Jakarta (ANTARA) - Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mengawal nilai tukar rupiah di pasar offshore atau luar negeri meski pasar domestik libur sepekan saat Hari Suci Nyepi dan Hari Raya Idul Fitri, seiring dengan masih tingginya ketidakpastian global akibat perang di Timur Tengah.
Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan BI tetap berada di pasar, tidak hanya pasar domestik tetapi juga pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa henti.
“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga memastikan bahwa BI terus berjaga-jaga dan memantau pasar rupiah-dolar melalui NDF selama 24 jam.
Meskipun pasar domestik libur Lebaran, BI bekerja sama dengan BI New York untuk terus memantau, dan siap melakukan intervensi di pasar NDF global apabila dibutuhkan.
Baca juga: BI kalibrasi intervensi rupiah berdasarkan tiga skenario dampak perang
Baca juga: Gubernur BI: Volume transaksi pembayaran digital tumbuh 40,35 persen
Di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang sangat tinggi, Destry memastikan bahwa BI tetap fokus menjaga stabilitas rupiah.
“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” kata dia.
Di samping itu, imbuh Destry, instrumen operasi moneter juga dioptimalkan untuk memberikan yield menarik, sehingga tetap mendukung stabilitas di tengah meningkatnya risiko global.
Sebagai gambaran, Destry menyebutkan bahwa sepanjang Maret ini rupiah terdepresiasi 1,29 persen secara month to date (mtd), lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang di kawasan, seperti India 1,52 persen dan Filipina 3,71 persen.
“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” ujar dia.
Ia menambahkan perdagangan dengan local currency transaction (LCT) juga terus meningkat. Pada Februari 2026, total transaksi LCT mencapai 4,12 miliar dolar AS, terbesar untuk Tiongkok sebesar 3,026 miliar dolar AS.
Tren ini, catat Destry, menunjukkan meningkatnya kebutuhan transaksi menggunakan mata uang selain dolar di Indonesia.
BI pun terus mendorong pendalaman pasar keuangan mata uang lokal, seperti yuan (CNH/CNY), sehingga pelaku pasar tidak perlu lagi membeli dolar untuk melakukan konversi.
“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” kata Destry.
Baca juga: BI tak lagi singgung sinyal pemangkasan BI-Rate, utamakan stabilitas
Baca juga: BI: Insentif KLM pekan pertama Maret 2026 capai Rp427,1 triliun
Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan BI tetap berada di pasar, tidak hanya pasar domestik tetapi juga pasar offshore guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa henti.
“Kita boleh libur Lebaran di sini, offshore Non-Deliverable Forward (NDF) terus berjalan dan BI New York juga akan terus mengawal rupiah di luar negeri,” kata Perry dalam konferensi pers hasil RDG BI secara daring di Jakarta, Selasa.
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti juga memastikan bahwa BI terus berjaga-jaga dan memantau pasar rupiah-dolar melalui NDF selama 24 jam.
Meskipun pasar domestik libur Lebaran, BI bekerja sama dengan BI New York untuk terus memantau, dan siap melakukan intervensi di pasar NDF global apabila dibutuhkan.
Baca juga: BI kalibrasi intervensi rupiah berdasarkan tiga skenario dampak perang
Baca juga: Gubernur BI: Volume transaksi pembayaran digital tumbuh 40,35 persen
Di tengah volatilitas dan ketidakpastian yang sangat tinggi, Destry memastikan bahwa BI tetap fokus menjaga stabilitas rupiah.
“All effort akan kami lakukan, seperti disampaikan juga oleh Pak Gubernur, seperti yang biasa kita lakukan, intervensi di spot DNDF dan NDF untuk di pasar globalnya,” kata dia.
Di samping itu, imbuh Destry, instrumen operasi moneter juga dioptimalkan untuk memberikan yield menarik, sehingga tetap mendukung stabilitas di tengah meningkatnya risiko global.
Sebagai gambaran, Destry menyebutkan bahwa sepanjang Maret ini rupiah terdepresiasi 1,29 persen secara month to date (mtd), lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang di kawasan, seperti India 1,52 persen dan Filipina 3,71 persen.
“Artinya, kita di kawasan ini memang menghadapi permasalahan yang sama. Tapi di Bank Indonesia tentunya kami terus akan fokus untuk menjaga stabilitas tersebut,” ujar dia.
Ia menambahkan perdagangan dengan local currency transaction (LCT) juga terus meningkat. Pada Februari 2026, total transaksi LCT mencapai 4,12 miliar dolar AS, terbesar untuk Tiongkok sebesar 3,026 miliar dolar AS.
Tren ini, catat Destry, menunjukkan meningkatnya kebutuhan transaksi menggunakan mata uang selain dolar di Indonesia.
BI pun terus mendorong pendalaman pasar keuangan mata uang lokal, seperti yuan (CNH/CNY), sehingga pelaku pasar tidak perlu lagi membeli dolar untuk melakukan konversi.
“Ini juga tentunya akan berpengaruh untuk mengurangi permintaan dolar di pasar domestik karena langsung permintaannya adalah ke mata uang mitra yang bersangkutan,” kata Destry.
Baca juga: BI tak lagi singgung sinyal pemangkasan BI-Rate, utamakan stabilitas
Baca juga: BI: Insentif KLM pekan pertama Maret 2026 capai Rp427,1 triliun





