Sekutu Eropa Bersikap Pasif, Trump Ancam Masa Depan NATO Akan Buruk

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Krisis di Selat Hormuz kini memasuki tarik-menarik diplomatik. Pada Senin (16 Maret), Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan tegas, meminta negara-negara sekutu yang sangat bergantung pada jalur tersebut untuk membantu Amerika Serikat dengan mengirim pasukan guna melakukan pengawalan. Ia bahkan memperingatkan bahwa jika NATO terus bersikap pasif, maka konsekuensinya akan serius.

Namun, pada hari yang sama, sejumlah negara inti Uni Eropa menyatakan tidak ingin terlibat dalam konflik dan menolak memperluas aksi militer. Di tengah tarik-menarik berbagai pihak, arus pelayaran di jalur energi penting dunia tersebut untuk pertama kalinya dilaporkan turun menjadi nol.

 “Kami sangat mendorong negara-negara lain yang lebih bergantung pada selat ini dibanding kami untuk membantu menyelesaikan masalah pelayaran di selat tersebut,” kata Trump. 

Ia berharap lebih banyak negara dapat membantu melindungi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Pada Senin, negara-negara Uni Eropa mengadakan pembahasan bersama mengenai langkah yang mungkin diambil, termasuk mempertimbangkan perluasan misi pengawalan “Aspides” (Perisai Laut Merah) ke kawasan Teluk Persia.

Namun, kemudian pada hari itu, Uni Eropa menyatakan bahwa keputusan para menteri adalah tidak akan memperluas misi angkatan laut mereka di Timur Tengah hingga ke Selat Hormuz.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan:  “Para menteri hari ini menegaskan kembali bahwa fokus kami adalah meredakan situasi. Negara-negara anggota tidak tertarik untuk memperluas cakupan operasi.”

Pada hari yang sama, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyatakan bahwa Inggris tidak akan terlibat dalam perang skala lebih besar dengan Iran. Namun, London sedang bekerja sama dengan Uni Eropa, negara-negara Teluk, dan Amerika Serikat untuk merancang rencana pembukaan kembali jalur Selat Hormuz. Inggris saat ini telah mengerahkan sistem penyapu ranjau.

Terkait apakah NATO akan turun tangan, ia menegaskan:  “Saya ingin memperjelas bahwa ini bukan, dan tidak pernah direncanakan sebagai, tugas NATO.”

Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump memperingatkan bahwa jika sekutu tidak membantu melindungi Selat Hormuz, maka NATO akan menghadapi masa depan yang sangat buruk.

Di sisi lain, NATO menyatakan bahwa negara-negara anggotanya telah meningkatkan keamanan di kawasan Laut Mediterania. Negara-negara seperti Jerman, Yunani, Australia, dan Jepang juga menyatakan untuk sementara tidak mempertimbangkan dukungan militer bagi pelayaran di Selat Hormuz, melainkan mendorong penyelesaian melalui jalur diplomatik demi menjamin kebebasan navigasi.

Sementara itu, Iran menyatakan bahwa selat tersebut tetap terbuka, dan serangan yang dilakukan hanya ditujukan kepada pihak yang dianggap musuh.

Menurut laporan media Inggris, The Daily Telegraph, pada 14 Maret jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi nol untuk pertama kalinya, karena kekhawatiran akan serangan Iran.

Saat ini, pemerintahan Trump sedang berdiskusi dengan tujuh negara mengenai upaya menjaga keamanan selat tersebut. Sejumlah media melaporkan bahwa Gedung Putih kemungkinan akan mengumumkan pembentukan koalisi pengawalan multinasional dalam minggu ini. (Hui)

Reporter NTD Television, Yi Jing, melaporkan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Cerita Teuku Rifnu Wikana Jadi Pastor di Film Ikatan Darah
• 8 menit lalukumparan.com
thumb
Puncak Mudik 17-19 Maret 2026, PT ASDP Siapkan Skenario untuk Urai Kepadatan di Pelabuhan Merak
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Soal Pembelian Rudal BrahMos Buatan India-Rusia, Menteri Purbaya Pastikan dari Pos Anggaran Belanja Kemenhan
• 21 jam lalutvonenews.com
thumb
ART Mudik dan Kesibukan Saat Lebaran Bikin Jasa Laundry Laris Manis
• 23 jam lalukompas.com
thumb
Kapolri Lepas 4.009 Pemudik dalam Program Mudik Gratis Polri Presisi 2026
• 6 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.