Menyimak Jalinan Asmara Pasangan Tunagrahita

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Dinamika tersendiri yang berakar pada kebutuhan emosional manusiawi, memberi warna yang begitu indah dalam jalinan asmara yang bisa saja terjadi dan menimpa kepada siapa saja. Tidak terkecuali kepada sejoli muda dan mudi, yang oleh Allah Subhanahu wa ta’ala sama-sama memperoleh keistimewaan. Yah, keistimewaan sebagai penyandang tunagrahita (disabilitas intelektual).

Kemampuan kognitif mereka. Kemampuan menjalani aktivitas atau proses memperoleh pengetahuan, termasuk kesadaran dan perasaan. Kemampuan mereka berusaha mengenali sesuatu lewat pengalaman sendiri. Bisa dikriteriakan di bawah standar rata-rata. Kendati demikian, naluri kemanusiaan mereka masih memberikan tempat di hati untuk mencintai, merindukan, dan membutuhkan pasangan hidup.

Tantangan adaptif signifikan bagi pasangan tunagrahita menjadi bagian dari alur proses pencapaian peluang kenyamanan suatu relasi. Dan, bukan tidak mungkin dalam perjalanan menuju ke arah itu, mereka terkadang juga bakal bertemu dengan risiko sebagai antagonis yang mendistorsi kemulusan jalan pencapaian menuju ke jenjang pernikahan yang menjadi rengkuh harapan dan idaman bersama.

Kenyamanan dan Risiko

Peluang bagi pasangan tunagrahita untuk menemukan kenyamanan atau kebahagiaan suatu jalinan hubungan asmara, karena terdapat kesetaraan kemampuan intelektual dalam memahami dan menerima berbagai fenomena kehidupan.

Selanjutnya ada upaya saling mengerti tanpa penghakiman. Pasangan tunagrahita memiliki keterbatasan yang sama. Dengan demikian, dapat meminimalisasi rasa rendah diri. Atau, suatu kecanggungan yang bisa saja terjadi manakala seorang tunagrahita berpasangan dengan personel yang nondisabilitas.

Dengan kesetaraan keterbatasan, pasangan tunagrahita kerapkali dapat menggapai kemampuan untuk saling mencurahkan perhatian yang tulus, gelimang kasih sayang, dan rasa aman yang relatif stabil. Kesemua hal ini bisa menjadi sumber semangat hidup bagi keduanya untuk semakin bertekad memperjuangkan kebersamaan yang telah terajut.

Terlebih lagi, hal itu memperoleh dukungan dengan kemampuan intelektual mereka yang terbatas, sehingga memungkinkan adanya bentuk komunikasi yang tidak terlalu kompleks. Suatu komunikasi sederhana, karena jalinan hubungan juga berada di atas hal-hal yang tidak rumit sehingga bisa mengangsurkan kenyamanan psikologis.

Kalaupun ada kekurangan dari salah satu pihak dari pasangan tunagrahita itu, prinsip saling mengisi bisa memperoleh realisasi penerapan untuk menjaga keterawatan muruah hubungan dalam suatu komitmen. Kekurangan salah satu pihak dapat tertutupi kelebihan pihak lain yang secara faktual juga memiliki keterbatasan. Hal ini dapat menghadirkan perasaan saling membutuhkan.

Di samping tersedia peluang gapaian kenyamanan dalam komitmen hubungan pasangan tunagrahita, pada sisi lain juga ada risiko yang dapat mendistorsi kualitasnya. Risiko yang tergelar dalam hubungan ini pada lazimnya berkaitan dengan kemampuan fungsional dan dukungan lingkungan.

Raut masalah yang sering menampakkan wujudnya, yaitu ketidakmampuan mengelola konflik. Penyandang tunagrahita pada umumnya mempunyai emosi yang kurang stabil. Karena keterbatasan kemampuan dalam.mencari solusi, keberadaan masalah justru bisa menimbulkan konflik menjurus serius.

Manakala perjalanan asmara pasangan tunagrahita itu kemudian dapat melangkah ke jenjang perkawinan, ada kekhawatiran akan kemandirian kemampuan mereka dalam mengurus rumah tangga dan anak. Yang menjadi fokus kekurangmampuan itu terletak pada pengelolaan keuangan, tanggung jawab domestik, dan pengasuhan anak. Lokasi permasalahannya terletak pada aspek kemandirian.

Oleh karena itu, jalinan asmara pasangan tunagrahita, terutama yang sudah memutuskan untuk membina kehidupan berumah tangga. Agaknya memerlukan pendampingan atau sistem dukungan (support system) yang tepat dari keluarga atau pendamping sosial.

Semua itu guna melempangkan jalan menuju ke akses kemandirian dalam pengambilan keputusan atau pengasuhan anak mereka kelak.

Perlu Pendampingan

Dalam upaya guna memastikan hubungan pasangan tunagrahita tetap sehat dan aman, perlu adanya pendampingan yang berfokus pada proteksi atau perlindungan. Akan tetapi, perlindungan itu tidak lantas meninabobokan atau melemahkan kemandirian mereka, yang berapapun kualitas menaruh penilaian, seharusnya tetap terbentuk.

Adapun beberapa bentuk pendampingan yang relatif efektif untuk mendapatkan realisasi di ranah penerapan, dapat bermula dari persiapan pranikah lewat pendidikan seks. Dalam hal ini, berupa pemberian pemahaman secara konkret. Perlu direkomendasikan penggunaan bantuan visual atau gambar tentang fungsi organ reproduksi, konsep privasi, dan kehamilan.

Seterusnya pendampingan dalam pengambilan keputusan (supported decision-making). Pendampingan ini bertujuan guna membantu mereka melakukan pemetaan konsekuensi dari suatu pilihan. Misalnya untuk menjelaskan soal berbagai kemungkinan yang bisa terjadi manakala pasangan tunagrahita itu mengambil keputusan untuk terikat dalam suatu pernikahan.

Lalu memberikan pelatihan keterampilan sosial dan emosional. Pasangan tunagrahita itu perlu memperoleh ruang untuk menempuh pembelajaran bagaimana cara mengungkapkan keinginan atau perasaan tidak setuju, protes, atau bahkan ketidaksukaan dengan cara yang terkendali dengan baik. Pun, pendampingan dengan mengajarkan teknik simpel guna mengelola amarah saat timbul konflik antarpasangan.

Terhadap pasangan tunagrahita yang sudah menikah dan bekerja, perlu adanya pendampingan secara sederhana terkait dengan sistem manajemen keuangan yang terbimbing. Bila mereka berpenghasilan lewat suatu pekerjaan atau ada dukungan finansial secara teratur dari pihak keluarga, maka pendamping dapat memberi bantuan pada cara mengatur anggaran dalam pemenuhan kebutuhan pokok. Dan, tentu saja untuk menjauhkan mereka dari kemungkinan terkena penipuan.

Termasuk di dalam bentuk pendampingan itu, yaitu menyediakan lingkungan inklusif yang terawasi. Seperti ruang pertemuan yang relatif steril, bisa di lingkungan sekolah luar biasa (SLB) atau komunitas difabel. Bisa menjadi tempat bagi mereka untuk berinteraksi secara alami. Hanya saja memang perlu dan tetap ada pantauan dari pihak yang memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap kondisi mereka.

Penegasan Komitmen

Bagi kalangan tunagrahita memahami konsep abstrak “komitmen” tentu menjadi persoalan yang tersendiri. Oleh karena itu, untuk menerangjelaskannya, memerlukan pendekatan konkret, visual, dan repetitif. Sangat menjadi rekomendasi, penggunaan bahasa yang sederhana dan menjauhi kiasan atau idiom yang malahan bisa membingungkan mereka.

Kata “komitmen” memang terlalu kompleks. Akan lebih menancap ke pemahaman dengan pilihan frasa, seperti “janji untuk dijaga” atau “satu untuk satu”. Bisa pula, dengan memakai bantuan analogi sederhana guna mempermudah pemahaman bagi penyandang disabilitas intelektual itu.

Misalnya dengan mengambil analogi tim sepak bola. Sang pendamping dapat mengatakan susunan kata-kata sederhana, “Komitmen itu seperti bermain dalam satu tim sepak bola. Kamu tidak boleh mencetak gol ke gawang tim kamu sendiri. Atau, di tengah pertandingan pindah ke tim lawan.”

Bisa pula dengan memungut analogi sepatu. Tetap dengan mempertahankan susunan kata-kata yang mudah tercerna daya pemahaman para penyandang tunagrahita, pendamping dapat berkata, “Sepatu selalu berpasangan, kanan dan kiri. Jika satu hilang, yang lain tidak bisa dipakai. Komitmen adalah janji untuk tetap menjadi pasangan yang lengkap.

Konsep “komitmen” tersebut dapat pula disampaikan lewat penyampaian cerita sosial (social stories). Perlu ada sajian narasi pendek dengan karakter-karakter yang mereka kenal. Atau, bisa juga dengan menggunakan nama mereka sendiri guna mendeskripsikan situasi ideal.

Berikut contoh narasi pendek dan sederhana untuk memberi gambaran konkret mengenai konsep “komitmen” tersebut.

Bagus memiliki pacar bernama Ayu. Dan, Ayu mau jadi pacar Bagus. Sejak mereka pacaran, Bagus berjanji hanya sayang pada Ayu. Kalau Bagus sedih, Bagus cerita ke Ayu. Kalau Ayu butuh bantuan, Bagus datang membantu. Keduanya tidak mencari pacar lain, karena keduanya sudah satu tim.”

Narasi sosial tentang “komitmen” dapat memanfaatkan teknik pengulangan dan memberikan fokus pada tindakan yang yang mudah mereka bayangkan. Taruh contoh judulnya Janji Satu Tim.

Bagian Pertama “Satu Tim”:

Bagus dan Ayu adalah teman istimewa. Mereka memutuskan untuk menjadi satu tim. Di dalam tim ini, hanya ada Bagus dan hanya ada Ayu. Tidak ada orang lain lagi."

Bagian Kedua “Janji yang Dijaga”

Janji yang dijaga itu seperti memakai baju kesukaan. Bagus menjaga baju itu agar tidak kotor. Bagus tidak membuang baju itu dan mengambil baju milik orang lain.”

Bagian Ketiga “Cara Menjaga Janji”

Kalau Bagus senang, Bagus cerita ke Ayu. Kalau Ayu sedih, Budi duduk di samping Ayu. Bagus tidak punya pacar lain. Ayu juga tidak punya pacar lain. Mereka jujur satu sama lain. Tidak ada rahasia yang disembunyikan."

Bagian Keempat “Bertanya Jika Bingung”

Kalau Bagus atau Ayu merasa bingung atau marah, mereka tidak pergi sendirian. Mereka bicara pelan-pelan atau bertanya kepada (nama pendamping). Menjaga janji itu hebat. Menjaga janji itu membuat hati tenang.”

Ketika membacakan, agar pasangan tunagrahita merasa lebih terlibat dan mudah memahami pesan yang tersampaikan dalam narasi sosial tentang komitmen, pendamping dapat mengganti nama karakter Bagus dan Ayu dengan nama-nama asli pasangan tersebut.

Visualisasi Gambar

Selain dengan narasi sosial yang sederhana dan pendek, pemberian pemahaman mengenai konsep “komitmen”, juga dapat melalui visualisasi dengan gambar atau dengan kartu emosi. Penggunaan alat bantu visual ini berfungsi untuk lebih menegaskan pemahaman mereka tentang konsep “komitmen” yang mesti mereka rawat dengan sebaik-baiknya.

Contohnya dengan kartu “Boleh” dan “Tidak Boleh”. Tunjukkan kartu dengan gambar dua orang yang bergandengan tangan sebagai representasi sederhana dari tindakan Boleh dalam menjalin suatu komitmen.

Kemudian, bandingkan dengan kartu yang berisikan tindakan Tidak Boleh (Ingkar Janji) yang bergambarkan seorang pemuda meninggalkan seorang gadis yang tengah menangis.

Agar proses pemahaman lebih komprehensif, jika dirasa perlu dapat digunakan satu set kartu komitmen. Misalnya kartu “Satu Tim” dengan ilustrasi gambar, ada seorang pemuda dan seorang gadis berdiri berdampingan di dalam satu lingkaran besar atau sedang memegang bersama satu piala. Latar belakang warna hijau, menandakan hal baik dan benar. Ada pesan tertulis “Kami satu tim. Saling jaga, tidak pindah ke tim lain”.

Kemudian kartu “Hati untuk Satu” (Kesetiaan). Ilustrasi gambar di dalamnya, seorang pemuda menghadiahi bunga atau bantal/balon berbentuk hati warna pink kepada seorang gadis. Beri tanda silang (X) merah besar pada gambar orang ketiga yang berada di pojok. Latar belakang dengan warna cerah. Seraya ada titipan pesan tertulis “Sayang satu orang saja. Tidak cari pacar lain”.

Lalu kartu “Saling Bantu” (Dukungan). Gambar yang terilustrasikan, seorang gadis sedang menangis atau menunjukkan ekspresi wajah kebingungan karena sedang mengalami kesulitan. Pemuda pasangannya berada di samping si gadis, memegang pundak atau memberikan tisu (kalau si gadis menangis). Adapun pesan yang tertulis di bawah gambar itu “Kalau sedih, kami berdua bersama. Tidak ditinggal sendirian”.

Selanjutnya kartu “Bicara Jujur” (Komunikasi). Gambar yang tersaji, sejoli pemuda dan gadis sedang duduk berhadapan. Ada gelembung wicara (bubble dialog) mencurahkan kesedihan dan upaya menghibur. Latar belakang warna putih atau netral. Pesan tertulis yang tersampaikan “Kalau bingung, harus bicara. Jangan disimpan sendiri”.

Selebihnya kartu “Tanya Pendamping” (Keamanan). Ilustrasi gambar, pasangan pemuda dan gadis berdiri tidak jauh dari figur guru atau orang tua dengan gelembung wicara yang berisikan pertanyaan (mungkin cukup berisi tanda tanya [?] beberapa buah secara berderet. Warna latar belakang kuning (hati-hati/butuh bantuan). Pesan tertulis yang tersampaikan “Kalau ada masalah sulit, tanya ke (nama pendamping).

Terdapat sejumlah metode penggunaan kartu. Dengan metode pilih, yaitu meletakkan dua kartu di atas meja. Misalnya kartu “Saling Bantu” dan kartu “Pergi Main Sendiri”. Pendamping mengajukan pertanyaan kepada pasangan tunagrahita itu, “Kalau pasangan sedang sedih, tindakan apa yang harus dilakukan?”

Bisa pula dengan metode mengurutkan kartu untuk membentuk bangunan komitmen positif. Untuk itu perlu satu kartu visual yang berisi ilustrasi gambar sederhana dan jelas (tidak menimbulkan berbagai tafsiran) dengan imbuhan teks untuk lebih memperjelas maksud pesan yang hendak tersampaikan.

Kartu-kartu itu terklasifikasi menjadi dua kategori. Pertama, kartu “Perilaku Positif” (hijau), seperti orang berjabatan tangan, berbicara baik-baik, berbagi makanan, mengucapkan terima kasih, memohon maaf, mendengarkan saat pasangan berbicara, dan berbagi tugas. Kedua, kartu “Perilaku Negatif” (merah), antara lain berteriak, mengambil barang milik orang lain tanpa sepengetahuan pemiliknya, memukul, mencaci maki, atau mengabaikan pasangan.

Salah satu wujudnya berupa “Urutan Hari Baik” (Daily Routine). Bertujuan untuk membantu pasangan tunagrahita dalam penyusunan urutan kegiatan keseharian sehingga dapat terbangun suatu hubungan positif. Langkah 1 pendamping meminta kepada pasangan untuk memilih kartu perilaku positif (hijau) yang akan mereka lakukan pada hari itu.

Langkah 2, pasangan tunagrahita menyusun kartu-kartu tersebut dari pagi hingga malam. Contoh bangun tidur, menyapa dengan senyum, berbagi sarapan, mengucapkan terima kasih. Langkah 3 menggunakan papan “Komitmen Kami” untuk menempelkan urutan kartu-kartu tersebut sehingga mereka dapat dengan mudah melihatnya selama berhari-hari.

Metode lainnya yaitu “Pilah Kartu Perilaku”. Tujuan yang menjadi raihan adalah guna meningkatkan pemahaman pasangan tunagrahita itu mengenai perilaku mana yang baik untuk merawat komitmen. Dan, mana yang sebaliknya. Pendamping memberikan kartu perilaku secara bercampur (hijau dan merah). Mereka memilah kartu ke dua kotak, yakni “Kotak Senyum” untuk perilaku baik atau positif dan “Kotak Sedih” untuk perilaku tidak baik atau negatif.

Selanjutnya ada metode modeling & role playing (simulasi). Pemakaian kartu sebagai paduan aksi. Contoh, pasangan tunagrahita mengambil kartu “Meminta Maaf”. Pendamping memperagakan cara meminta maaf (modeling). Kemudian pendamping meminta mereka mempraktikkannya (role-playing) dan kartu tersebut menjadi acuan.

Adapun prinsip pendampingan. Gambar yang digunakan konkret. Bahasa yang digunakan sederhana alias tidak rumit. Terdapat pengulangan (repetisi) latihan secara rutin atau remedial teaching, sehingga pasangan tunagrahita dapat mengingat relatif lebih lama dan mampu membiasakan diri dengan perilaku positif. Ada pula pendampingan prompting, yaitu memberikan panduan fisik atau verbal manakala pasangan mengalami kesulitan mengurutkan kartu.

Pendekatan yang santai dan hangat bisa menjadi penyedia kondisi sehingga pasangan tunagrahita itu nyaman, tidak merasa seperti sedang dalam tekanan. Perlu pengondisian optimal, sehingga sesi ini seperti manakala sedang mengobrol seraya bermain.

Pembukaan sesi pendampingan dengan membangun suasana nyaman. Bisa bermula dengan “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo (nama pasangan). Hari ini kita mau main sebentar. Saya punya beberapa kartu gambar yang bagus sekali. Gambar-gambar ini bisa jadi contoh bagi kalian berdua agar tetap jadi satu tim yang hebat dan bahagia.”

Pendamping juga perlu memvalidasi rasa aman pasangan tunagrahita itu melalui pernyataan, seperti “Saya senang sekali melihat kalian berdua saling sayang. Karena saya ingin kalian selalu aman dan nyaman, yuk kita kita lihat gambar-gambar ini bareng-bareng ya. Supaya kalian tahu apa saja yang boleh dan tidak boleh kalian lakukan dalam tim kalian.”

Berikut contoh statemen ketika pendamping memulai permainan kartu. “Nah, coba kalian lihat kartu yang pertama ini. Gambar seorang pemuda dan seorang gadis sedang bergandengan tangan. Menurut kalian, ini gambar apa? Apa mereka lagi berantem? Atau, apa mereka sedang saling jaga?”

Untuk menjauhkan kesan pasangan tunagrahita itu seolah sedang dalam proses ujian, posisi pendamping bisa duduk di samping atau melingkar bersama mereka. Agar suasana lebih cair, kalau perlu ada camilan atau penganan kecil yang menemani.

Pendamping dapat memberikan contoh dengan model dirinya sendiri. Misalnya, “Sama seperti saya, kalau saya janji sama teman, saya juga harus jaga janji itu. Lihat kartu ini. Saya juga melakukannya.” Kemudian, jika konsentrasi pasangan tunagrahita itu sudah menunjukkan penurunan, sebaiknya sesi pertemuan berhenti terlebih dahulu. Dan, dapat berlanjut pada kesempatan lain.

Pemahaman konsep “komitmen” dalam bentuk visualisasi, juga bisa mendapatkan realisasi alternatif lain dengan menempelkan foto pasangan tunagrahita itu di album foto. Dalam bentuknya yang sangat mirip dengan buku, memberikan pemungkinan untuk penyusunan foto-foto secara kronologis.

Cara ini dapat membantu pasangan tunagrahita untuk memahami “komitmen” yang berkelanjutan dan bukan hanya satu kejadian. Penyandang tunagrahita akan mampu belajar dengan lebih maksimal melalui pengalaman konkret. Memanfaatkan foto mereka sendiri dalam situasi nyata, potensial untuk menciptakan ikatan emosional.

Album foto yang dapat disentuh secara fisik, dibolak-balik halamannya, mudah ditambahi foto-foto baru seiring dengan perjalanan waktu sehingga dapat ditunjukkan adanya proses pemupukan komitmen itu, dan relatif portabel untuk dibawa ke mana-mana adalah sisi nilai lebihnya. Dengan modal ini, penggunaan album foto dapat meningkatkan keterlibatan aktif dalam proses pembelajaran.

Dengan praktik penerapan “album (foto) komitmen” dapat disusun kejadian dalam wujud urutan. Misalnya di halaman 1 foto berdua seraya berpegangan atau berjabatan tangan sebagai simbol telah terdapat janji komitmen pada mereka. Di halaman 2 terdapat foto yang menunjukkan tanggung jawab. Seperti yang satu sedang merapikan tempat tidur, sedangkan yang lain tengah memasak.

Di halaman 3, foto keduanya saling membantu dan menunjukkan perhatian jika ada yang sedang menemui kesulitan atau mengalami sakit. Di halaman 4, ada foto yang menunjukkan waktu saat mereka berbahagia. Seperti foto saat berlangsung pernikahan mereka atau saat berdua menikmati kunjungan di taman suatu destinasi objek wisata.

Jika perlu dapat digunakan semacam kepsen dengan kalimat sederhana di bawah foto-foto itu. Misalnya “Kami saling membantu”. Foto-foto dalam album tersebut dijepret dari kondisi nyata yang betul-betul terjadi, bukan sekadar pose buatan. Tujuannya agar lebih mudah berada dalam rengkuh perhatian pasangan tunagrahita itu.

Dan, mereka perlu secara rutin terkondisikan untuk melihat album foto itu guna terus menyegarkan ingatan mereka tentang komitmen yang sudah terbentuk sebagai jalinan hubungan suci. Boleh terbilang, album foto merupakan salah satu media visual yang berpotensi mendukung peningkatan pemahaman terhadap konsep abstrak bernama "komitmen" tersebut. Dengan, mengubahnya menjadi nyata.

Untuk lebih memperkokoh pemahaman mereka mengenai konsep “komitmen” perlu penggunaan teknik komunikasi 3L. Lugas, Lambat, Latih. Bisa menggunakan kalimat pendek “Satu pacar saja, tidak boleh dua” (Lugas). Mereka perlu memperoleh waktu yang memadai untuk memproses makna konsep tersebut (Lambat). Meminta mereka mengulangi (merepetisi) dengan kata-kata sendiri untuk memastikan pemahaman mereka di jalan yang tepat (Latih).

Selanjutnya perlu fokus pada perilaku. Para penyandang tunagrahita lebih memahami praktik tindakan daripada pemaparan konsep abstrak. Dalam hal ini, perlu ada uraian kata-kata yang dapat berubah menjadi perilaku positif. Bukan sekadar memaparkan “komitmen adalah dedikasi pada hubungan”. Melainkan yang bisa langsung menjadi perilaku riil, misalnya “komitmen adalah Bagus tetap menemani Ayu saat dia sakit" atau “komitmen adalah Bagus tidak membohongi Ayu”.

Mengecek Pemahaman

Dalam sesi-sesi pembelajaran tentang konsep “komitmen” itu, pendamping agaknya perlu mempersiapkan daftar pertanyaan sederhana guna mengecek pemahaman pasangan tunagrahita setelah membacakan cerita Janji Satu Tim.

Pertanyaan dengan alternatif pilihan jawaban terbatas (A atau B) dapat diterapkan di sini. Sebab, pertanyaan terbuka (mengapa/bagaimana), kadang terlampau sulit bagi mereka untuk memproses.

Misalnya untuk mengecek pemahaman mereka mengenai konsep “Satu Tim”, pendamping dapat mengajukan pertanyaan, “Di dalam tim ini, ada berapa orang? Satu orang atau dua orang?”; “Bagus satu tim dengan siapa? Dengan Ayu atau dengan yang lain?”

Adapun untuk mengecek pemahaman mereka terhadap kesetiaan (eksklusivitas), pendamping bisa melontarkan pertanyaan, “Boleh tidak kalau Bagus cari pacar lagi yang lain?”; “Kalau ada pemuda lain yang ngajak Ayu pacaran, Ayu bilang apa? ‘Boleh’ atau ‘Tidak Boleh’ karena sudah ada Bagus.

Kemudian untuk mengecek pemahaman dukungan emosional, pendamping boleh mengemukakan pertanyaan, “Kalau Ayu menangis (sedih), Bagus harus bagaimana? Menemani Ayu atau pergi main sendiri?”; “Kalau Bagus senang, Bagus cerita ke siapa? Cerita ke Ayu atau diam saja?”

Adapun untuk mengecek pemahaman tentang kejujuran dan keamanan, pendamping bertanya, “Boleh tidak Bagus bohong sana Ayu?” (kejujuran); “Kalau Bagus dan Ayu bingung, tanya ke siapa? Tanya ke (nama pendamping) atau dipendam sendiri?” (keamanan)

Pendamping perlu menggunakan ekspresi wajah yang sesuai sehingga pasangan tunagrahita dapat menangkap isyarat nonverbal yang mendukung pertanyaan. Selain itu beri apresiasi tatkala mereka menjawab dengan benar, seperti tepuk tangan atau ucapan kata “pintar” untuk mengkonstruksi kepercayaan diri mereka.

Bila mereka tampak bingung, maka tidak perlu mendesak mereka untuk memberikan jawaban. Lebih baik pendamping mengulangi bagian cerita yang terkait dengan pertanyaan tersebut.

Kegiatan Sederhana

Pendamping perlu menyiapkan daftar kegiatan sederhana bagi pasangan tunagrahita guna memperkokoh ikatan emosional mereka. Pendamping tetap menunaikan perannya sebagai pengawas, hanya realisasi tindakannya tidak mencolok.

Kegiatan sederhana itu bisa berupa proyek kreatif bersama (karya nyata). Seperti menggambar dan mewarnai bersama dalam satu lembar kertas gambar yang lebar. Kegiatan ini dapat melatih mereka untuk berbagi ruang dan saling menghargai hasil karya pasangan. Bisa pula dengan bersama meronce gelang manik-manik dan hasilnya untuk sang pasangan. Ada benda fisik simbol kasih sayang untuk hadiah satu sama lain.

Ada juga kegiatan mandiri terbimbing (tanggung jawab). Misalnya dengan membuat roti lapis (sandwich) isi telur dadar plus irisan tomat atau mentimun. Ada imbuhan saus sambal. Kegiatan ini untuk melatih kerja sama tim. Terkait dengan pembagian tugas, siapa yang mengocok dan menggorengnya, siapa yang menyiapkan roti tawarnya mengiris tomat dan mentimunnya.

Pilihan lainnya yang bisa jadi lebih simpel adalah kegiatan berkebun ringan. Pembimbing meminta pasangan tunagrahita untuk menanam bunga di dalam pot dan meminta merawatnya bersama. Ini sebuah metafora, untuk “merawat hubungan” agar tumbuh dengan baik.

Kegiatan berikutnya berolahraga dan rekreasi untuk menjaga kesehatan dan kedekatan. Jalan santai atau senam bersama. Aktivitas fisik yang dapat menolong untuk meredakan stres dan menjaga suasana hati (mood) mereka stabil.

Dapat pula menonton film pendek bersama. Tema yang menjadi pilihan adalah tentang persahabatan yang kuat dan penuh loyalitas. Selanjutnya pembimbing dapat menyediakan waktu setelah menonton untuk mengobrol santai dan singkat tentang narasi film pendek yang telah mereka saksikan.

Kegiatan menarik lainnya berupa permainan peran (social roleplay). Misalnya latihan “Bertamu”. Pendamping memberi contoh dan meminta pasangan tunagrahita mempraktikkan cara menyapa, menawarkan bantuan, atau meminta izin jika ingin meminjam barang.

Latihan ini memiliki nilai penting untuk membangun batasan yang sehat (healthy boundaries). Suatu tindakan menetapkan garis tegas tentang apa yang bisa berada di dalam ranah penerimaan dan mana yang tidak dalam relasi fisik, emosional, ataupun waktu dalam upaya melindungi kesejahteraan mental diri sendiri.

Adapun pendampingan ketika berlangsung kegiatan fokus pada proses dan bukan hasil. Pendamping tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kualitas hasil kerajinan atau performa roti lapis yang kurang menarik. Akan tetapi, perhatian pendamping lebih tertuju pada cara pasangan tunagrahita itu bekerja sama. Sisi inilah yang perlu mendapat apresiasi dengan pujian.

Pendamping melakukan observasi interaksi. Pendamping dapat memanfaatkan momen ini untuk melihat apakah ada dominasi salah satu terhadap yang lain dari pasangan. Dengan demikian pendamping dapat memberi arahan perilaku pada sesi berikutnya. Adapun durasi pendampingan 30 - 45 menit agar mereka tidak jenuh dan tidak lelah secara kognitif.

Umpan Balik

Pendamping memberikan umpan balik terhadap pasangan tunagrahita langsung setelah kegiatan. Fokus pada perasaan senang berikut perilaku spesifik yang mereka lakukan dengan benar. Penerapan teknik “Puji-Ajak-Puji”. Pendamping memberikan pujian tulus pada perilaku spesifik. “Bagus, tadi hebat sekali saat bantu Ayu pegang kertasnya agar tidak geser.”

Lalu, ada ajakan dengan pemberian arahan yang perlu mendapat perbaikan. “Nanti kalau mau ambil krayon, jangan lupa bilang ‘pinjam’ ya ke Ayu. Supaya timnya makin kompak.” Kemudian berikan pujian lagi yang dapat menambah semangat. “Tapi secara keseluruhan, kalian berdua hari ini keren banget.”

Pendamping selanjutnya menghubungkan keberhasilan kegiatan dengan konsep komitmen yang telah dia ajarkan sebelumnya. “Lihat, karena kalian bekerja sama sebagai satu tim, gambarnya jadi selesai dan bagus sekali. Tim yang hebat itu memang harus saling bantu." Jika perlu dengan penggunaan gestur, seperti acungan jempol, tepuk tangan kecil, atau tos.

Keberhasilan bersama itu pantas dirayakan. Pendamping bisa mengajak pasangan tunagrahita itu merasakan adanya manfaat lantaran perilaku baik mereka. “Karena kalian tadi rukun, sekarang kalian boleh minum es buah segar sebagai hadiah untuk tim yang kompak.”

Pendamping seharusnya menghindari penggunaan kata “salah” atau “buruk”. Dan, mengganti kata-kata negatif dengan yang mengarahkan. Bukan “Jangan berteriak begitu. Itu jelek”, melainkan “Yuk, bicara dengan suara lembut agar pasanganmu tidak kaget. Tim yang baik itu saling menjaga perasaan.”

Yang muda yang tunagrahita, seperti anak-anak muda lainnya, juga membutuhkan perasaan untuk menyayangi dan untuk disayangi sosok yang menjadi tambatan hati. Mereka tidak butuh banyak penjelasan untuk saling mengerti. Karena bagi mereka, cinta adalah rasa yang telah menetap hati.

Komitmen memang tidak perlu dikatakan, tapi lebih untuk dirasakan. Mengutip beberapa larik puisi karya penyair kelahiran Bone, Sulawesi Selatan pada 14 Januari 1982, M Aan Mansyur dari Antologi Melihat Api Bekerja, “Cinta adalah percakapan dua orang yang tak butuh kamus. Cukup sepasang mata yang saling mengerti.” ***


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Dibuka Menguat ke Level 7.074, Pelaku Pasar Masih Wait and See Kebijakan Suku Bunga Global
• 9 jam lalupantau.com
thumb
Nyaris Gagal Mudik hingga Jakarta Terbuka bagi Pendatang
• 7 jam lalukompas.id
thumb
Dharmayukti Karini MA Salurkan 1.675 Sembako Murah Bagi Pegawai di Lingkungan MA | MA NEWS
• 13 jam lalukompas.tv
thumb
Pemerintah Bakal Lakukan Efisiensi Anggaran, Ini Deretan Kementerian dan Lembaga Belanjanya Kena Potong
• 18 jam lalutvonenews.com
thumb
AS Investigasi Perdagangan, Airlangga Pastikan 1.819 Produk Indonesia Tetap Dapat Tarif 0 Persen
• 12 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.