Harga Emas dan Perak Makin Babak Belur, Tak Punya Tenaga Buat Bangkit

cnbcindonesia.com
7 jam lalu
Cover Berita
Foto: infografis/Ini 8 Perusahaan RI Punya “Gudang” Emas Terbesar, Siapa Jadi Raja?/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas di tengah sikap pelaku pasar memantau eskalasi konflik Iran dan menunggu keputusan bank sentra Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed).

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5004,38 per troy ons atau melandai 0,02% pada perdagangan Rabu (17/3/2026).

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan melemah 3,6% selama lima hari beruntun.

Harga emas masih melemah pada hari ini. Pada Kamis (18/3/2026) pukul 06.21 WIB, harga emas melemah tipis 0,11% ke US$ 4998,97 per troy ons.

Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals, mengatakan pasar emas saat ini mencerminkan "tarik-menarik" antara permintaan aset safe haven dan tekanan inflasi.

Menurutnya, ketegangan geopolitik mendorong minat terhadap emas tetapi tekanan inflasi dan ekspektasi suku bunga tinggi justru menahan kenaikan harga.

"Saya pikir emas kemungkinan akan mencetak rekor baru, tetapi mungkin tidak dalam waktu dekat. Sepertinya tenaga para investor bullish sudah mulai habis," ujarnya, kepada Reuters.

Emas biasanya dianggap aset lindung nilai (safe haven) pada masa ketidakpastian dan inflasi. Namun logam mulia ini menjadi kurang menarik ketika suku bunga tinggi, karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau deposito.

Perang AS-Israel melawan Iran, yang kini memasuki pekan ketiga, telah mengganggu perdagangan energi global dan memicu kekhawatiran lonjakan inflasi.

Baca: Perang Iran Mengalihkan Kekayaan Dunia: Siapa Tertawa & Mana Menangis?

Israel pada Selasa mengklaim telah menewaskan kepala keamanan Iran, sementara seorang pejabat senior Iran mengatakan pemimpin tertinggi baru menolak tawaran de-eskalasi yang disampaikan melalui mediator. Ia menegaskan bahwa Israel dan Amerika Serikat harus terlebih dahulu "dipaksa bertekuk lutut."

Sementara itu, harga minyak internasional naik lebih dari 2% kemarin yang semakin memberi tekanan ke inflasi.

Pelaku pasar juga menunggu keputusan suku bunga dari The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu atau Kamis besok dini hari waktu Indonesia. Pasar berekspektasi bahwa bank sentral AS akan menahan suku bunga tetap.

Bank Jerman Commerzbank dalam catatannya menyebut pertemuan The Fed kemungkinan tidak akan menjadi katalis besar bagi emas, karena ketidakpastian mengenai durasi perang dan gangguan pasokan minyak membuat bank sentral AS cenderung berhati-hati.

Mengapa Harga Emas Tidak Melonjak?

Pergerakan emas di tengah perang seperti saat ini dinilai cukup mengejutkan. Biasanya harga emas melonjak tajam saat krisis ekonomi atau konflik global, ketika investor mencari aset aman.

Contohnya saat Rusia melancarkan invasi besar ke Ukraina, harga emas melonjak drastis.

Remi Bourgeot, ekonom dari French Institute for International and Strategic Affairs, mengatakan sanksi Barat terhadap Rusia saat itu menciptakan "gelombang kepanikan" di kalangan bank sentral, yang kemudian mendorong banyak negara memborong emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun, perang AS-Israel melawan Iran memunculkan respons berbeda di pasar emas.

Baca: IHSG Ambruk Berbulan-bulan, Kapan Kayanya?

James Meadway, mantan penasihat ekonomi pemerintah bayangan Inggris, mengatakan para trader mungkin memperkirakan The Fed akan menghentikan pemangkasan suku bunga, bahkan bisa menaikkan suku bunga untuk merespons inflasi yang meningkat.

"Itu membuat aset berbasis dolar lebih menarik, sementara emas-yang tidak memberikan bunga menjadi kurang menarik," jelasnya.

Selain itu, emas sebenarnya sudah mengalami kenaikan besar sejak awal tahun.

"Harga emas sudah naik begitu tinggi sebelumnya, sehingga reaksi terhadap perang sekarang menjadi lebih kecil," kata Meadway.

Rebecca Christie, peneliti senior di lembaga think tank Bruegel, juga menilai harga emas tahun ini sudah jauh di atas level historisnya.

Ia menambahkan beberapa faktor lain yang menahan kenaikan emas. Di antaranya dolar AS menguat, sehingga harga emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih sulit naik. Kenaikan harga minyak bisa memicu inflasi, yang pada akhirnya membuat dolar lebih menarik dibanding emas.

Bourgeot mengatakan emas tidak lagi dianggap sebagai lindung nilai ketidakpastian sekuat dua tahun lalu. Menurutnya, emas telah menjadi aset yang sangat spekulatif.

Para analis menilai sulit memprediksi arah emas karena situasi Timur Tengah masih sangat tidak pasti.

Christie mengatakan faktor utama yang menahan kenaikan emas saat ini adalah karena harga sudah naik sangat tinggi sebelumnya.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polri Masih Terapkan Contraflow dan One Way di Tol Jakarta-Cikampek Pagi Ini
• 3 jam laluidxchannel.com
thumb
Kemenhub: Penerbangan Internasional Tetap Beroperasi, Tidak Ada Penyetopan Sementara
• 15 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Tiket Mahal, Warga Bekasi Pilih Mudik Gratis demi Hemat Biaya Lebaran
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Perpanjang SIM di Jakarta bisa di lokasi ini pada Rabu
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Deretan Young Guns yang Bisa Dilirik John Herdman untuk Timnas Indonesia di FIFA Series 2026: Stok Melimpah di Semua Lini
• 2 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.