Bikin Warga Sengsara, Mayat Pejabat Ini Dibiarkan di Tengah Jalan

cnbcindonesia.com
11 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pekerja memproduksi peti khusus jenazah COVID-19 di Kawasan Ciater, Tangerang Selatan, Banten, Selasa (14/4/2020). Peti mati khusus jenazah COVID-19 tersebut dilapisi alumunium plastik di semua sisi untuk mencegah penyebarannya. (CNBC INDONESIA/ANDREAN KRISTIANTO)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah masa kolonial menyimpan beragam kisah, termasuk tentang kebijakan para pejabat yang menuai kritik. Salah satunya adalah cerita mengenai seorang pejabat VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) yang dikenal kontroversial karena kerap mengambil keputusan yang tidak berpihak kepada rakyat.

Akibat kebijakan-kebijakannya itu, ia dibenci masyarakat hingga akhir hayatnya. Bahkan setelah meninggal dan jasadnya terbaring di dalam peti, tidak ada satu pun orang yang bersedia mengantarkannya.


Lantas bagaimana kisahnya?

Dia adalah Qiu Zuguan. Meski tak sepopuler para Gubernur Jenderal VOC, dia menduduki posisi penting sebagai kepala lembaga Boedelkalmer. Lembaga ini bertugas mengurus harta peninggalan orang-orang Tionghoa di Batavia (kini Jakarta).

Pilihan Redaksi
  • Heboh Trump Acuhkan Sekutu Arab, Sudah Tahu Ditarget Iran tapi...
  • Bagaimana Dunia Islam Menemukan Kopi & Menaklukkan Dunia?

Pada masa itu, banyak warga Tionghoa yang kembali ke negeri asal sambil membawa aset mereka. Tugas Qiu adalah menarik pajak dari aset tersebut. Selain itu, dia juga berwenang mengurus ahli waris maupun peninggalan yang ditinggalkan di Jakarta.

Sejarawan Leonard Blusse dalam The Chinese Annals of Batavia (2018) menulis, sejak menjabat pada 1715, Qiu kerap membuat rakyat sengsara lewat kebijakan-kebijakan pajaknya. Hampir semua aktivitas dikenakan pajak atau pungutan.

Salah satunya adalah pernikahan. Warga Tionghoa yang hendak menggelar upacara pernikahan wajib membayar pajak. Beban serupa juga terjadi ketika seseorang meninggal. Keluarga harus membayar pungutan berdalih sertifikat kematian, meskipun sedang berduka. Bisa dibayangkan, rakyat yang sedang dilanda duka tetap diperas oleh pemerintah lewat pembelian sertifikat kematian.

Tak heran bila masyarakat, khususnya warga Tionghoa, memendam rasa benci pada Qiu. Sebagai catatan, pada era VOC memang orang-orang Tionghoa jadi kelompok yang paling sering diperas pajak untuk hal-hal pribadi.

Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008) menyebut mereka bahkan dikenakan pajak kepala dan kuku. Bila menolak membayar, ancamannya adalah denda 25 gulden atau hukuman penjara.

Meski tercekik, warga hanya bisa patuh pada aturan itu jika tidak ingin mendapat konsekuensi penjara. Namun, ketika Qiu meninggal pada Juli 1721, kesempatan untuk melampiaskan kekesalan akhirnya datang. Lazimnya, pejabat atau tokoh terkenal diantar dengan hormat ke pemakaman. Tetapi hal itu tidak berlaku bagi Qiu. Tak seorang pun mau mengangkat petinya.

"Alhasil, peti mati berisi jasad Qiu diletakkan begitu saja di tengah jalan karena tidak ada orang mau mengangkatnya sampai kuburan," tulis Leonard Blusse.

Keluarganya pun kebingungan. Berbagai bujukan agar warga mau mengantar jasadnya ditolak mentah-mentah. Pada akhirnya, mereka terpaksa menyewa warga lokal untuk mengusung peti Qiu ke liang lahat. Meski sudah terkubur, kenangan pahit akibat kebijakan menyengsarakan Qiu tetap melekat kuat di ingatan rakyat.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Belajar dari Sejarah Berikut Proyeksi Pivot Point Penurunan IHSG

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Mudik Lebaran 2026: Volume Lalu Lintas Jabotabek Capai 1,2 Juta, Jasa Marga Siapkan Rekayasa Lalin
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Sinopsis ISTIQOMAH CINTA SCTV Episode 38, Hari Ini Rabu 18 Maret 2026: Rahasia Emran Terbongkar, Hidup Alika Tinggal Hitungan Hari
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Jelang penyitaan aset terpidana Mira Hayati minta waktu
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Bea Cukai Perketat Pengawasan di Soetta Jelang Lonjakan Penumpang Nyepi-Lebaran
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Jelang Lebaran, Harga Daging Sapi di Mentok Tembus Rp160 Ribu/kg
• 20 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.