Kuba Terjerumus dalam Kegelapan, Sistem Listrik Nasional Lumpuh, 11 Juta Orang Tanpa Listrik

erabaru.net
13 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Operator jaringan listrik Kuba menyatakan bahwa sistem listrik nasional kembali lumpuh pada Senin (16/3/2026), menyebabkan sekitar 11 juta orang tidak memiliki akses listrik. Menghadapi krisis energi yang semakin parah, Kuba juga telah mulai bernegosiasi dengan Amerika Serikat dengan harapan dapat meredakan situasi saat ini.

Menurut laporan, perusahaan listrik milik negara, Union Electrica de Cuba (UNE), menyatakan melalui media sosial bahwa penyebab pemadaman sedang diselidiki.

Kemudian, UNE menjelaskan bahwa pemadaman ini disebabkan oleh “keruntuhan total jaringan listrik nasional”, dan upaya perbaikan darurat sedang dilakukan untuk memulihkan pasokan listrik.

Krisis ini memang telah berlangsung lama. Sistem pembangkit listrik Kuba yang sudah tua mengalami banyak kerusakan. Bahkan, beberapa wilayah pemadaman listrik hingga 20 jam per hari telah menjadi hal yang biasa. Kekurangan listrik dan krisis pangan juga memicu ketidakpuasan publik sehingga memicu aksi protes anti-pemerintah yang jarang terjadi. Aksi massa pada  14 Maret dini hari sempat berkembang menjadi bentrokan kekerasan.

Presiden Kuba, Miguel Díaz-Canel, pekan lalu menyatakan bahwa selama tiga bulan terakhir tidak ada pasokan minyak yang tiba di Kuba. Saat ini, negara tersebut terutama bergantung pada gas alam, tenaga surya, dan pembangkit listrik termal, sementara kehabisan bahan bakar telah memaksa dua pembangkit listrik berhenti beroperasi.

Laporan media juga menyebutkan bahwa krisis energi ini diperparah oleh terhentinya pasokan minyak, sehingga sistem listrik semakin rapuh.

Setelah Amerika Serikat menahan mantan presiden Venezuela, Nicolás Maduro, jalur pasokan minyak ke Kuba turut terputus. Selain itu, Washington juga mengancam akan mengenakan tarif pada negara mana pun yang menjual bahan bakar ke Kuba, sehingga memperburuk krisis listrik.

Presiden AS Donald Trump dalam beberapa pekan terakhir berulang kali menyatakan bahwa Kuba berada di ambang kehancuran dan ingin mencapai kesepakatan dengan Amerika Serikat. Pada 16 Maret di Gedung Putih, ia mengatakan:  “Saya benar-benar percaya, saya akan memiliki ‘kehormatan’ untuk mengambil alih Kuba. Entah membebaskannya atau mengambilnya, saya bisa melakukan apa pun yang saya inginkan. Faktanya, Kuba sekarang adalah negara yang sangat lemah.” (Hui)

Sumber : NTDTV.com


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Begini Rekayasa Lalin Saat Car Free Night Malam Takbiran di Sudirman-Thamrin
• 11 jam laludetik.com
thumb
Lindungi Anak dari  Konten Berbahaya, Semua Pihak Harus Mengawal Penerapan PP Tunas
• 5 jam lalukompas.id
thumb
Butter Yellow Jadi Warna Wajib Ramadan 2026, Gemas Banget!
• 6 jam laluherstory.co.id
thumb
Bandara Hang Nadim Batam Percepat Antrean Pemudik Melalui Modifikasi Meja X-Ray
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Pemotongan Tunjangan Anggota DPR dan Menteri Lebih Efektif di Tengah Krisis Global
• 4 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.