DEPOK, KOMPAS.com - Dosen Universitas Pamulang (Unpam), Franka Hendra Suma, melakukan perlawanan usai dituding melecehkan wanita di gerbong KRL jurusan Nambo, Sabtu (14/3/2026).
Franka menilai, tuduhan tersebut telah mencemarkan nama baiknya.
Cemarkan nama baikFranka melaporkan balik penumpang tersebut ke Mapolres Metro Depok, Senin (16/3/2026).
"Berita yang viral tersebut sangat merugikan saya, keluarga saya, istri dan anak saya. Dan hal itu sudah mencemarkan nama baik dan kredibilitas saya," ujar Franka, dikutip dari video yang dikirimkan Unpam kepada Kompas.com via WhatsApp, Selasa (17/3/2026).
Franka bersama tim kuasa hukum membuat laporan polisi (LP) terkait Pasal 433 dan Pasal 434 UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang pencemaran nama baik dan fitnah.
"Langkah ini kami ambil sebagai bentuk perlindungan hukum terhadap klien kami dan memang kami menghormati yang namanya presume of innocent atau praduga tidak bersalah," jelas Dadang, kuasa hukum Franka dalam video.
Saat dihubungi Kompas.com, Dadang menyebut kliennya juga melaporkan sejumlah akun yang memviralkan video tersebut ke polisi.
"Tentunya (penumpang juga dilaporkan), kan akun itu bisa membuat sebuah pemberitaan seperti itu ada sumbernya, satu kesatuan tidak terpisahkan," kata Dadang.
Baca juga: Dosen Unpam Bantah Lecehkan Penumpang KRL, Kuasa Hukum: Kereta Lagi Penuh
Sementara itu, Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi membenarkan pihaknya telah menerima laporan dugaan pencemaran nama baik yang dilaporkan Franka.
"Iya, dari PPA sudah terima laporan tersebut (dari Franka). Mereka saling lapor," kata Kasi Humas Polres Metro Depok AKP Made Budi saat dikonfirmasi Kompas.com, Selasa.
Saat ini, laporan polisi (LP) yang baru dibuat masih diproses.
Bantah lakukan pelecehanFranka pun membantah dirinya melakukan pelecehan seksual di dalam rangkaian KRL Commuter Line. Dia menyebut bahwa tuduhan kepadanya berdasarkan informasi yang beredar di media sosial tidak benar.
"Hal tersebut, berita yang viral tersebut sangat merugikan diri saya bahkan keluarga saya, istri dan anak saya. Dan hal itu sudah mencemarkan nama baik dan kredibilitas saya," ujar Franka.
KRL relasi Nambo disebut padat dan penuh penumpang saat Franka naik. Kondisi berdesakan itu disebut membuat penumpang tanpa sengaja tersenggol sehingga membuat kesalahpahaman.
"Berdasarkan keterangan klien kami bahwa saat itu kondisinya sedang penuh KRL-nya," kata Dadang.





