiga kali lipat dari angka baseline yaitu Rp210 triliun menjadi Rp656 triliun. Ini bisa terjadi apabila skenario terburuk depresiasi rupiah menyentuh Rp18.500 per dolar AS. 

"Yang lebih mengkhawatirkan, defisit APBN sudah berpotensi melampaui ambang batas 3% terhadap PDB bahkan pada Skenario 2, ketika harga minyak US$87 per barel. Pada kondisi nilai tukar Rp17.000 per dolar AS dengan harga minyak di level US$87 per barel, defisit APBN diproyeksikan mencapai 3,13% terhadap PDB," dikutip dari kajian tersebut, Selasa (17/3/2026).

Baca Juga

  • Investor Asing Lepas SBN Rp11,6 Triliun Pekan Kedua Maret 2026, Dipicu Kekhawatiran Pelebaran Defisit
  • Tunggu Instruksi Prabowo, Purbaya Sebut Perppu Defisit APBN Belum Diperlukan
  • Airlangga Klarifikasi soal Perppu Defisit APBN, Itu Skenario Krisis

Skenario terburuk yang dihasilkan Core adalah nilai tukar rupiah menyentuh Rp18.500 per dolar AS dan harga minyak US$130 per barel. Pada kondisi tersebut, defisit APBN bisa melebar dari target Rp689,1 triliun ke Rp1.135 triliun atau 4,41% terhadap PDB. 

Adapun berdasarkan pemberitaan Bisnis, nilai tukar rupiah ditutup pada harga Rp16.997 per dolar AS, Selasa (17/3/2026). Sementara itu, harga minyak pada hari yang sama untuk jenis Brent pengiriman Mei naik ke US$103,04 per barel dan West Texas Intermediate (WTI) US$96,03 per barel. 

Core pun memberikan sepuluh rekomendasi jangka pendek. Salah satunya adaah menjaga batas defisit tidak melewati 3% dengan meninjau kembali alokasi anggaran program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). 

"Kedua program tersebut secara total menyerap anggaran sekitar Rp418 triliun, sehingga menjadi belanja pemerintah pusat yang paling relevan untuk dievaluasi," bunyi kajian tersebut. 

Perlu revisi anggaran

Pada kajian terpisah, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) memperkirakan defisit APBN 2026 bisa tembus melebihi 3,5% terhadap PDB apabila tidak adanya revisi anggaran. 

Melalui analisis bertajuk 'Dampak Perang Iran-AS Terhadap Perekonomian Indonesia', LPEM UI menerangkan bahwa kenaikan harga minyak dunia ini paling terpengaruh akibat penutupan Selat Hormuz. Sebesar 25% perdagangan minyak dunia melewati selat tersebut. 

"Jika harga minyak bertahan tinggi, defisit APBN berpotensi melebar melampaui 3% PDB tanpa penyesuaian kebijakan/revisi anggaran," dikutip dari situs resmi LPEM UI, Minggu (15/3/2026). 

Seperti halnya kajian Core Indonesia, lembaga think thank ekonomi UI itu menyajikan sejumlah skenario defisit APBN mengikuti tren kenaikan harga minyak maupun depresiasi rupiah. 

Dari sisi harga minyak, setiap kenaikan US$1 harga minyak mentah atau Indonesian Crude Price (ICP) diperkirakan memicu tambahan belanja Rp10,3 triliun dan penerimaan ke APBN Rp3,5 triliun. 

Sementara itu, setiap kenaikan nilai tukar AS terhadap rupiah yakni Rp100 per dolar AS bisa memicu penambahan belanja Rp6,1 triliun dan penerimaan Rp5,3 triliun. 

Dengan demikian, setiap kenaikan US$1 harga minyak bisa memperlebar defisit sebesar Rp6,8 triliun, sedangkan depresiasi rupiah yakni Rp800 miliar. LPEM UI menilai, worst case scenario atau skenario terburuk dampak perang ini bisa memicu pelebaran defisit hingga 3,5% terhadap PDB apabila tidak adanya revisi anggaran. 

"Tanpa revisi anggaran, defisit APBN berpotensi mengalami pelebaran melebihi 3% PDB apabila konflik Iran-AS memicu kenaikan harga minyak yang berkepanjangan," bunyi kajian tersebut. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Zodiak yang Terlahir Paling Hoki
• 19 jam lalubeautynesia.id
thumb
Puasa Tak Sekadar Menahan Lapar, Organ Tubuh Diam-Diam Lakukan Proses Luar Biasa
• 11 jam lalumedcom.id
thumb
TUMI Hadirkan Mediterranean Escape Pop-Up di Senayan City
• 13 jam lalukumparan.com
thumb
Trump: AS Tak Butuh Bantuan untuk Buka Selat Hormuz
• 16 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Polisi Akan Tilang Truk Logistik yang Masih Beroperasi pada H-3 Lebaran
• 16 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.