TIM penyelamat masih terus berjibaku mengevakuasi jenazah dari reruntuhan Rumah Sakit Perawatan Kecanduan Omid di Kabul, Afghanistan. Fasilitas rehabilitasi narkoba tersebut hancur lebur setelah dihantam serangan udara Pakistan pada Senin malam (16/3), tepat saat para penghuni sedang berbuka puasa di bulan suci Ramadan.
Serangan yang terjadi sekitar pukul 21.00 waktu setempat ini tercatat sebagai insiden paling mematikan dalam eskalasi konflik antara Pakistan dan Afghanistan belakangan ini. Pemerintah Taliban melaporkan perkiraan korban jiwa mencapai 400 orang, meski angka pastinya masih dalam proses konfirmasi.
Kesaksian Penyintas: "Seperti Kiamat"Ledakan terjadi saat para pasien baru saja menyelesaikan makan malam dan sebagian lainnya tengah melaksanakan salat berjamaah. Mohammad Shafee, seorang pasien berusia 20-an, menceritakan detik-detik mencekam saat bom menghantam dapur tempatnya membantu menyajikan makanan.
Baca juga : Serangan Udara di Kabul Hantam Pusat Rehabilitasi Narkoba, Puluhan Korban Jiwa Tewas
"Saya mendengar ledakan keras dan lari menyelamatkan diri," tuturnya kepada BBC. "Ketika saya kembali, sebagian besar rekan dan orang-orang di ruang makan sudah terkena serangan. Hanya lima dari kami yang selamat."
Ahmad, 50, pasien lain yang sedang menjalani perawatan, menggambarkan situasi di lokasi sebagai pemandangan yang mengerikan. "Seluruh tempat terbakar. Rasanya seperti kiamat," katanya kepada Reuters. "Teman-teman saya terbakar di tengah api, dan kami tidak bisa menyelamatkan mereka semua."
Saling Tuding Pakistan-AfghanistanHingga saat ini, alasan pasti mengapa fasilitas kesehatan tersebut menjadi sasaran masih simpang siur. Pemerintah Pakistan membantah klaim Afghanistan bahwa mereka sengaja menyerang rumah sakit. Pihak Islamabad bersikeras operasi tersebut "secara tepat menargetkan instalasi militer dan infrastruktur pendukung teroris."
Baca juga : Pakistan Gempur Wilayah Afghanistan, Kabul Tuding Warga Sipil Jadi Korban
Namun, saksi mata di lokasi memberikan keterangan berbeda. Omid Stanikzai, seorang penjaga keamanan, sempat mendengar suara jet yang berpatroli sebelum serangan terjadi. "Ada unit militer di sekitar kami. Ketika unit-unit militer ini menembaki jet tersebut, jet itu menjatuhkan bom dan api berkobar," jelasnya.
Duka Keluarga di Tengah ReruntuhanHingga Selasa, suasana haru menyelimuti sisa-sisa bangunan satu lantai yang masih berasap. Puluhan keluarga berkumpul di depan gerbang, menanti kabar kerabat mereka dengan penuh kecemasan.
Seorang ibu dengan sembilan anak tampak putus asa mencari suaminya, Gul Meer, yang sudah dirawat selama tujuh bulan. "Sejak tadi malam serangan terjadi, kami tidak mendapat informasi tentang dia. Saya menunggu daftar nama diumumkan," ujarnya.
Sumber di Departemen Kedokteran Forensik Kabul mengonfirmasi setidaknya 100 jenazah telah diterima. Namun, proses identifikasi berjalan lambat karena banyak jenazah yang mengalami luka bakar parah.
Fasilitas Omid merupakan bekas pangkalan militer AS (Camp Phoenix) yang dialihkan fungsinya menjadi pusat rehabilitasi sejak 2016. Di bawah pemerintahan Taliban, tempat ini menjadi sangat padat, menampung hingga 5.000 pasien meski kapasitas aslinya hanya untuk 2.000 orang.
Pihak PBB kini mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri, mengingat setidaknya enam fasilitas kesehatan di Afghanistan telah terdampak konflik perbatasan sejak akhir Februari lalu. (BBc/Z-2)





