Membuka jalan bagi pertemuan Trump–Xi? perundingan AS–Tiongkok di Paris fokus pada empat isu
EtIndomesia. Putaran baru perundingan ekonomi dan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok dimulai pada 15 Maret di Paris.
Pertemuan ini dipimpin oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri Tiongkok He Lifeng.
Menurut laporan, selain bertujuan mengatasi hambatan dalam kesepakatan gencatan dagang, pembicaraan ini juga dimaksudkan untuk membuka jalan bagi kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Tiongkok pada akhir Maret, termasuk kemungkinan pertemuan dengan pemimpin Partai Komunis Tiongkok Xi Jinping.
Menurut laporan Reuters, perundingan perdagangan kali ini diperkirakan akan fokus pada empat isu utama:
- Penyesuaian tarif Amerika Serikat
- Ekspor mineral tanah jarang dari Tiongkok ke AS
- Pembatasan ekspor teknologi tinggi dari AS
- Pembelian produk pertanian AS oleh Tiongkok
Namun pihak Amerika juga membawa isu sensitif dalam perundingan tersebut, yaitu penyelidikan “Section 301” yang dilakukan AS terhadap 16 negara termasuk Tiongkok, serta penyelidikan praktik kerja paksa terhadap 60 negara, yang juga mencakup Tiongkok.
Kedua isu ini menimbulkan ketidakpuasan dari pihak Beijing, yang menyatakan bahwa mereka berhak mengambil langkah balasan.
Para analis menilai bahwa kemungkinan tercapainya terobosan perdagangan besar sangat kecil, karena waktu persiapan yang terbatas dan karena perhatian pemerintah Washington, D.C. saat ini lebih terfokus pada perang antara Amerika Serikat–Israel melawan Iran.
Karena itu, baik perundingan di Paris maupun kemungkinan pertemuan Trump–Xi di Beijing, kemungkinan hanya bertujuan mencegah hubungan kedua negara semakin memburuk dan menghindari eskalasi ketegangan.
Menlu Iran Ungkap Hal Mengejutkan: PKT dan Rusia Terlibat dalam Konflik Timur TengahMenteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi baru-baru ini menyatakan bahwa PKT dan Rusia sedang mempertahankan kerja sama militer dengan Iran, guna membantu negara tersebut menghadapi tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Pernyataan ini berbeda dengan jaminan yang sebelumnya diberikan oleh Russia kepada Amerika Serikat bahwa mereka tidak memberikan intelijen kepada Iran. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru mengenai peran Beijing dan Moskow dalam konflik Timur Tengah.
Menurut laporan New York Post pada 14 Maret, Araghchi mengatakan dalam wawancara dengan NBC: “Rusia dan Tiongkok adalah mitra strategis kami. Kami selalu memiliki kerja sama yang erat, dan kerja sama itu masih berlanjut hingga sekarang, termasuk kerja sama militer.”
Walaupun ia tidak mengungkap rincian bantuan militer secara spesifik, Araghchi menggambarkan hubungan tersebut sebagai “kerja sama yang baik.”
Beberapa hari sebelumnya, Araghchi juga sempat mengatakan bahwa keterlibatan Rusia dalam perang “bukanlah rahasia”, dan kemudian ia juga mengungkapkan bahwa Partai Komunis Tiongkok turut terlibat.
Sebelumnya, Amerika Serikat telah berulang kali menuduh Tiongkok dan Rusia memberikan informasi intelijen tentang lokasi aset militer AS kepada Iran, khususnya selama operasi militer yang disebut:
Operation Epic Fury.
Pernyataan terbuka dari Menteri Luar Negeri Iran ini kembali menimbulkan kecurigaan terhadap peran Tiongkok dan Rusia dalam konflik tersebut. (Hui)
Sumber : NTDTV.com





